
karya Ariantika R.
Bel pulang sekolah terdengar nyaring di telinga para murid SMA 2 Ponorogo. Semua murid berhamburan keluar kelas menuju parkiran, kecuali Gita. Murid perempuan yang satu ini menuju perpustakaan yang berada di lantai dua sekolah. Sudah lama gadis ini tidak memiliki teman, gadis ini juga tak banyak bicara, kecuali bila memang dituntut untuk bicara.
Kesehariannya di sekolah, selalu dihabiskan di perpustakaan seorang diri. Gadis ini cantik, berkacamata, dengan senyum manis, rambut yang hitam legam, dan tinggi badan yang semampai. Mungkin bila diamati, Gita merupakan salah satu tipe yang disukai para cowok. Senyum manisnya itu hilang 2 tahun lalu. Tidak pernah ada yang tahu sebabnya. Teman-teman dekatnya dulu juga tidak tahu apa yang terjadi. Gita semakin menjauh dari kehidupan sosial, dan selalu menyendiri.
Karena sifatnya yang selalu diam itulah, teman-teman menghindarinya. Tidak sedikit pula anak yang mengejeknya bisu dan culun. Untuk menghindari semua itu, Gita selalu pergi ke perpustakaan setiap istirahat atau saat jam pelajaran sedang kosong. Dia mencoba menyibukkan diri dan menghindari dunia luar. Berharap tak seorang pun tahu keberadaannya.
Seperti biasanya, setiap pulang sekolah ia selalu menuju perpustakaan untuk menunggu keadaan sekolah supaya sepi. Namun hari itu ada yang berbeda, biasanya jam pulang sekolah seperti itu, sudah tidak ada lagi yang datang ke perpustakaan. Tapi, ada satu murid laki-laki yang tiba-tiba duduk disampingnya.
“Hai, aku Riki. Kamu Gita kan?”
Gita hanya sejenak melirik remaja tampan itu, lalu fokus kembali pada buku yang ia baca dan mulai menggeser posisi duduknya.
“Kok malah jauhan sih duduknya. Kan aku mau kenalan.”
Gita tak merespon ucapan Riki. Ia mulai melirik jam tangan mungilnya, sudah pukul setengah 3. Itu berarti sudah lewat satu setengah jam dari bel pulang dan sekolah pasti sudah sepi. Gita memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan dan tatapan heran dari Riki. Tak seperti yang dia duga, Riki tak juga menyerah. Riki terus mengikuti Gita dari belakang.
“Hei! Aku hanya ingin berkenalan saja.”
Gita mulai mempercepat langkah kakinya. Di dahinya mulai bercucuran keringat dingin. Tangannya mulai gemetaran.
“Kenapa kamu jalan cepat sekali?”
Sampai di tempat parkir, Gita langsung menaiki motornya dan meninggalkan Riki.
“Oke, sampai jumpa besok.”
Dari spion motornya, Gita melihat Riki melambaikan tangan.
“Kenapa dia gak seperti anak-anak yang lain?” gumam Gita.
Dalam hatinya, Gita senang masih ada anak yang mau berteman dengannya.
“Hati-hati, Gita. Aku tahu kamu pasti lupa denganku,” batin Riki melihat motor Gita melaju meninggalkan sekolah.
Keesokan harinya, saat jam istirahat, Gita berjalan di lorong sekolah menuju perpustakaan. Di tengah langkah kakinya, terdengar sebuah teriakan yang memanggil namanya.
“Gita!! Tunggu!!”
Benar saja, itu adalah suara Riki. Gita mulai mempercepat langkahnya. Namun terlambat, Riki sudah berhasil menyejajarkan langkahnya.
Sampai di perpustakaan, seperti biasa, Riki selalu banyak bicara. Namun kali ini ada satu cerita yang membuat Gita tertarik mendengarkan cerita Riki. Tentang masa kecil Riki.
