
Judul : Merpati Biru
Jenis : Novel
Pengarang : Achmad Munif
Penerbit : Navila
Tahun terbit : 2000
Tebal : x + 284 halaman
Achmad Munif merupakan salah seorang penulis yang berani mecoba mengangkat isu sosial dalam masyarakat. Dengan latar belakang pendidikan ilmu filsafat di Universitas Gadjah Mada membuat ia memiliki pemikiran yang kritis mengenai dasar terjadinya suatu peristiwa. Selain itu, pernah berkecimpung sebagai jurnalis, editor dan juga penulis skenario membuat Achmad Munif paham betul terkait bagaimana cara pandang masyarakat untuk kemudian dituangkan dalam tulisan yang tajam.
Secara garis besar, idealisme merupakan inti yang dimaknai penulis. Membimbing kita untuk melihat bagaimana penulis mengangkat adanya kontradiksi dalam dunia perkuliahan adalah realitas yang ingin diangkat. Keberadaan ‘merpati biru’ atau yang bisa kita maknai ‘wanita yang bisa dipesan’ di lingkungan pendidikan tentu memunculkan reaksi dari idealis-idealis. Lewat inilah penulis menggambarkan adanya konflik juga reaksi yang mengambil sudut pandang beragam.
Ken Ratri yang dijadikan sebagai tokoh utama bersama dua rekannya, Lusi dan Nanil digambarkan sebagai ‘merpati biru’ yang ada di Universitas Nusantara Yogyakarta. Hal tersebut bukan terjadi tanpa alasan. Ken Ratri yang saat ini mengambil pendidikan psikologi, memiliki ayah seorang mantan pengusaha sukses yang kini menjadi narapidana, juga memiliki ibu yang menderita stres akibat musibah tersebut. Mau tak mau Ken Ratri harus menjadi tulang punggung untuk orangtua juga Maya, adiknya yang kini tengah menempuh pendidikan tinggi. Tekanan tak berhenti disitu, menjauhnya sang kekasih, Zulkifli turut mendorong Ken Ratri untuk mantap memilih mencari perlindungan kepada Mama Ani, yang merupakan seorang mucikari.
Berada di jalan penuh dosa selama 5 tahun terkadang membuat Ken Ratri merenung. Hingga suatu hari di teras rumahnya ia menjumpai sebuah majalah Suara Mahasiswa yang memuat headline dengan tulisan kapital Sisi Muram Dunia Pendidikan, Banyak Merpati Biru di Kampus. Tentu hal tersebut menuai berbagai reaksi baik dari rektor, mahasiswa, masyarakat dan tentu dirinya dan rekan-rekannya.
Ada sekelompok pihak yang mengaku idealis yang amat menentang adanya ‘kotoran’ dalam dunia pendidikan. Mereka bahkan menuntut kampus untuk secara gamblang membuka aib tersebut. Selain itu, ada juga pihak yang mencoba memahami dengan tetap tidak membenarkan adanya praktik tersebut. Mereka juga tidak menutup mata bahwa beberapa oknum rektor juga punya andil dalam masalah ini. Iming-iming akan diberi nilai tinggi ataupun ancaman agar tidak diluluskan sering simpang siur didengar sebagai bujuk rayu para rektor.
Masih dengan kecemasannya, Ken Ratri berusaha mengalihkan pikiran negatifnya apabila rahasianya selama ini terbongkar. Untuk itu ia kembal ke kampung halaman dan menjenguk orangtuanya. Betapa terkejutnya dia melihat keadaan orangtuanya yang perlahan pulih dan bahkan mulai mempelajari ilmu agama, yang dulu mereka sama sekali tak mengajarinya. Tamparan bagi Ken Ratri saat ia kembali ke Yogya hingga ia mantap untuk merubah hidupnya kembali ke jalan yang benar. Maya terkejut juga merasa bersalah karena baru mengetahui hal tersebut, namun ia mencoba berbaikan dengan keadaan.
