
Judul : Koala Kumal
Penulis : Raditya Dika
Tebal halaman : 247 halaman (13x20cm)
Tahun terbit : 2014
Penerbit : Gagas Media
Koala Kumal bercerita tentang patah hati, dari Raditya masih SD kemudian ketika SMA sampai jadi mahasiswa. Penulis yang terkenal dengan kisah nyata tentang percintaan yang digabungkan dengan komedi membuat pembaca merasa terhibur sekaligus terenyuh akan kisah cintanya.
Topik utama novel ini menceritakan tentang tempat nyaman yang ketika ditinggali terasa begitu nyaman. Namun, ketika ditinggalkan dan kembali lagi ke tempat itu, terasa berbeda dari semula. Terdapat beberapa cerita di dalam buku ini. Cerita tentang Radit yang masih duduk di bangku SD dan mendapati temannya lama-kelamaan berubah atau tidak sama seperti dulu lagi. Terdapat pula cerita Radit yang bertemu dengan mantan kekasihnya dan mendapati mantannya telah berubah menjadi orang yang tidak sama seperti orang yang dia kenal dulu.
Terdapat pula kisah Radit yang menceritakan bagaimana patah hati terhebat yang dapat membuat kita yang mengalaminya berubah menjadi orang yang tidak sama seperti sebelumnya, dan memandang cinta dengan pandangan yang berbeda.
Kelebihan buku ini salah satunya adalah menggunakan bahasa dan format yang tidak biasa, sehingga membuat pembaca tertawa terpingkal-pingkal. Pada halaman 34, penulis menggunakan bahasa yang tidak pantas untuk ditulis, yaitu “Biar Titit Kau Gak Cuman Dipake Buat Pipis”.
Novel ini memiliki ciri khas menggabungkan komedi, cinta, tips, dan pengalaman hidup menjadi satu. Setiap cerita dalam novel ini tidak berkesinambungan satu sama lain. Tetapi, setiap cerita memiliki pelajaran yang dapat diambil oleh pembaca. Selain itu, terdapat banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah hidup seorang Raditya Dika. Dari novel ini, kita dapat belajar bahwa patah hati adalah proses menuju kedewasaan, patah hati merupakan salah satu fase yang akan dilalui oleh kebanyakan orang pada umumnya.
Kesimpulannya adalah dengan adanya novel ini, seseorang yang baru saja mengalami patah hati akan merasa terhibur dan mulai berpikir bahwa patah hati bukanlah akhir dari segala pencarian cinta yang sebenarnya. Cinta membutuhkan perjuangan, dan perjuangan itu adalah mempertahankan kenyamanan.*
* Oki Dwi Darmawan – X IPS-2 / SMADA 37