“Aku dulu punya teman. Aku berteman dengannya dari TK sampai SD. Kami sangat dekat. Dia anaknya cantik, imut dan lucu. Tapi saat memasuki SMP aku harus pindah ke Surabaya karena urusan pekerjaan ayahku. Dan saat aku kembali aku berusaha untuk mencarinya. Dan beruntungnya aku, sekarang aku satu sekolah dengannya,” cerita Riki dengan senangnya.
“Apakah kamu tidak risih berdekatan dengan orang sepertiku?” Gita memberanikan diri untuk bertanya, karena dia sudah mulai kesal dengan sikap cerewet Riki. Walaupun kadang ia terhibur dengan cerita Riki.
“Kenapa aku harus risih? Justru diammu inilah yang membuat menarik. Di saat anak-anak heboh dengan sosial media, kamu malah sibuk membaca dan menyendiri di sini. Apa kamu mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?!”
Saat mendengar pertanyaan Riki, Gita meneteskan air mata. Seolah sedang terjadi hujan di luar, sekarang suasana perpustakaan yang tadinya hening, riuh dengan tangis Gita.
“Tak apa, kamu bisa percaya padaku.”
Gita menatap sekali lagi laki-laki tampan yang mengenakan jas merah almamater jambu, dengan tagname Riki Wardana itu. Senyum Riki menyimpul dengan manisnya. Terbesit keraguan di hati gadis berkacamata itu. Seolah tahu apa yang dipikirkan Gita, Riki tersenyum kembali untuk meyakinkan gadis itu. Walaupun sedikit khawatir kalau Riki akan menjauh darinya. Gita akhirnya bercerita.
“Sekitar 2 tahun lalu, aku pernah pergi liburan ke sebuah taman bermain ternama di Bandung. Namun karena terlalu asik bermain, aku sampai ketinggalan rombongan keluargaku dan sempat diganggu oleh segerombolan anak muda yang tidak jelas asal-usulnya. Aku menangis sendirian di tengah keramaian taman bermain itu tanpa ada satupun orang yang mempedulikanku. Hingga aku mendengar pengeras suara yang memanggil namaku, aku pun langsung menuju sumber suara. Ternyata keluargaku sudah menunggu di sana. Sejak itulah aku memiliki phobia dengan keramaian,” wajah Gita terlihat murung setelah bercerita tentang apa yang pernah dialaminya itu.
“Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kamu ucapkan,” ejek Riki.
Gita hanya tersenyum getir menanggapi gurauan Riki.
“Tak apa, Gita. Aku akan coba bantu kamu untuk menghilangkan phobiamu itu.”
Tergaris sebuah senyum simpul di bibir Gita yang sudah lama tak terlihat. Tiba-tiba Riki menarik tangan halus Gita menuju ke kantin.
“Kita mulai dari sini,“ ajak Riki.
Awalnya Gita bersikeras menolak ajakan Riki. Tapi, tatapan lembut Riki yang meyakinkan, membuat Gita memberanikan diri untuk mengikuti Riki.
“Eh, tumben anak culun makan ke kantin. Biasanya kan i’tikaf di perpus!” teriak salah seorang siswa yang disambut tawa riuh semua siswa yang sedang ada di kantin.
Gita mencoba lari meninggalkan kantin. Namun tertahan oleh tarikan tangan Riki. Mata Gita sudah berkaca-kaca.
“Tak apa. Ada aku,” hibur Riki. Akhirnya Gita terpaksa menuruti Riki.
“Eh, ternyata si Culun makan sama pangeran. Wah, ketiban rejeki nomplok tuh dia,” ejek salah seorang teman sekelasnya.
“Apa salahnya dia makan di sini?! Emang ini kantin nenek moyang loe apa?!” bentak Riki emosi.
“Wusss, sang pangerannya marah tuh!” teriak seorang siswa laki-laki. Hampir saja Riki memukul bocah lakilaki itu, namun tiba-tiba Gita pingsan.
