Perjuangan Menggapai Mimpi

Judul Novel    : Sang Pemimpi

Penulis            : Andrea Hirata

Penerbit  : PT. Bentang Pustaka

Terbit              : Juli, 2006

Tebal               : x+288 halaman (130x205mm)

Buku kedua Andrea Hirata ini bercerita tentang masa SMA tiga orang pemuda, yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron. Mereka bertiga adalah remaja yang berasal dari Belitong dan melanjutkan sekolah di Manggar, SMA Negeri Pertama di Manggar. Untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya, Arai, Ikal, dan Jimbron bekerja paruh waktu sebagai kuli di pasar ikan. Arai adalah yang paling cerdas di antara mereka bertiga, selalu mengutip kata-kata inspiratif dari berbagai sumber “tak semua yang dihitung bisa diperhitungkan dan tak semua yang diperhitungkan bisa di hitung”, sedangkan Ikal yang sangat mengidolakan H. Rhoma Irama akan mengutip kalimat dari lirik lagu raja dangdut tersebut “Darah muda adalah darahnya para remaja”, sedangkan Jimbron yang sangat menyukai kuda akan mengeluarkan kalimat yang tidak jauh-jauh dari bahasan tentang kuda.

Kehidupan SMA adalah perjalanan mencari jati diri. Arai, saat itu jatuh cinta pada teman sekelasnya, Zakia Nurmala, sedangkan Ikal jatuh cinta pada putri seorang Cina, A Ling, dan Jimbron jatuh cinta pada Kuda. Arai yang paling giat mendekati cintanya, dia bahkan belajar bernyanyi dan bermain gitar hanya untuk menggoda Zakiah Nurmalanya.

Setelah tiga tahun menuntut ilmu, akhirnya mereka menamatkan pendidikan SMA-nya, Ikal yang terpengaruh dengan mimpinya Arai untuk menuju ke Paris dan mengelilingi dunia, tidak mau hanya putus sampai di SMA, maka dia dan Arai menggunakan uang tabungan mereka selama ini untuk berangkat ke Jakarta. Ikal diterima di UI jurusan Ekonomi. Dia menjalani masa kuliah yang cukup sulit yaitu kuliah sambil kerja, tetapi akhirnya dia bisa lulus tepat waktu. Namun, mimpi mereka tak hanya sampai di situ. Paris yang menjadi impian mereka belum tercapai, maka Arai dan Ikal berusaha mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah di Paris.

Arai tiba-tiba menghilang, Ikal yang kini sendiri, kerja serabutan untuk bertahan hidup, berahir di kantor pos. Mimpinya untuk ke Paris sudah hilang bersamaan dengan kepergian Arai yang entah kemana. Proposal beasiswa untuk ke Paris tak di gubrisnya lagi.

Beberapa bulan kemudian, Ikal memutuskan untuk mengajukan proposal beasiswa tersebut, meski tanpa Arai. Tak di sangka, Ikal kembali bertemu dengan Arai di kantor Pengajuan beasiswa. Mereka berdua berpelukan dan berjanji akan bersama-sama ke Paris. Ternyata mimpi untuk ke Paris telah mempertemukan mereka kembali.

Sebenarnya novel Sang Pemimpi ini merupakan novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Novel Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata ini memiliki banyak kelebihan, mulai dari segi bahasa dan kekuatan alur yang berusaha mengajak pembaca untuk masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdapat dalam cerita. Hal ini tak lepas kecerdasan Andrea Hirata dalam memainkan imajinasi berpikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual. Selain itu, kelebihan lain daripada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat. Kelihaian sang pengarang dalam mendeskripsika latar yang mengangkat panji-panji kebudayaan tanah kelahirannya, lengkap dengan berbagai kondisi perekonomian, politik, sosial, dan aspek-aspek lain menjadi satu nilai tambah dalam novel ini.

Kekurangan pada novel ini terletak pada konflik cerita yang tidak terlalu tajam. Bisa dikatakan bahwa konflik yang terjadi dalam cerita adalah ketika Ikal memutuskan untuk berhenti bermimpi di tengah-tengah cerita karena berbagai alasan. Namun, Arai berhasil menyadarkannya kembali dan akhirnya Ikal kembali meneruskan mimpi-mimpinya. Selain itu, pada alur cerita setiap bab terkesan seolah sengaja mengaburkan waktu dengan penataan sub bab judul yang tidak sistematis, sehingga membuat pembaca sedikit kebingungan setiap beralih sub bab dalam novel. Daftar glosarium yang terlalu banyak sehingga lumayan menyulitkan pembaca juga menambah kekurangan pada novel tersebut.

Novel ini sangat enak dinikmati. Novel ini juga dapat dikategorikan sebagai novel yang baik, karena memiliki banyak nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita terutama nilai-nilai pendidikan. Selain itu, novel ini juga baik dikonsumsi oleh semua kalangan terutama pada segmentasi remaja. Di dalam novel ini juga memuat banyak kata-kata motivasi dan juga termuat nilai-nilai positif diantaranya ialah pantang menyerah, gigih, berani, menetapkan target, berani bermimpi, mengajarkan tentang dedikasi, dan masih banyak lagi.

* Andhika Alfa N. – XI MIPA 1 / SMADA 36

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.