
karya Elin Nur Indriyani
SELASA, 29 April 1991 di antara keramaian kota Balikpapan yang saat itu telah lama hidup dua anak gadis berumur 8 tahun. Mereka hidup di bawah kolong jembatan yang kondisinya sangat kotor. Setiap hari mereka bekerja serabutan untuk mendapatkan makanan, meski sebenarnya mereka berdua bukanlah saudara kandung ataupun kerabat.
Pertemuan mereka berawal ketika terjadinya bencana alam yang menimpa kota Balikpapan pada tahun 1988 yang pada saat itu merobohkan banyak bangunan dan rumah-rumah termasuk tempat tinggal mereka. Gempa yang terjadi di Balikpapan itu meluluh lantakkan 3 kecamatan dan korbannya mencapai 5.000 orang yang meningal. Pada saat itulah dua anak gadis yang usianya masih 6 tahun dipertemukan di posko penyelamatan. Saat itu mereka sedang menangis tersedu-sedu karena semua anggota keluarga mereka telah meninggal termasuk kedua orang tua mereka. Karena kejadian itu, kedua gadis kecil yang berusia 6 tahun harus hidup sendiri tanpa tempat tinggal dan uang untuk biaya hidup. Akhirnya mereka berdua menjadi teman dan memutuskan utuk menjalani hidup bersama-sama.
Nama gadis kecil itu adalah Salimah dan Avisa. Salimah terlahir dari orang tua beragama muslim sedangkan Avisa dari orang tua beragama Kristen. Walaupun mereka berbeda keyakinan tapi tidak pernah terpikir oleh mereka untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Mereka meyakini masing-masing agama yang mereka anut dalam kesehariannya. Salimah tiak pernah meniggalkan kewajibanya dalam beribadah. Avisa pun selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Limah teman hidupnya itu. Begitupula dengan Salimah yang tidak mau mengganggu ibadah yang dilakukan Avisa. Mereka hidup dengan ketenangan dan kedamaian dalam hati mereka. Kasih sayang yang mereka berikan melebihi seorang teman tetapi layaknya saudara kandung.
Pagi itu Salimah terbangun sepeti biasa untuk melakukan shalat subuh. Melihat Isa yang masih tertidur dengan wajah yang kelelahan membuat hati Limah kasian dan meneteskan airmata. Limah mengambil jaketnya dan menggunakannya untuk menyelimuti Isa. Sebenarnya kondisi tempat tinggalnya itu sangat dingin tetapi kedua gadis kecil itu sudah terbiasa dengan tempat tinggal beratapkan bintang tanpa alas tidur. Dalam hati limah ia sering bertanya-tanya apakah masa depannya dengan isa hanyalah menjadi geladangan? Sebelumnya Limah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, tapi kini bagi Limah harapan dalam hidup adalah bisa makan dan tidur bersama Isa tanpa ada yang mengganggu.
Isa terbangun dan melihat temannya sedang bersedih sambil menyelimutinya. Isa mencoba menghibur Limah dan mengatakan, “Limah. Sesulit apapun kehidupan ini, aku akan selalu ada di sampingmu dan menjalaninya bersama-sama. Jika hari ini kita tidak dapatkan makanan aku akan menyanyikan lagu untukmu agar lapar yang kita rasakan bisa terlupakan. Bukannya pagi ini seperti biasanya aku akan menemanimu berwudhu dan menunggumu untuk shalat subuh… Ya, karena kamu itu penakut. Jadi setiap kekurangan yang kita miliki akan ada yang melengkapinya”.
Mendengar apa yang dikatakan temannya itu, Limah tersenyum dan menyadari betepa beruntunggnya dia mempunyai teman hidup seperti Isa. Dalam hati limah mengatakan, inilah kebahagiaan. Ya Allah, yang engkau berikan bukan berupa harta atupun kekuasaan melainkan seorang teman yang membuatku kuat dalam hidup.
Limah pun menjawab ocehan Isa, ”Sa kamu pinter ngomong. Apa kita ikutan lomba puisi? Barangkali ada yang kasian sama kamu, Sa. He he he!” kata Limah dengan nada mengejek. Isa tertawa dengan kencang
”Tuhan, kenapa aku hidup dengan teman sejahat dia?!” Dua gadis kecil itu tertawa bersama-sama tanpa memikikarn beban yang mereka tanggung.
