Jarak Adalah Jebakan

karya Selli Candra

HATI ini memang gak bisa ditanya. Kenapa aku bisa tertarik dengan orang yang belum aku kenal sebelumnya? Ini yang membuat aku jadi penasaran sama isi hatiku. Iya cuma disini aku bisa menuangkan seluruh pikiran yang muncul dalam CPU manusia egois ini.

Saat kenaikan kelas 8 SMP aku mulai mengenalnya. Awalnya tak sedikit terbesit dipikiranku kalau aku bisa mengenal seorang cowok seperti dia. Cowok yang paling usil dan yang paling jail yang pernah aku kenal selama ini. Niatnya sih cuma pengen mengenal antara satu dengan yang lain, tapi aku merasa ada satu hal spesial yang membedakan dia dari cowok kebanyakan.

Entah mengapa sampai detik ini aku masih bertanya tanya kenapa aku bisa tertarik pada sahabatku sendiri. Antara takut kehilangan seorang sahabat seperti dia dan beratnya memendam perasaan cinta selama bertahun-tahun kepadanya.

Kelulusan SMP membuatku berpisah dengannya. Ini mungkin pilihan yang terbaik. Awal perpisahan terasa cukup berat. Hanya via skype kita bisa berkomunikasi untuk melepas rasa rindu sesaat. Seiring berjalannya waktu, perasaan ini semakin menjadi. Apalagi kalau teringat kenangan bersamanya. Rindu ini sangat menerobos lubuk hati ini, seakan ingin mendekap dan berkata, aku ingin bertemu walau hanya sekali kedipan mata.

Kangen waktu bercandaan bareng, ke kantin bareng, jalan bareng. Kangen semua yang udah pernah kita lakukan sekonyol apa pun itu. Perasaan ini mengalahkan logikaku untuk tidak bisa jauh darimu. Satu-satunya cowok yang bisa bikin aku nyaman ya cuma kamu. Aku tau sekarang kita jauh. Beda kota, beda provinsi. Tapi bagaimana lagi ini udah menjadi keputusan terbaikku. Tapi senangnya, kamu malah justru mendukungku. Selalu memberiku semangat. Itu yang bisa buat aku makin sayang sama kamu. Aku merasa sangat bahagia dan bersyukur memiliki sahabat sepertimu.

***

SAAT aku kembali ke Kota Budaya, ku luangkan waktuku sejenak untuk menemuinnya. Sangat bahagia bertemu dengannya meski hanya hitungan jam saja. Setelah aku puas bercerita kepadanya, dia pun mulai bercerita kepadaku kalau ia sedang naksir kepada cewek. Seketika hati layaknya tergores pisau, aku berusaha menahan mendung air mata yang bersembunyi di balik pelupuk mataku. Tak kuasa perlahan-lahan ku menitikkan air mata.

“Kenapa kamu nangis?” tanyanya

“Nggak pa pa, kok! He..he…!”

Dia terdiam dan memandangiku tanpa mengedipkan mata. Sorot matanya semakin membuatku menangis. Aku terdiam dan tak sepatah kata terlontar dari mulutku. Dia mulai menghapus air mata yang ada di pipiku dan mencoba bertanya lagi kepadaku.

“Kamu kenapa? Ga usah nangis, dong! Selli yang aku kenal ga cengeng kayak gini” ucapnya sambil mengusap air mata yang ada di pipiku. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata.

Tak kusangka ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyodorkannya ke arahku. Dia memegang tanganku.

“Aku tidak bisa membohongi perasaanku selama ini.”

Antara percaya dan tidak, seorang cewek yang diceritakannya padaku tadi adalah aku. Lalu ku membuka kotak yamg diberikannya kepadaku. Sangat bahagia perasaanku malam itu. Tak habis pikir hanya hitungan menit perasaanku bisa berubah drastis. Dari sangat kecewa dan dibuat melayang olehnya.

Di satu sisi kamu adalah sahabat terbaikku. Aku gak mau kamu menjauh, kamu menghilang, kamu lupa sama aku. Aku ingin kamu selalu ada di dekatku dalam kondisi apapun. Hubungan persahabatan yang dilandasi rasa saling sayang mungkin gak bakal bisa putus. Terkadang aku juga ingin seperti temen-temen kamu yang bisa deket sama kamu setiap hari. Tapi aku selalu ingat jarak adalah jebakan, jauh atau dekat ditentukan perasaan.*

* Selli Candra – XI MIPA-6 / SMADA 36

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.