Tak Ada Kesabaran yang Sia-sia

Judul Buku      : Merindu Baginda Nabi

Penulis            : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit          : Republika

Tahun Terbit   : April 2018

Tebal Buku      : 176 halaman

Buku berjudul Merindu Baginda Nabi ini merupakan buku karangan Habiburrahman El Shirazy. Ia adalah sastrawan cendekiawan Indonesia yang memiliki reputasi Internasional. Ia lahir di Semarang, 30 September 1976 yang merupakan mahasiswa lulusan Fakultas Ushuluddin jurusan Hadist Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.  Ia adalah sastrawan Asia Tenggara pertama yang mendapatkan penghargaan dari The Istanbul Foundation for Sciences and Culture, Turki. Selain itu, budayawan jebolan Al Azhar University Cairo ini telah diganjar berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, Penghargaan Sastra Nusantara Tingkat Asia Tenggara, Paramadina Award 2009, Anugerah Tokoh Persuratan dan Kesenian Islam dari Malaysia.

Novel ini menceritakan kehidupan seorang gadis remaja dan keluarganya di lingkungan pesantren Darus Sakinah, dimana ia dididik oleh orang tua angkat yang begitu baik dan mengajarkan kepadanya untuk selalu mencintai Baginda Nabi saw. Karena sejak kecil ia tidak tahu orang tua kandungnya, ia dibuang di sampah dan ditemukan Mbah Tentrem yang kemudian diserahkan kepada Pak Nur dan Bu Salamah orang tua angkatnya.

Puncak kesuksesannya adalah ketika ia lolos dalam pertukaran pelajar dari Youth for World Peace ke San Jose, Amerika. Di sana ia juga menjadi pemenang Olimpiade Matematika antar sekolah di San Jose. Selama di San Jose ia tinggal di keluarga yang sangat baik dan ramah yaitu keluarga Bill Ewards. Tentunya ia pasti juga mendapatkan teman baru yang begitu baik dan pengertian kepadanya.

Namun, dibalik kesuksesannya itu banyak cobaan yang harus ia hadapi. Ada seseorang yang membencinya, yaitu Arum teman sekelasnya. Arum membeci Rifa karena Arum merasa kalah saing dengan Rifa yang selalu menduduki peringkat 1 di kelasnya. Berbagai cara dilakukan Arum untuk merebut posisi Rifa, mulai dari menghasut kepala sekolah untuk tidak menaikan kelas karena 8 bulan Rifa pertukaran pelajar di San Jose, sampai-sampai ia menyuruh orang untuk menyerempet motor Rifa hingga ia terjatuh dan kakinya mengalami kelumpuhan.

Tak hanya itu sebelum Rifa kecelakaan, ia harus merelakan Abahnya untuk berpulang ke sang Maha Pencipta. Pak Nur menyampaikan kerinduannya kepada Baginda Nabi dan ingin Umrah untuk sowan ke makam Rasulullah. Setelah sholat Ashar di masjiid Nabawi, pak Nur menutup usianya dengan penuh keridhaan. Bertemu dengan Baginda Nabi wafat dan dimakamkan di Baqi’ bersama sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.

Namun, karena kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi cobaan dari Allah, lewat seorang dokter dari Jerman, Judith Mueller akhirnya Rifa bisa kembali berjalan secara bertahap dan bisa melanjutkan studi di sana dengan mendapat beasiswa kembali. Rifa juga teringat dengan abahnya, ia yakin di alam barzakh, abahnya sedang menikmati keindahan tiada tara karena bertemu dengan kekasih yang dirindukannya yaitu Baginda Nabi saw. Rifa pun ingin merasakan hal yang sama seperti abahnya.

Novel ini begitu relevan dengan keadaan saat ini. Saat dimana kehidupan remaja sudah terpengaruh oleh kehidupan millenial, namun mampu membangun jiwa untuk tetap rendah hati dan meraih kesuksesan yang di ridhoi Allah dan tetap mencintai Baginda Nabi. Tidak hanya itu, bahasa yang digunakan didalamnya pun juga sangat indah dan mampu menggugah jiwa ini, covernya pun juga menarik. Penyelesaian konflik yang dilakukan tokoh utama juga begitu damai.

Namun, banyak kejadian yang berlangsung dengan sangat cepat, sehingga emosi yang dibawa pada masing-masing adegan kurang tersampaikan dan membuat penasaran pembaca. Selain itu, ada banyak kejadian juga yang dialami tokoh utama dalam waktu berdekatan, terkesaanya seperti serba kebetulan. Menurut saya novel ini juga kurang tebal karena masih terasa haus dengan pesona akhlak dan keteladanan yang disajikan penulis.

Novel pembangun jiwa ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingat Baginda Nabi saw. dimanapun kita berada dan bagaimanapun kondisinya, agar kita mampu meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Karena rasa rindu nan dahsyat itu hanya dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.*

* Dewi Fatma Dwi Puspita – XI MIPA-8 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.