***
SETELAH lima tahun berlalu Limah dan Isa beniat untuk mencari tempat tinggal. Selama ini mereka tidur di bawah kolong jembatan dan kini sudah digusur oleh pemerintah. Dengan membawa tas berisikan pakaian dan uang sejumlah 30.000 ribu, mereka berusaha mencari kontrakan. Ketika mereka hampir putus asa, tiba-tiba Limah berkata, ”Sa, bagaimana kalo kita melamar pekerjaan menjadi pembantu. Banyak yang menyediaan tempat tidur sambil bekerja?“
Isa menyetujui ide imah itu, “Tapi melihat penampilan kita yang kotor seperti ini, apa ada yang mau menerima. Orang-orang pasti beranggapan kita gelandanggan yang tidak mempunyai keahlian apapun,” sahut Isa.
“Kamu memang benar, Sa. Tapi kita coba aja, mungkin ada keajaiban nanti,” jawab Limah.
Mereka berdua berjalan mengelilingi perumahan yang terlihat sagat megah dengan pagar yang menjulang tinggi mengartikan bahwa orang-orang itu adalah keluarga yang kaya raya. Avisa dan Salimah berhenti di depan sebuah rumah yang terdapat selembar kertas bertuliskan bahwa dibutuhkan seorang tukang kebun yang rajin dan pekerja keras. Mereka berniat untuk mencobanya. Ternyata pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri yang tidak mempunyai anak. Salimah dan Avisa diterima bekerja dan diberikan tempat tinggal dan pakaian bersih. Mereka berdua sangat bahagia dan bersyukur atas tempat tinggal mereka sekarang.
Hari itu masih sangat pagi sekali, Isa dan Salimah sudah mulai bekerja yang membuat majikan mereka sangat puas dengan apa yang mereka kerjakan. Tetapi Isa adalah pembantu yang paling disayangi oleh keluarga itu bahkan sering sekali Isa diberikan barang-barang dan diajak untuk jalan-jalan. Limah tidak pernah memperdulikan itu, semua yang di pikirannya adalah dia bisa hidup dan makan bersama isa seperti apa yang dia harapkan. Isa selalu membagi hadiah-hadian yang diberikan oleh majikannya. Itulah yang membuat persahabatan mereka sangat kuat dan erat. Setelah 4 bulan mereka bekerja, Isa sering diajak pergi dan bergabung dengan orang-orang kaya. Jadi secara tidak langsung pola berfikir Avisapun mulai terpengaruh oleh majikannya. Di lain tempat, Salimah bekerja dengan keras di rumah mengerjakan pekerjaaan yang seharusnya dikerjakan bersama Avisa. Akhir-akhir ini Limah jarang bisa bertemu dengan Avisa yang sering sekali diajak pergi oleh majikannya.
Suatu hari Limah ingin pergi dari rumah dan mencari pekerjaan lain. Limah sudah sering sekali diperlakukan tidak adil oleh majikannya, bahkan Limah pernah dipekerjakan sangat keras tanpa sepengetuan Avisa. Limah berusaha mengatakan keinginannya itu kepada Avisa. Tetapi Avisa tidak menyetujui keinginan Salimah karena menurut Isa mereka sudah cukup bahagia dengan apa yang mereka dapatkan sekarang. Limah menceritakan kejahatan majikannya kepada Isa.
”Apa itu semua benar? Selama ini aku tidak pernah melihat bahwa Nyonya memperlakukanmu seperti itu, Mah “ jawab Avisa.
“Itu jika di depanmu tapi sebenarnya aku diperlakukan sangat tidak baik, Isa. Coba kamu mengerti keadaanku sekarang ini. Aku sudah tidak bisa lagi tinggal di tempat ini, “kata Salimah menentang perkataan Avisa.
”Tapi kenapa aku tidak berpikiran seperti itu, Mah”jawab Avisa.
