
karya Kholud Putri Nurjanah
SEHARUSNYA cakrawala menguning sekarang, seperti padi yang siap panen. Tapi awan hitam mengelabui langit, dikuasainya dari ujung hingga ke ujung. Beberapa darinya menjelma menjadi segerombol molekul air yang turun ke bumi tak ubahnya bidadari yang akan mandi. Lama-kelamaan mereka saling berebut untuk mendapatkan bagian untuk dijamahnya dibumi. Ada kemungkinan mereka lelah digantung di atas atau mengasihani bumi yang semakin hari semakin lemah karena ulah manusia-manusia jaman sekarang?
Alam mungkin sudah jenuh menghadapi ulah manusia, pikir Lintang. Ini sudah bulan Oktober dan hujan masih sering menyiram bumi. Bahkan tak sedikit daerah . Bahkan tak sedikit daerah yang dilanda banjir karenanya. Menggelikan sekali, ketika Sapardi Djoko Damono bahkan menciptakan puisi khusus karena turunnya hujan di bulan Juni. Tapi Lintang malah menemukan ada hujan di bulan Oktober. Seharusnya puisi itu telah drenovasikan?
“Hujan saja sering jatuh,sedangkan aku? Kira-kira kenapa aku tidak pernah jatuh merasakan jatuh cinta ya, Lang?” Lintang menoleh pada Langit, saudara kembarnya.
Di saat hujan seperti ini, perasaan menjadi terasa sedikit aneh. Anak gaul bilang sih, galau. Padahal Lintang selalu menceramahi teman-teman di sekolahnya tentang itu. Bukankah lebih baik memikirkan bagaimana Indonesia bisa lebih maju daripada memikirkan cinta monyet seperti itu? Mungkin tidak ada generasi B.J. Habibie baru karena generasi muda lebih sibuk memikirkan kisah cintanya, daripada memikirkan cara membuat kulkas tanpa listrik.
“Mungkin karena kamu itu malaikat!” jawab Langit asal.
Pandangannya masih terpaku pada robot rakitannya. Kali ini ia mencoba membuat robot yang dapat menyedot listrik alam alias halilintar. Memang alat penangkal petir itu ada, tapi listrik dari petir yang menyambar gedung akan dialirkan dan dibuang di bumi secara percuma. Bayangkan jika setiap rumah di Indonesia memiliki alat penampung listrik dari petir, dijamin bebas biaya litrik bulanan. Oke tidak usah dibayangkan itu akan membuat kepalamu pusing memikirkan hal yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kalian. Kembali ke topik saja!
“Memang kenapa kalau malaikat?”
“Malaikat tidak diizinkan jatuh cinta!”
“Tapi aku kan manusia, Lang?!” kata Lintang masih tak mau kalah.
“Kalau kamu sadar kamu manusia, coba deh inget! Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan kan? Kenapa bingung mengurusi cinta? Musyrik!” cibir Langit sambil memalinglan wajahnya.
“Dasar, fasis!” Lintang menghentakan kakinya kuat-kuat lalu pergi. Sementara Langit hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali bergulat dengan robotnya.
Gelap merasuki hari perlahan, merayap seperti penyusup yang telah mengintai sebelumnya. Hujan sore ini meninggalkan bekas yang panjang, beberapa stasiun tv melaporkan berita kebanjirsan. Telinga rasanya bising mendengar berita yang diliput media mengenai hal yang itu-itu saja. Korupsi, tingkah polah politik, banjir, dan masih banyak hal negatif lainnya. Padahal tidak sedikit hal positif yang ada di negeri ini. Mulai dari penghargaan para pelajar-pelajar yang berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional. Seakan media menjelekkan citra bangsanya sendiri dan menyebarkan kabar tentang bangsa yang tidak ada bagus-bagusnya, pemerintah yang seenak udel-e dewe dan lainnya. Tentu saja bukan tidak ada yang doyan berita positif, karena segala yang negatif dapat mereka kritisi. Berita yang positif? Apa tanggapan yang cocok selain memuji?
Malam ini Lintang sengaja melupakan deadline-nya yang mulai dari jadwal review novel sampai tanggungannya mengedit naskah. Lintang di masa SMA nya telah bekerja di salah satu kantor penerbitan mayor di kotanya sebagai editor freelance. Ia bertekat menjadi seorang jurnalis terkenal agar dengan tulisannya ia dapat membersihkan media yang terlanjur kotor dengan tipu dayanya.