“Gita!!!” Riki segera menggendong Gita menuju UKS.
“Ciee, so sweet banget sih kalian berdua. Cocok banget!” teriak salah seorang siswa di belakang mereka dengan nada mengejek.
Namun, Riki tidak mempedulikan ocehan anak-anak yang mengejek mereka. Yang dipikirannya sekarang adalah Gita, ia takut kalau Gita kenapa-kenapa.
“Gita, maaf,” gumam Riki lirih di tengah perjalanan menuju UKS.
Setelah menunggu dengan khawatir sekitar 10 menit, akhirnya Gita sadarkan diri.
“Kamu gak papa kan, Git?” tanya Riki sambil menyodorkan sebotol air mineral.
“Gakpapa kok. Udah, kamu gak usah bantuin aku lagi. Kamu jadi ikutan diejek sama anak-anak. Padahal kan kamu gak salah apa-apa.”
“Kamu ngomong apa sih Git?? Kita itukan temen. Dan aku pengen bantu kamu. Kamu yakin sama aku, kalau kamu mau coba lagi, kita pasti bakalan berhasil.” Riki tersenyum manis dan menatap Gita dengan lembut untuk meyakinkan Gita.
Hari demi hari berlalu, dan setiap hari juga Riki mengajak Gita ke tempat-tempat yang penuh dengan keramaian. Walau pada awalnya Gita tidak betah dan terus memaksa untuk pergi, lama-kelamaan Gita juga mulai terbiasa. Sedikit demi sedikit phobianya hilang. Teman-temannya pun mulai mau berteman lagi dengannya. Semenjak itu, dia dan Riki sering pergi bersama.
Dari ruang musik, terdengar denting piano yang sangat merdu. Semenjak phobianya hilang, Gita mulai menekuni hobinya selain membaca, yaitu memainkan piano. Suara indah mengalun di antara suasana sepi ruangan itu. Terlihat sepasang mata mengawasi Gita.
“Selalu indah permainanmu. Seperti dulu Gita,” gumam orang tersebut.
“Waaah, ternyata kamu hebat main piano juga ya, kenapa gak pernah bilang?!” teriak Riki sambil bertepuk tangan memasuki ruang musik. Gita hanya tersenyum.
“Ayo mainkan sekali lagi. Temanku juga bisa memainkan piano sama sepertimu, Git!”
Alunan piano terdengar indah sesuai dengan gerakan jemari Gita. Tetesan air mata jatuh tepat mengenai piano yang dimainkan Gita.
“Kamu kenapa nangis?” tanya Gita.
“Nggak, aku gak nangis kok. Ayo pulang!” Riki mengulurkan tangannya yang disambut dengan senyum manis Gita.
“Ayo, Gita!!” ucap Riki sekali lagi. Gita pun menerima uluran tangan Riki.
Hari itu, Gita berjalan dengan Riki menuju tempat parkir.
“Kenapa aku gak dikenalin sama temenmu itu?” tanya Gita tiba-tiba.
“Kapan-kapan aku kenalin ke kamu,” ucap Riki tanpa memandang Gita.
“Terima kasih Riki,” ucap Gita lagi.
“Untuk apa?”
“Untuk bantuanmu selama ini. Kamu udah berhasil ngilangin phobia-ku itu dan jadi orang yang selalu ada buat aku.”
“Sama-sama. Hari mulai gelap. Sepertinya akan turun hujan.”
“Sebelum kita pulang, aku mau bilang kalau aku itu..”
“Kamu kenapa?” tanya Riki menghentikan langkahnya. Ia menatap Gita dengan penuh antusias.
“Tak apa. Mari kita pulang!”
Tergaris senyum simpul di bibir Riki, dan disambut dengan tawa riang Gita. Dua anak berjas merah jambu itu berboncengan meninggalkan sekolah yang sudah sepi itu.
“Lebih baik seperti ini, Gita,” batin Riki.*
* Ariantika R. – XI MIPA 3 / SMADA 36