
Judul Buku : Hujan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Januari 2016
Tebal : 320 halaman
Novel ini mengambil latar dunia di tahun 2050-an, dengan segala kemajuan teknologi dan gentingnya isu-isu mengenai lingkungan. Cerita berawal dari seorang remaja wanita bernama Lail, yang datang ke klinik syaraf otak untuk menghapus semua kenangannya bersama seorang pria. Saat itu di masa depan, terdapat teknologi untuk menghilangkan ingatan yang menyakitkan dan membuat depresi. Lalu sang dokter-Elijah- menyuruh wanita tersebut menceritakan seluruh kenangan semasa hidupnya untuk mengetahui bagian dari kenangan buruk yang ingin dihapus dari memorinya. Dimulailah cerita demi cerita, kenangan demi kenangan yang yang diceritakan Lail kepada Elijah.
Dimulai dari lahirnya bayi yang menggenapi penduduk bumi menjadi 10 milyar. Ada yang menanggapinya biasa saja dan ada juga peneliti yang merasa ini adalah sebuah kabar buruk. Karena bumi kemungkinan akan mengimbanginya dengan caranya sendiri.
Dan dugaan para peneliti benar, tak lama kemudian terjadi bencana gunung meletus yang mahadasyat melebihi Gunung Krakatau yang meletus pada abad ke 18 lalu, disertai dengan gempa bumi dan tsunami serta hampir seluruh dunia terkena dampak yang sangat dahsyat. Hanya tinggal 10% saja dari penduduk bumi yang selamat. Sejak inilah cerita tentang perpisahan, tentang persahabatan dan tentang cinta dimulai.
Berawal dari sebuah lorong sebuah kereta bawah tanah, Lail yang masih berumur 13 tahun kehilangan ibunya di depan matanya, dilorong ini pula Lail bertemu dengan seorang bocah laki-laki 15 tahun yang menyelamatkannya dari lorong tersebut. Bocah laki-laki bernama Esok, juga kehilangan 4 kakak kandungnya di dalam kereta bawah tanah tersebut akibat gempa bumi. Kisah mereka berlanjut di tempat pengungsian. Semakin hari semakin akrab dan dekat. Hingga mereka terpisahkan oleh keluarga yang mengangkat Esok menjadi anak untuk di sekolahkan setinggi-tingginya, dan Lail pun pindah tempat barunya di panti sosial dan bertemu dengan teman perempuan sebayanya bernama Maryam. Saat itu pula dimulailah kisah persahabatan antara Lail dan Maryam dan juga kisah antara Lail dan Esok yang masih berlanjut namun karena belum beranjak dewasa, mereka belum tahu apa yang sedang mereka rasakan.
Hubungan mereka agak sedikit putus sejak Esok melanjutkan studinya di Ibu kota. Esok yang mulai sibuk dengan penelitian-penelitiannya, sedangkan Lail yang juga disibukkan dengan pekerjaannya sebagai relawan serta sekolah keperawatannya. Sesekali Esok yang mengunjungi Lail di desa saat liburan semester yang hanya 1 tahun sekali, terkadang juga Lail yang mengunjungi Esok ke kota.
Akibat dari letusan gunung purba yang menewaskan hampir 90% penduduk bumi tersebut adalah merusak lapisan stratosfer bumi karena letusan tersebut menyemburkan material vulkanik setinggi 80 km. Hal tersebut menyebabkan perubahan iklim secara drastis di bumi. Pada belahan bumi bagian utara, salju turun terus menerus yang menyebabkan musim dingin berkepanjangan. Karena hal tersebut, banyak negara di bagian belahan bumi utara mengirimkan pesawat ulang alik ke lapisan stratosfer untuk bisa menormalkan cuaca. Setelah pelepasan pesawat ulang alik tersebut, memang, belahan bumi bagian utara dapat merasakan panas matahari, yang artinya musim dingin berkepanjangan telah selesai. Akan tetapi hal itu, berdampak pada negara yang beriklim tropis.
Dua bulan setelah pelepasan pesawat ulang alik tersebut, negara beriklim tropis mulai turun salju. Hal tersebut tidak wajar, karena mana mungkin negara iklim tropis yang notabennya hanya memliki dua musim (musim penghujan dan kemarau) bisa merasakan salju? Para ahli berpendapat bahwasannya itu merupakan dampak yang akan dirasakan setelah pelepasan pesawat ulang alik. Negara beriklim tropis pun mulai resah. Salju dimana-mana, hewan dan tumbuhan banyak yang mati, mengakibatkan pasokan pangan pun mulai terbatas. Saat itu pun, Maryam dan Lail –yang notabennya seorang relawan- mulai sibuk membantu daerah yang fatal. Penduduk memberontak. Mereka ingin pemerintah meluncurkan pesawat ulang alik ke lapisan stratosfer. Menurut pendapat dari para ahli, meluncurkan pesawat ulang alik untuk menetralkan iklim, merupakan suatu kesalahan yang sangat fatal. Mungkin benar, bahwa dapat menghentikan musim dingin berkepanjangan di negara tropis, tetapi dampak setelahnya mungkin tidak dapat dihindari lagi. Pada akhirnya, tujuh buah pesawat ulang alik diluncurkan oleh pemerintah.