Lintang berencana untuk jalan-jalan malam di taman Sukowati atau sekedar diskusi dengan komunitas penulis anyaran di kotanya nanti. Mungkin saja nanti akan ada mas-mas puitis yang tertarik pada bulat matanya, juga pipi tembemnya, lalu membuatkannya sebatas puisi hingga membuat Lintang jatuh cinta pada pelukannya, dan enggan berdiri sewbagai Lintang yang anti cinta-cintaan lagi. Mungkin saja, jika benar terjadi akan ada cerpen cinta yang menandingi Sepotong Senja Buat Pacarku milik Seno Gumira Adjidarma, yaitu cerpen cerpen Pelangi di Malam Minggu karya Lintang Zainina Septario.
“Pelangi di malam minggu, perasaan bahagia yang begitu berwarna di akhir pekan, bertemu pujaan hati yang dicari selama eksistensinya di bumi. Sepertinya menarik.”
Di perjalanan menuju taman Sukowati, sembari menuntun sepedanya, Lintang menggumam sendiri. Merencanakan novel terbarunya. Kalau berbicara sendiri adalah gila, dan gila adalah jenius, percaya diri saja kamu dilukis oleh Yang Maha Agung dengan keunikan tersendiri.
“Dan pelangi adalah keindahan sekejap. Dia akan mengabur dari pandangan bahkan ketika belum ada satu menit kamu menikmati, setelah sekian lama menunggu hujan yang lebat reda. Lagipula pelangi adalah hasil dari pembiasan cahaya matahari, ketika malam minggu matahari hanya bersinar di balik rembulan. Apa yang dibiaskan hingga tercipta pelangi?”
Seorang pemuda menuntun sepedahnya disamping Lintang sembari menanggapi gumamannya. Ah, malam minggu, pemuda tampan, bulan purnama langit yang cerah, dan taman Sukowati yang sejuk. Perpaduan yang lebih dari pelangi di malam minggu, apalagi mata pemuda itu ikut tersenyum kala bibirnya tertarik simetris seperti mata malaikat Ridwan, penjaga pintu surga. Lintang tersenyum sendiri membayangkan imajinasi yang bergerayangan di depan matanya.
“Iya juga sih. Tapi sastra itu bebas. Bahkan Seno Gumira Adjidarma memotong senja dengan sebila pisau untuk pacarnya kan?”
“Tapi ada penjelasan dalam cerpennya kan?” pemuda tampan itu membalik kalimat Lintang sembari tersenyum di balik giginya yang rapi dan lesung pipinya yang dalam.
Belum selesai Lintang menyiapkan sangkalan kalimat pemuda itu, ada seseorang yang menngamit tangan kanannya, meletakkan sesuatu di sana. Seketika Lintang sadar, pemuda itu sudah mengendarai sepedanya jauh di depan, menengok sekilas padanya dan tersenyum dengan sangat manis seperti tadi. Rambut hitamnya yang dipotong acak dqan agak sedikit panjang melambai dibawa sang angin malam dan menghilang dipertigaan jalan. Oh, jadi pemuda itu bukannya ingin ke Sukowati? Pikir Lintang.
Sadar diberi sesuatu oleh pemuda tadi Lintang mengecek tangan kanannya, dan menemukan bunga mawar putih lengkap dengan tangkainya dan durinya! Seketika Lintang merasakan perih di telapak tangan kanannya karena duri bunga indah itu menggores di beberapa bagian. Mungkin ketika tidak sadar aku telah menggenggam dengan erat, pikir Lintang.
***
BUNGA mawar kemarin itu masih Lintang simpan. Ia mengembalikannya malam minggu depan. Dia percaya akan bertemu pemuda berlesung pipit itu lagi nanti. Nanti entah kapan. Sekejap Lintang berpikir, begitukah caranya memberikan setangkai bunga untuk seorang gadis? Lengkap dengan durinya pula! Sebenarnya apa tujuan pemuda itu? Dan dari caranya tersenyum, juga rambut hitam panjangnya yang dipotong acak itu, sepertinya tidak hanya sekali ia melihatnya, Lintang yakin keduanya pernah bertemu sebelumnya.
“Tangan kamu kenapa, Lin?” meski nada suaranya terdengar tenang Lintang tau kembarannya itu khawatir padanya.
“Terkena duri mawar,” jawab Lintang acuh.
“Nggak tau ya itu berduri? Kok dipegang?”
“Cih, Langit goblok. Kebo juga tau mawar itu berduri,” Lintang tambah senewen.
“Lintang yang goblok, udah tau berduri kenapa dipegang?”
“Langit mau dilempar pakai sandal atau pakai palu?”
“LIntang, kamu sedang pegang plaster luka bukan palu,” Langit semakin bersemangat menggoda kembarannya.
“Bodo!”
“Hati-hati siapa tau orang itu sengaja melukai tanganmu untuk diambil sampelnya lalu digunakan untuk sesuatu tidak benar. Menyantet kamu misalnya.”
