Cerita Kala Hujan

karya Aurelia Vestrina

AKU terdiam dan termenung sejenak. Ditemani rintikan hujan yang begitu syahdu. Menyelimuti hati dan memori masa lampau yang membuatku meneteskan air mata. Andai aku bisa memutar waktu. Mengulang masa dimana aku pernah merasakan menjadi manusia yang paling beruntung di dunia.

Peristiwa silam terlintas kembali di otak saat aku tengah duduk bersantai di balkon rumah ditemani secangkir kopi hangat buatan ibu. Kuraih sebuah pigura kusam di atas meja yang tak jauh dari tempat dudukku. Seorang anak laki-laki kecil berusia 13 tahun tengah tersenyum, menampakan garis bibirnya yang rapi.

Medali emas melingkar di lehernya. Sekarang anak laki-laki kecil itu telah dewasa. Namun, apa yang telah membuatnya berjaya sampai saat ini tak pernah terlupakan sampai kapanpun. Potret itu adalah Aku. Aku yang kini sudah berusia 16 tahun. Aku yang sudah semakin mengerti bagaimana cara untuk mengejar masa depan. Masa depan yang cerah seperti diharapkan oleh ayah dan ibuku.

Hujan telah membawaku kembali mengingat cerita yang begitu indah saat usiaku masih sangat belia. Saat ayah dan ibu begitu bangga mempunyai anak semata wayang yang begitu membanggakan. Bisa membawa nama tanah air di kaca Internasional dengan suatu kegemaran yang tak pernah terduga. Aku ingat saat pertama kali minta dibelikan sebuah papan catur, Usiaku kira kira masih 12 tahun.

“Bu, aku ingin papan catur seperti yang dipunyai pak RT!” rengekku pada Ibu.

Dengan tatapan manja dan penuh harap Aku merengek pada Ibu. Saat ditanya mengapa aku sangat ingin papan catur, Aku gelagapan.

“A…ku ingin seoerti Ayah. Pandai main catur,” jawabanku meringis.

Ibu tampak menahan tawa. Aku tertunduk malu. Ah, mengapa Ibu tertawa? Apa Aku salah?

“Mengapa putra ibu yang lucu ini? Pernah melihat Ayah bermain catur?” tanya Ibu.

Aku manggut manggut.

“Dimana dan dengan siapa?” tanya ibuku lagi.

“Di rumah Pak RT. Dengan Pak RT juga,” jawabku jujur tanpa banyak basa basi.

Tiba tiba saja tawa Ibuku lepas. Sedikit terbahak tapi tidak terlalu keras. Aku yang masih begitu lugu malah ikutan tertawa tanpa tahu apa yang sebenarnya di tertawakan.

“Lho..lho..! Kok malah ikut tertawa?” tiba-tiba ibu berhenti tertawa dan memberiku pertanyaan yang sulit untuk ku jawab.

“Memang tahu apa yang sebenarnya ditertawakan?” sambungya.

Dengan lugunya Aku menggelengkan kepala sembari sedikit tertawa kecil. Menertawakan diriku sendiri.

“Sudah ya, Yoga. Ibu mau kembali ke dapur,” ujar Ibu padaku sembari menghamburkan pergi begitu saja sebelum Aku mengiyakan kata-katanya. Mulai saat itu juga aku berganti merengek pada Ayahku.

Esoknya, sebelum Ayah berangkat menuju pabrik tempat Ia bekerja, aku berdiri mematung di depan pintu menghalangi jalan ayah.

“Yoga, kenapa berdiri di depan pintu? Kamu tidak bersiap pergi ke sekolah?” tanya ayah begitu sabar menghadapi tungkahku yang seringkali menjengkelkan.

“Aku ingin papan catur!” ucapku sedikit keras.

“Untuk apa?”

“Ayah seperti tidak tahu saja. Papan catur ya untuk main catur.  Kalau digunakan untuk papan tulis kurang besar,” jawabku sedikit melucu.

Aku dan Ayah tertawa bersama di depan pintu dengan posisi yang masih sama.

