
Dahulu …
Ibu adalah Tuhan bagiku
Dahulu …
Ayah adalah nabi untukku
Namun sekarang,
Bila zaman rela menafsirkan
Bagaimana keadaanku
Perasaanku …
Atau sekedar mengatakan pada Tuhan
Bahwa kini, aku bukanlah aku
Aku hanya pecandu lara
Yang menggugat nyata pada dunia
Menentang bagaimana ibu mengasuhku
Membantah ayah dan seputar nasihatnya
Aku bukan lagi aku
Bisakah aku menyalahkan takdir?
Mempertemukanku dengan rindu pada zaman cerianya kelabu
Bahkan ketika mata ibu telah terpejam,
Dan mulut ayah membungkam
Ku tak punya penyesalan, karena penyesalan pada garis hidupku telah usang*
* Ayu Wandana – XI IPS-3 / SMADA 38