Meski terdengar gurauan ada nada serius yang diutarakan Langit lewat kalimatnya. Percaya atau tidak Langit dan Lintang memiliki kemampuan telepati sehingga mereka tahu apa yang terjadi satu sama lain. Tanpa harus bercerita apa yang baru saja terjadi pada salah satu dari mereka.
Malam minggu selanjutrnya, Lintang menunggu di bangku taman Sukowati lengkap dengan setangkai mawar yang mongering di tangan kanannya. Merasa itu bukan hak miliknya ia berniat mengembalikannya kepada pemuda berlesung pipit itu lagi. Menunggu satu jam, dua jam, batang hidung pemuda itu sama sekali belum Nampak. Dengan langkah gontai Lintang berjalan mendekati tong sampah, lalu membuang tangkai mawar yang kering itu lalu berlalu menuju sepedanya dan pulang’
Sepasang mata di balik bingkai kacamata hitam gelap mengedarkan pandangan mengamati Lintang hingga gadis itu lenyap di pertigaan jalan. Dari matanya meneteskan setitik air hingga buru-buru ia menyekanya. Seorang berpenampilan sama dengan pemuda tadi menghampirinya, menepuk pundaknya dan mengirim sandi morse lewat kedipan matanya. Agaknya mereka terlibat perbincangan yang panjang.
“Kamu mengamatinya sejak gadis itu SMP. Melindunginya dari segala marabahaya apapun seakan kamu bodyguard gratisan dan hanya beralasan kamu menyukainya. Tapi ketika kita bergerak untuk membahayakannya kamu setuju? Kenapa kamu tidak memilih bebas dari kami dan hidup normal, saling mencinta, dan berkarya seperti remaja lain? Kamu nggak seperti saya, Angkasa. Hidup kamu masih bisa dibenahi dan masih panjang lagi.”
“Saya melakukan ini untuk membalas budi pada bos kita, Lindu Kartaningbumi yang mengasuh saya dari kecil, mendidik saya, dan memasukkan saya di dunia pembunuh bayaran dan mata-mata mafia seperti ini. Kenapa saya harus melindungi gadis itu lagi? Dia tidak pernah melakukan apapun untuk saya…”
Pemuda yang dipanggil Angkasa itu ternyata pemuda yang berlesung pipit kemarin, pemberi bunga berduri kemarin juga. Dia mengambil nafas dan melanjutkan perkataannya yang terpotog.
“… Lagipula, sampel darah gadis itu sudah saya serahkan kepada Lembaga Keilmuan Israel untuk diteliti. Mereka bilang gadis itu kembarannya Langit. Mempunyai kemampuan telepati meski hanya dapat dilakukan oleh kedunya saja tidak kepada orang lain. Oleh karena itu, mereka akan menelliti sampel darahnya untuk mengetahui apa yang membuat si kembar itu berbeda dengan yang lainnya, selanjutnya mengembangkannya menjadi teknologi telepati sehingga memudahkan Israel ketika perang tanpa harus menggunakan walkie talkie lagi. Begitu saja apa menurutmu itu akan membahayakan gadis itu? Tidak kan?”
“Angkasa, bergelut di dunia seperti ini sekian lama belum membuatmu mengerti ternyata.”
“Apa maksudmu, Pak Rey?”
“Tidak mungkin mereka akan puas dengan setetes darah kemarin. Lagipula jika hasilnya tidak seperti yang mereka inginkan, mereka akan menuduhmu lengah. Karena membiarkan darah istimewa itu tercampur getah mawar sehingga hasil lab menjadi berbeda.”
Lelaki setengah baya itu berhenti sebentar dan melanjutkannya.
“Lalu mereka akan menyuruh mata-mata lain untuk melakukan tugas yang sama kepada gadis itu atau kembarannya mungkin. Dan kamu pasti tahu mereka tidak akan berlemah lembut ketika mengambil sampel darah keduanya seperti kamu kemarin. Mengaku saja, bukankah kamu berkali-kali menghampiri gadis itu hendak menggores tangan tapi tidak tega? Syukurlah gadis itu tidak menghafal wajahmu yang pasaran,” Pak Rey mengakhiri sembari meredam tawanya.
Angkasa tetap dengan pendiriannya yang tenang.
“Kalau itu sampai terjadi aku akan kembali menjadi pelindung dari jauh. Juga mencintainya dari jauh mungkin. Aku sudah menjadikannya gadisku. Apapun yang terjadi itu tanggung jawabku Pak Rey. Aku malaikat pencabut nyawanya, mataku dimana-mana.” Kata Angkasa sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.*
* Kholud Putri Nurjanah – XI MIPA 6 / SMADA 36