Esok menjumpai Lail di sekolah keperawatannya. Mereka melepas rindu setelah lama tidak berjumpa. Lail pun bertanya, bagaimana tanggapan Esok tentang peluncuran pesawat ulang alik tersebut. Esok pun menjawab, bahwasannya hal tersebut menjadi keputusan yang sulit untuk pemerintah yang juga pada akhirnya menyetujui tentang peluncuran itu. Esok mengatakan bahwa dia mungkin akan sangat sibuk dalam pembuatan kapal besarnya maka dia akan jarang menghubungi Lail. Iklim kemudian berubah kembali setelah peluncuran pesawat itu. Sinar matahari sudah dapat menyinari bumi kembali.
Akan tetapi, 1 tahun setelahnya, hujan tidak turun. Suhu bumi mencapai 40° C. Itulah yang dikatakan para ahli bahwa peluncuran pesawat akan menimbulkan dampak yang sangat fatal. Musim panas berkepanjangan pun terjadi. Bumi akan punah pada beberapa tahun mendatang. Proyek kapal besar yang dikerjakan Esok ternyata adalah, sebuah pesawat luar angkasa yang bentuknya besar seperti kapal dan hanya dapat menampung 10.000 juta orang yang akandigunakan untuk menyelamatkan penduduk bumi dari kepunahan yang akan terjadi. Tidak sembarang orang bisa menaiki kapal tersebut. Oleh karena itu diperlukan pertimbangan secara matang. Pemilihan orang dilakukan secara acak yang dilakukan oleh mesin. Dan Esok pun terpilih, tetapi Lail dan juga Maryam tidak.
Esok yang pada dasarnya pasti akan menaiki kapal tersebut –karena hanya dia yang dapat mengoperasikannya- juga merupakan orang yang dipilih oleh mesin pengacak. Esok memiliki dua kartu. Berhubung, Lail bukan orang yang dipilih oleh mesin tersebut, maka Esok menyerahkan dua kartu tersebut kepada Claudia -anak dari keluarga angkatnya- dan ibunya. Pengoperasian kapal diambil alih oleh robot yang memiliki kopian dari otak Esok. Lail tahu bahwasannya dia bukan orang yang terpilih, dan Esok memiliki 2 kartu. Pada awalnya, Lail pikir kartu tersebut untuknya. Namun dugaannya salah. Lail frustasi, oleh karena itu ia bertemu Elijah untuk menghapus semua memorinya dengan Esok. Esok terlambat. Esok belum memberitahu bahwa dia juga tidak naik dalam kapal. Maryam pun menghubungi Esok untuk memberitahu bahwa Lail akan menghapus memori tentang Esok. Esok pun terburu-buru menghampiri rumah sakit tempat Lail berada. Harap-harap cemas menunggu, akhirnya Lail keluar. Anehnya, Lail ingat semuanya tentang Esok. Elijah pun menjelaskan, bahwasanya tidak ada ingatan ataupun cerita yang menyakitkan pada diri Lail, semuanya justru indah. Diakhir cerita, Lail dan Esok pun menikah. Entah berapa tahun lagi bumi akan punah, yang terpenting sekarang Esok telah bahagia bersama dengan Lail.
“Bukan melupakan yang jadi masalahnya, Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia.” – Hujan, Tere Liye –
Tema yang diambil menarik. Pada novel ini, kita diajak penulis untuk bisa berimajinasi dengan keadaan bumi di masa depan, menceritakan keadaan dunia puluhan tahun kedepan dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat dan canggih serta keadaan bumi pasca dilanda bencana alam maha dahsyat. Penulis sangat pandai dalam mendeskripsikan peristiwa demi peristiwa secara detail, seakan-akan kejadian tersebut benar-benar nyata terjadi dan menjadi sangat logis sekali terjadi. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami oleh pembaca.
Kisah romansa Esok-Lail yang sangat bersimpulan dengan isu-isu penting dunia berhasil dibawakan dengan apik, terkupas satu per satu dengan ritme yang tepat. Membuat saya ikut berdegup, untuk kemudian lega, untuk kemudian kembali menjadi semakin khawatir. Khawatir jika kondisi bumi dalam cerita tersebut menjadi lebih buruk lagi. Khawatir jika Esok dan Lail akan seperti arti namanya: pagi dan malam. Tak pernah bersama.Sedangkan pada novel ini menurut saya hampir tidak ada kelemahannya, terkadang terdaapat kesalahan ketik pada beberapa kalimat, itupun tidak banyak.
Novel ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan. Pembawaan alur yang tidak terlalu rumit dan bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat udah dipahami oleh pembacanya. Cerita yang dimuat didalamnya sangat bagus. Banyak peristiwa dalam novel ini yang dapat digunakan sebagai motivasi kehidupan seseorang. Sayangnya, Hujan kurang mengelaborasi karakter Esok lebih dalam. Selebihnya, novel ini sangat bagus dan saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Novel ini mengajarkan arti dari persahabatan, kesetiaan , pengorbanan dan perjuangan dan menjadikan sebuah kenangan baik ataupun buruk sekalipun sebagai warna-warni kehidupan yang tidak perlu untuk dilupakan.*
* Aniza Fitria – XI MIPA 1 / SMADA 36