ASHIMA

Judul novel        : Assalamualaikum Beijing

Penulis               : Asma Nadia

Penerbit            : AsmaNadia Publishing House

Terbit                : Februari 2016

Tebal                 : 360 halaman

Novel ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang sudah berpacaran empat tahun lamanya dengan pernikahan mereka sudah diambang pintu. Pernikahan itu terpaksa harus dibatalkan karena sang lelaki telah berkhianat pada sang perempuan. Lelaki itu bernama Dewa dan perempuan itu bernama Asmara, yang kerap disapa oleh Dewa dengan dua huruf belakangnya yaitu Ra. Pernikahan mereka yang sudah didamba-dambakn pun batal dan membuat hati Asmara terluka yang sangat dalam yang membuatnya susah untuk mencintai seseorang lagi.

Asmara, atau yang kerap dipanggil Asma oleh teman dan ibunya, mendapat tugas dari tempat dia bekerja untuk membuat laporan tentang bangunan kebanggaan rakyat Cina yaitu Tembok Cina dengan melihat langsung bangunan itu di negara tempat itu berada. Di Cina, Asma bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Zhongwen saat berada di bus ketika dalam perjalanan hendak ke penginapan. Anehnya, Zhongwen memanggilnya Ashima, bukan Asma. Hal itu membuat Asma penasaran. Dia mencari nama Ashima itu di internet, dan menemukan bahwa nama Ashima itu berasal dari cerita klasik rakyat Cina yang merupakan kisah perjuangan cinta dari sepasang kekasih. Cerita itu membuat Asma tersentuh.

Pencarian Asma dilakukan Zhongwen di tempat-tempat yang mungkin di kunjungi oleh Asma. Pada akhirnya, ia menemukan Asma di salah satu masjid di Cina yang bernama Masjid Niujie. Itu merupakan pertemuan terakhir mereka sebelum Asma pulang ke tanah air. Dewa menikah dengan Anita karena dia harus tanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya dan kepada seseorang yang ada didalam perut Anita. Anita tidak pernah mendapatkan perlakuan sayang dari suaminya karena Dewa masih mencintai Ra. Tanggung jawabnya akan berakhir setelah anak mereka lahir.

Beberapa hari setelah pulang ke Indonesia, Asma terkena penyakit APS yang merupakan penyakit yang bisa mendatangkan kematian kapan saja. Dia melewati semua itu dengan banyak beribadah, berdoa, dan sabar. Dia masih berkomunikasi dengan Zhongwen saat di Indonesia. Zhongwen yang merasa rindu dan ingin bertemu dengan pujaan hatinya, Asma. Karena perjalanannya bersama Asma yang mengunjungi tempat-tempat islam yang ada di Cina, menuntun dia untuk mencari informasi tentang islam lebih lanjut. Membuatnya ingin berjalan di jalan yang benar yaitu Islam. Zhongwen mengucapkan kalimat syahadat yang membuatnya sah menjadi hamba Allah.

Kemudian Zhongwen memutuskan untuk pergi ke Indonesia untuk bertemu sang pujaan hati. Di sana dia bertemu dengan keadaan Asma yang sedang terbaring lemas. Hal itu tak mematahkan rasa cintanya, Zhongwen dengan serius melamar Asma untuk menikah dengannya. Asma yang sakit-sakitan itu mempunyai rasa yang sama dan menerima lamaran Zhongwen. Kehidupan mereka berdua sebagai suami istri dijalani dengan bahagia dan damai walaupun banyak permasalahan yang datang.

Novel ini menggunakan bahasa dan gaya menarik sehingga  membuat buku ini mempunyai daya tarik tersendiri. Bagian yang kurang ada di akhir, kepasrahan Dewa yang terdiam pada saat Zhongwen datang ke rumah Asma. Dia tidak melakukan perlawanan untuk mendapatkan apa yang sudah diinginkannya selama setahun, yaitu ingin kembali lagi ke Ra. Dia langsung menyerah tanpa ada konflik antara Zhongwen dan Dewa.

Dalam novel ini pengarang ingin menyampaikan kisah cinta antara Zhongwen dan Asma yang berbeda negara dan terpisah karena jarak yang berakhir dengan kebahagiaan.*

* Hasna Ulfa S. – XI MIPA-1 / SMADA 36

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.