
Judul novel : Jadilah Purnamaku,Ning
Penulis : Khilma Anis
Penerbit : Matapena
Terbit : Januari 2008
Tebal : 232 halaman (11x17cm)
Novel ini menceritakan tentang tentang perjalanan hidup seorang cewek bertekad kuat. Cewek itu bernama Nawang Wulan. Dimulai dari kisah hatinya bersama seseorang yang tak mendapat restu akibat ketakutan ibunya akan dunia pesantren. Ibunya memiliki masa lalu yang kelam dengan dunia pesantren. Oleh karena itu, ia menyuruh Nawang untuk mengakhiri hubungannya. Berakhirnya hubungan tersebut, Nawang bertemu dengan Alfin, putra Kiai Abu Dardah Banyuwangi, pemilik pondok paling besar di Banyuwangi.
Dari pertemuan tersebut, menimbulkan ketertarikan diantara keduanya. Nawang akan menunjukkan Alfin adalah sosok yang diharapkannya, yang mendapat derajat dan kemuliaan tinggi berkat perjuangan yang murni dari seorang putra rakyat biasa. Ia pun menguatkan tekadnya. Namun, ternyata ia salah. Alfin bukanlah sosok yang diharapkannya. Hati Nawang sangatlah terluka dan pada akhirnya ia bertemu dengan Yasfa, lelaki baik yang memiliki keberanian luar biasa. Ibu Nawang sangatlah bersimpati dengan kehadiran Yasfa dalam hidup anaknya. Seiring berjalannya waktu, keduanya memantabkan niat untuk menjalani hidup bersama dalam sucinya rumah tangga. Sampai pada akhirnya mereka hidup bahagia dalam kesakralan cinta sejati.
Banyak hal menarik dalam novel tersebut. Ditinjau dari bahasa dan dialognya, banyak menggunakan peribahasa dan perumpamaan Jawa yang mampu menambah wawasan kita akan budaya Jawa serta nasihat-nasihat hidup. Misalnya peribahasa kakudhung welulang macan yang berarti seseorang yang berlindung dibalik bayangan orang tua. Hal tersebut memberikan pesan agar kita tidak mencari keuntungan dari jabatan, harta, ataupun kekuasaaan orang tua. Ada juga peribahasa lakuning banyu yang berarti menjalani hidup seperti filosofi air yang mengalir dengan sendirinya. Hal tersebut memberikan nasihat agar kita dalam menjalani hidup dapat melihat dari filosofi air, yang menghadapi permasalahan dengan jiwa yang tenang, dingin, dan mengalir.
Budaya wayang juga dikenalkan dalam novel ini, tak sedikit cerita Jawa ,tokoh-tokoh pewayangan Jawa yang dibubuhkan dalam bacaaan. Alur ceritanya sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata, sehingga banyak hal yang dapat kita petik dari novel ini. Dilihat dari perwatakan tokoh tertentu, terdapat sikap dan sifat dari tokoh tersebut yang dapat ditiru untuk dijadikan teladan. Selain itu, jika dilihat dari penggambaran latar tempat dinilai sangat menarik, sebab banyak daerah-daerah di Indonesia yang menjadi latar tempat dalam novel ini termasuk Alun-Alun kota Ponorogo. Akhir dari cerita novel ini sangat tidak terduga oleh para pembaca. Hal ini dapat dilihat dari tokoh Yasfa yang sebelumnya diceritakan sebagai tokoh yang apa adanya, merakyat, jauh dari kemewahan ternyata adalah putra Fadlulloh dan cucu tunggal Mbah Sulaiman keturunan Sunan Kalijaga yang mbabat Jawa Timur serta pertama kali mendirikan pesantren di sana.
Novel ini banyak menggunakan bahasa Jawa atau istilah jawa yang menyebabkan kesulitan memahami cerita bagi pembaca yang bukan orang Jawa atau tidak mengerti bahasa Jawa. Sampul dari novel tersebut dinilai kurang menarik, karena terlalu sederhana untuk dipandang mata. Dapat ditemukan kata-kata yang tidak baik untuk diucapkan dalam novel ini, sehingga kurang cocok untuk anak di bawah umur. Selain itu, penggambaran tokoh yang tidak sesuai dengan kehidupan pesantren pada umumnya, misalnya dalam hal berpakaian,berperilaku, dan bertutur kata.
Dalam novel ini, pengarang ingin menyampaikan kepada para pembacanya bahwa dalam menggapai mimpi dibutuhkan tekad yang kuat dan tak kenal menyerah serta tetap berani untuk mencoba hal baru. Selain itu, walaupun terpisah jarak dan waktu,jika telah berjodoh pasti akan bertemu dengan cara yang mungkin tidak akan kita duga. Cinta itu sederhana. Cinta itu apa adanya.
* Dita Harnika Sari – XI MIPA-1 / SMADA 36