“Iya, nanti Ayah belikan. Sekarang Yoga harus seekolah. Nanti terlambat,” ujar ayah memberi nasehat.

Kucium tangan ayah penuh takdzim. Aku selalu berdoa dalam hati agar ayah bisa membawa pulang beberapa lembar rupiah agar bisa membelikanku papan catur. Semoga.

Kukayuh sepedaku menuju sekolah. Berharap segera sampai agar tidak terlalu lama terbakar terik matahari. Terlalu takut jika keringat menetes ke seragam sekolah. Pasti baunya merayap ke mana-mana. Bagaimana kecoa-kecoa yang sedang mencari makan.

“Gaaa!” teriak bilal, salah satu teman sekelasku dari kejauhan. Sembari melambaikan tangannya ketika aku baru saja memarkirkan sepeda. Kuhampiri sumber suara yang tak lain adalah bilal.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

“Ayo, main catur! Di kelas teman-teman sedang asyik bertanding. Yang menang dapat traktiran di kantin,” ujar dilal dengan jelas.

“Siapa yang mentraktir?” tenyaku layaknya seorang watawan. Bilal terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dariku.

“Yasiz!” Jawab Bilal sambil memelototkan matanya ke arahku.

“Yasiz? Paling cuma ditraktir mie ayam Bu Jum,” ujarku sedikit megejek.

Tanpa ada balasan Bilal langsung menarikku ke dalam kelas. Saat itu tak dapat kugambarkan dengan jelas bagaimana riuhnya suasana kelasku. Teman-teman adu yel-yel untuk jagoan yang didukung masing masing. Aduh, teriak demi teriak memnggema ditelingaku.

Kenapa Pak Guru belum datang juga? Kelasnya sudah jadi pasar baru. Huh, main catur satu kelas saja seheboh ini, apalagi kalau antar negara? Bisa demo barangkali.

“Selamat pagi, Anak-anak!” suara berat mengejutkan kami semua seakan terkena hipnotis. Lima detik setelah itu, semua sadar bahwa suara berat itu adalah milik Pak Guru.

Para murid berhamburan menuju tempat duduk masing-masing. Akupun melakukan hal yang sama. Bedanya, aku tetap santai berjalan sambal terus memandang bola mata Pak Guru yang di dalamnya sedang berkobar bara api. Kutebar senyum keseluruh penjuru kelas. Semua pandangan mata fokus padaku. Tak ku hiraukan. Hingga bel terdengar, aku bergegas pulang.

“Ayah! ayah!” teriakku sambari menenteng tas skolahku ketika memasuki rumah tepatnya.

“Astaga, Yoga! Baru pulang sekolah kok langsung teriak-teriak tidak karuan. Ada apa?” tiba tiba ibu datang dari arah kamar mandi.

“Apakah Ayah sudah pulang, Bu?” tanyaku sembari lingak-linguk mencari keberadaan ayah.

“Belum. Ayah mengabari akan pulang malam, sedang lembur,” jelas ibu.

“Papan caturku,” aku tertunduk.

“Yoga, kamu kan tidak bisa bermain catur. Lebih baik belajar. Nilaimu banyak yang kurang dari rata-rata. Nanti kalua Ayahmu tahu, Ibu tidak menjamin kalau kau tidak dimarahi. Lagipula apa manfaat bermain catur kamu juga tidak terlalu paham,” jelas ibu panjang lebar menceramahiku.

Kata kata ibu telah menyayat hatiku. Padahal ibu tidak tahu apa yang ingin kulakukan selanjutya. Kalau aku tidak bisa berprestasi di bidang akademis, setidaknya aku masih punya keahlian yang lain. Tapi, ibu seakan telah memutus harapanku dengan kalimat yang begitu tajam menusuk ulu hati. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan masa depan nanti. Bagaimana kalau aku luntang-lantung, sana-sini menjadi pengangguran? Bahkan aku sudah merasa diperalat oleh waktu. Sayangnya, ibu tidak tahu. Bahkan diam-diam aku suka pergi ke rumah Pak RT untuk bertanding main catur di rumahnya. Walaupun aku sering kalah, tapi tidak menjadi masalah. Justru hal itu terus membuatku terpacu untuk meraih kemenangan.