“Itu karena kamu selalu diperlakuan sangat baik. Kebutuhanmu terpenuhi, bahkan kamu di sini bukan seorang pembantu melainkan majikan Sa. Aku sekarang sudah tidak kuat lagi aku akan pergi jika kamu tinggal di sini terserah padamu saja,” kata Salimah dengan perasaan sedih dan kecewa kepada sahabatnya itu. Karena sudah banyak terpengaruh oleh majikannya, Avisa tidak bisa mengeerti keinginan Salimah untuk pergi dari rumah itu. Sejak saat itu Salimah memutuskan untuk pergi sendiri tanpa Avisa. Sebelum pergi Salimah mengatakan kekecewaannya yang besar kepada Isa yang sudah tidak menganggap persahabatan mereka dan memilih untuk tinggal dengan kemewahan itu.
”Sebegitu besar kemarahanmu padaku, Limah. Tapi aku tidak bermaksud jahat padamu karena menurutku ini jalan terbaik untuk kita. Hidup itu sangat sulit kenapa kita sia-siakan yang telah ada?!“ Salimah tetap pada pendiriannya dan pergi meinggalkan Avisa.
***
SETELAH 7 tahun berlalu, sekarang Avisa menjadi pengusaha sukses mewakili perusahaan milik majikannya dulu dan hidup dengan bahagia. Banyak perusahaan yang dia dirikan. Avisa juga menjadi salah satu pengusaha sukses muda dengan latar belakang yang sangat menyedihkan. Walaupun sudah terpisah selama bertahun-tahun, Avisa masih memikirkan sahabatnya. Dimana dia tinggal dan bagimana kondisinya sekarang?
Di lain tempat, kehidupan Salimah berbandng terbalik dengan Avisa. Sampai sekarang Salimah tetap bekerja menjadi pembantu rumah tangga dan kehidupannya yang serba susah. Salimah merasa kesusahan untuk membayar rumah kontrakan yang benilai 200.000 ribu satu bulannya. Sedangkan pendapatannya dari pembantu hanya untuk makan dan tersisa 100.000 ribu saja. Salimah sering berhutang kepada tetagganya dan sekarang hutanggnya sudah menumpuk.
Limah berniat untuk mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar. Dia datang pada sebuah perusahaan yang pada saat itu menyediakan lapangan pekerjaan sebagai pelayan kopi bagi pegawai kantor itu. Gaji yang ditawarkan sangat besar. Salimah sangat tertarik dan mulai bekerja di perusahaan itu. Tanpa dia ketahui, perusahaan itu adalah salah satu perusahaan milik Avisa, sahabat kecilnya.
Saat ingin engantarkan kopi, Salimah dipertemukan dengan Avisa di suatu ruangan. Salimah pun menyadari bahwa pemilik perusahaan muda yang sukses itu adalah Avisa. Avisa merasa terkejut melihat Salimah yang masih hidup susah seperti yang dia lihat saat itu.
”Limah? Bagaimana kabarmu? Kemana saja kau selama ini? Ternyata selama ini … Kenapa kau tidak mencariku dan menceritakaannya padaku,” tanya Avisa retoris.
”Kamu sekarang sudah menjadi orang hebat. Hidup kita jauh berbeda, Sa. Mungkn Ini yang namanya takdir, walaupun kita memulai hidup sama-sama susah tapi pada akhirnya kamu hidup jauh di atasku. Tapi sudahlah, aku sekarang menyadari posisiku seperti 7 tahun yang lalu. Kita bukan lagi sahabat kecil, karena kehidupan kita sekarng sudah berbeda,“ jawab Salimah dengan air mata menetes di pipinya.
”Limah, apa sebesar itu kebencianmu padaku? Aku sangat merindukanmu selama ini, Mah!” Avisa menjawab dengan perasaan sedih dan menyesal atas apa yang dilakukannya dulu.
Tanpa menjawabnya lagi Salimah pergi meninggakan Avisa. Sejak saat itu Salimah mengundurkan diri dari pekerjaanya karena tidak bisa terus melihat wajah Avisa setiap hari yang akan menginggatkan kekecewaannnya.
Menyadari bahwa Salimah telah mengundurkan diri, Avisa mencoba mencari tau tempat tinggal Salimah. Setelah dia mengetahui kehidupan Salimah yang begitu sulit, Avisa ingin membantu Salimah dengan menawarkan pekerjaan tetapi lewat orang lain. Ia sadar jika Salimah tahu itu darinya dia akan menolaknya. Salimah bekerja tanpa menyadari itu semua. Dengan gaji yang cukup besar Salimah bisa membayar hutang-hutannya.