Konflik lain juga timbul saat Ken Ratri dalam penyusunan skripsinya harus menghadapi anak dengan penyakit mental dengan orangtua, Ben dan Vitri yang tidak rukun. Pernikahan yang bukan atas dasar cinta dan keacuhan mereka terhdap Andi, anak mereka membuat Ken Ratri mencoba mendamaikan keduanya dan membantu Andi untuk bisa bersosialisasi dengan baik. Hingga pada akhirnya usahanya berhasil dan keluarga Ben dan Andi dapat hidup dengan kasih sayang.
Beralih pada romansa Ken Ratri. Ia didekati oleh Satrio, seorang ketua Senat Mahasiswa. Ia minder dengan Satrio yang mengetahui masa lalunya.Namun Satrio tetap menerima ia apa adanya. Ken Ratri yang kini menjadi kekasih Satrio, harus menghadapi masalah baru bahwa rahasia masa lalunya harus terbongkar. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Hanafiah, rival Satrio yang berusaha menggantikan posisi ketua. Namun tak disangka ternyata Hanafiah dulu pernah merayu Ken Ratri dan jadilah Satrio tetap menjadi ketua Senat Mahasiswa. Mereka menjadi pasangan yang berbahagia dan saling mendukung dalam hal positif.
Gaya bahasa dan alur yang dibawakan cukup mudah dipahami oleh pembaca. Meski terkadang terdapat flashback, namun tidak menjadikan bingung para pembaca. Narasi dan dialog dari tokoh-tokoh yang ada menggambarkan secara kuat bagaimana karakter yang dimiliki. Keberagaman karakter juga menjadi poin plus dalam memahami masalah. Selain itu, cerita yang menjadi pendamping dari cerita utama juga tak kalah menarik. Misalnya bagimana tokoh utama menghadapi masalah terkait penelitian skripsinya terhadap keluarga bermasalah dengan anak down syndrome maupun bagaimana kisah romansanya yang tentu memiliki lika-liku tersendiri.
Tokoh utama yang dikemas dalam titel kurang baik namun justru memiliki pemikiran bijaksana membuat pembaca tersadar akan realita bahwa hitam tak selalu hitam dan putih tak selalu bersih. Setiap manusia memiliki dua sisi yang berbeda, hanya tinggal kita yang mau berjalan ke arah yang mana. Meski mengangkat isu negatif tak membuat novel ini kekurangan pesan moral yang dapat diambil. Tentang bagaimana seharusnya manusia tak sepenuhnya menutup mata dan melihat dari satu sudut pandang suatu masalah.
Namun dalam penulisannya, bisa ditemukan beberapa kata yang salah penulisan yang tidak sepatutnya ada.Secara tampilan fisik novel ini juga kurang dapat mencuri perhatian sehingga tidak memberi kesan apapun tentang kisah yang akan diangkat. Selain itu dalam akhir cerita tidak dijabarkan bagaimana keadaan rekan-rekannya serta Mama Ani yang membuat pembaca merasa kurang puas.
Dengan kelebihan dan kekurangan novel ini, tidak menghapus kesan pembaca akan pesan moral yang disampaikan. Jadi saya kira novel ini bisa dibaca oleh umumnya pelajar SMA dan orang dewasa, khususnya oleh para mahasiswa/mahasiswi. Dengan membaca novel ini tentunya diharapkan pembaca dapat memaknai bagaimana manusia harus bersikap.
Bahwa manusia memiliki potensi baik dan buruk, benar dan salah dan menjadi air yang menghanyutkan menuju kebaikan atau keburukan. Karena kembali pada awal bahwa baik dan buruk hanya cap yang relatif. Selain itu, kita diajak berpikir kembali dan memaknai bahwa idealisme bukan sikap menutup mata dan yang selalu bergantung pada harapan di langit, tanpa mau sedikit menengok realitas yang ada di lingkungannya. Idealisme adalah sikap yang membumi, menyadari realitas yang ada dan berusaha memperbaiki atau setidaknya mencoba membuat keadaan semakin lebih baik.*
* Umi Nur Habibah – XI MIPA-4 / SMADA 38