Tanpa pamit, aku keluar rumah. Satu-satunya tujuanku adalah rumah pak RT.

Semoga Pak RT ada waktu luang, doaku dalam hati. Saat itu aku benar-benar merasa jengkel dengan orang rumah. Membelikan papan catur saja seperti seperti mau membelikan mobil sport lamborgini. Susah sekali. Baru saja aku mau mngucap salam Pak RT keluar dari dalam rumah dan menghampiriku yang telah mematung di depan gerbang rumahnya. 

“Ada apa, Ga?” Tanya Pak RT.

“Mari main catur, Pak RT!” ajakku tanpa banyak bicara.

“Tidak bisa, Ga! Saya mau ke kantor kelurahan. Assalamualaikum!” pak RT meninggalkanku begitu saja.

Hari itu aku benar benar merasa sebal. Ayah, ibu, bahkan Pak RT membuat aku begitu jengkel. Dan semua ini karena papan catur, main catur, dan pokoknya semua yang berhubungan dengan catur. Menyebalkan!

Kenapa aku mengajak pak RT main catur? Kan ada Bilal? Emosiku sedikit mereda.

Baru satu langkah kuayahkan kakiku, aku teringat. Rumah Bilal kan jauh. Akhirnya, aku terpaksa kembali ke rumah. Masuk tanpa mengucap salam, berjalan menuju kamar. Membuka lemari dan membolak-balik tumpukan  baju mencari celengan ayam jago milikku dan tersenyum lebar ketika celengan itu berada dalam gemgamanku.

“Maafkan aku! Aku sangat membutuhkanmu saat ini,” aku meminta maaf kepada celengan ayamku. Memang aneh. Namun, menurutku itu hal biasa.

Taarrrr!!! Kubanting celenganku dan kudapati lembaran lembaran rupiah yang jumlahnya tak seberapa. Namun cukup jika aku belikan papan catur. Tanpa banyak membuang waktu, aku lantas pergi ke toko olahraga mengendarai sepedaku.

“Yoga, mau kemana?” teriak ibu melihatku mengayuh sepeda.

“Ke toko olahraga. Sebentar!” kulambaikan tanganku memberikan isyarat bahwa akan pergi.

Setelah itu aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh ibu. Entah ia heran, bingung, atau bahkan pusing. Aku tidak tahu. Sampai akhirnya, apa yang aku cita-citakan terwujud. Waktu tidak bisa lagi memperalatku. Setiap hari aku mnengasah otakku dengan bermain catur. Bakatku yang  terpendam kini muncul kepermukaan. Sampai akhirnya, di usiaku yang ke 13 tahun, aku mewakili tanah kelahiranku Indonesia dalam ajang lomba catur tingkat dunia di Australia. Saat itu aku masih ingat ibuku menangis tiada henti hampir tiga jam gara-gara aku meningalkanya untuk mengikuti lomba.

Demi Ibu dan Indonesia. Bisikku ke telinga ibu sebelum aku berangkat ke bandara. Awalnya aku merasa minder dengan peserta dari negara lain. Namun rasa itu ku buang jauh-jauh. Di sini aku bersaing secara sehat tidak boleh ada kecurangan. Demi masa depan yang  cerah, aku harus menjadi seseorang yang gagah.

Peristiwa tak terduga kualami. Itulah yang membuatku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ini. Aku tidak tahu mengapa mendali emas melingkar di leherku. Mengapa aku berdiri di podium yang tulisannya angka satu. Andai aku bisa memutar waktu, ingin sekali kuulang peristiwa itu. Berdiri di podium tertinggi dunia dengan prestasi yang kumiliki. Setiap kali rintikan hujan datang, aku berjumpa dengannya, memori akan kenangan seakan kembali diputar dalam ruang pikirku. Hujan telah menceritakan semuanya. Tentang keberhasilan seorang anak laki-laki yang kegemaranya bermain catur. Kala hari hujan, ia selalu bercerita padaku.*

* Aurelia Vestrina – XI MIPA 8 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.