Siang itu Salimah pergi ke rumah sakit dan membicarakan tentang penyakit yang dieritanya selam 4 tahun terakhir ini. Ternyata Salimah menderita penyakit kanker hati. Karena biaya operasi yang mahal Salimah tidak bisa melakukannya. Setelah dokter menjelaskan bahwa kesempatan Salimah hidup hanya beberapa bulan lagi. Salimah berniat untuk pergi sambil menikmati hari terakhirnya.
***
SATU bulan kemudian Avisa ingin menemui Salimah tetapi tidak bisa melihatnya. Pegawai lain mengatakan bahwa Salimah sudah mengudurkan diri dua minggu yang lalu. Avisa tidak bisa menemukan Salimah dimanapun. Sebulan kemudian Avisa menerima surat yang bertuliskan itu dari sahabat kecilnya. Avisa segera membukanya dengan perasaan rindu dan kekhawatiran yang besar.
Isa, aku Limah. Saat surat ini datang padamu, jangan ada air mata yang kau teteskan. Karena aku ingin sahabatku ini bahagia. Lama ingin aku katakan bahwa aku sangat banga padamu Sa, selamat atas kesuksesanmu. Kamu sekarang bisa idur di tempat yang nyaman bukan lagi beratapkan bintang seperti yang kita rasakan dulu. Kamu bisa makan dengan teratur. Avisa, sebenarnya aku tidak pernah membencimu. Karena sampai kapanpun kamu adalah sahabat kecilku yang pernah tidur dan makan bersamaku, menyanyikan lagu yang menggantikan laparku. Isa yang aku sesali adalah kenapa aku meningalkanmu dulu. Seharusnya aku selalu bersamamu apapun yag terjadi. Selama ini harapanku dalam hidup tetap sama seperti dulu aku ingin makan dan hidup bersamamu selamanya. Tapi aku sendiri yang menghancurkannya. Setidaknya sekarang sebelum aku pergi aku bisa bertemu denganmu walaupun aku hanya berkata hal buruk padamu. Itu arena aku tidak bisa menutupi kerinduan dan penyesalannku, Sa.
Dan terimakasih untuk pekerjaan yang kau berikan. Tapi tidak ada yang bisa aku berikan selain doa untuk kebahagiaanmu. Aku akan mengatakan langsung kepada Tuhan nanti bahwa orang yang paling indah dalam hidupku adalah Avisa. Sa, saat ini aku ada ditempa tinggal kita yang dulu suasananya sangat berbeda dari yang dulu. Tapi kenangan yang pernah kita lakukan masih terlihat jelas di mataku dan di tempat ini. Isa, aku sekarang sudah hidup dengan tenang walaupun akhirnya aku lebih dulu pergi tapi hidupku sangat indah saat bersamamu. Jangan larut dalam kesedihanmu nanti. Karena aku tidak menyukainya. Semangat Isa aku selalu bersamamu tetap seperti dulu apaupun tidak nyata tapi dalam hati mu.
Avisa tesungkur tidak berdaya setelah membaca surat itu,dengan air mata dan rasa sedih yang begitu besar Avisa sangat merindukan Salimah. Ternyata selama ini sahabatnya itu tidak membencinya dan masih menganggapnya sebagai sahabat sampai akhir kematiannya.
Karena begitu besar rasa sayang yang dimiliki Avisa pada sahabatnya dia mendirikan sebuah yayasan untuk menampung anak-anak jalanan supaya tidak lagi terulang seperti krhidupannya dulu dan Salimah. Yayasan itu diberi nama SALIMAH, untuk sahabat kecilnya yang sekarang telah tiada. Avisa setiap tahun datang ke makam Salimah dan bercerita tentang yayasan yang didirikan. Dia bercerita bahwa banyak sekali anak-anak yang hidup sepertinya tetapi sekarang lebih baik. Avisa melakukannya sampai dia meninggal. Yayasan yang didirikannya sekarang sudah sangat berkembang dan mampu membantu anak-anak jalanan.*
* Elin Nur Indriyani – XI MIPA 6 / SMADA 36