Si Gadis Hoodie

karya Anggita Ayu P.

NAMAKU Hiro. Hari ini adalah awal masuk bagi seluruh siswa di sekolahku. Setelah liburan panjang, hari ini adalah awal aku masuk semester 1 di kelas XI SMA Negeri 2 Ponorogo ini.

Di perjalanan menuju sekolah, aku melihat seorang gadis memakai hoodie, jaket dengan topi. Sepertinya dia sedang menatap seseorang. Aku menjadi bingung sebenarnya dia sedang  menatap siapa, aku menoleh ke sana-sini tapi tidak ada seseorangpun di sini kecuali aku sendiri.

Kemudian dia menoleh ke arahku dengan tersenyum lalu pergi. Tak sadar entah kenapa aku mengikuti gadis hoodie itu pergi, tapi sesaat dia menghilang. Aku terkejut gadis itu tiba-tiba menghilang dan suasana menjadi aneh.

Beepbeep! Aku kaget. Huuf, aku kira apa ternyata hanya Hpku berbunyi. Aku melihat Hpku ada panggilan dari Taro teman kelasku.

“Hei  Hiro, kau dimana? Aku sudah lama menunggumu dan Rina sudah berangkat telebih dulu tanpa menunggu kita. Kita jangan sampai terlambat, nanti bakalan dapat hukuman mengerti!”

“Iya iya aku mengerti,” jawabku.

Lalu aku melihat jam tanganku ternyata hampir pukul tujuh. Temanku benar. Aku berlari dengan cepat dan bertemu temanku lalu lari lagi dengan melewati jalan pintas agar cepat menuju ke sekolah. Dan akhirnya kami sampai di sekolah

“Huuf, sampai juga. Beruntung kita tepat waktu,”ucap Taro.

Kami bergegas ke kelas, menaruh tas, dan menuju lapangan untuk upacara. Begitu selesai upacara kami kembali ke kelas dan istirahat sebentar karena lelah berlari dan berdiri saat upacara.

“Haah, melelahkan. Kalian darimana saja tadi? Aku capek menunggu tau,” tanya Rina.

“Oi jangan tanya aku, tanya saja sama Hiro.”

“Ah, maaf ya, teman-teman. Kalian tadi menungguku. Sebenarnya tadi aku melihat seorang gadis hoodie lalu di menatapku dengan tersenyum dan pergi menghilang, itu saja!” jawabku.

“Woah, gadis hoodie! Dia pakai warna apa? Wajahnya cantik gak? Hi..hi..”

“Dasar kau, Taro.”

“A ha ha, entahlah! Wajahnya tidak begitu jelas hanya bagian bibirnya yang tersenyum dan yang dia pakai berwarna abu-abu polos,” ucapku

“Wah, bikin penasaran saja,” ujar Taro.

Teng teng. Bel berbunyi dan mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing. Aku masih memikirkan si gadis hoodie itu, kenapa saat dia menoleh ke arahku dia tersenyum? Apa itu hanya sopan santun saja saat bertemu seseorang siapa saja? Lebih baik jika aku lupa saja tentang gadis hoodie itu tapi tetap tak bisa. Menyebalkan.

Bu Guru datang dan semua memberi salam pada Bu Guru.

“Selamat pagi semua! Nah, Ibu akan memberikan pengumuman untuk semua bahwa akan ada murid baru di sini.”

Semua menjadi ribut tentang datangnya murid baru. Mereka bertanya pada Bu Guru seperti apa dia.

“Diam kalian semua. Kalian jangan ribut dan banyak bertanya lebih baik kalian berkenalan dengannya secara langsung. Nah, kamu boleh masuk dan perkenalkan pada teman-temanmu.”

Semuanya menjadi penasaran dan begitu juga denganku. Lalu aku melihat seseorang masuk dan betapa terkejutnya aku ternyata dia si gadis hoodie itu. Temanku pun menanyakanku.

“Hei, Hiro apakah dia si gadis hoodie yang kau ceritakan tadi? Dia memakai hoodie warna abu-abu polos,” ucap Taro dan Rina. Lalu aku mengangguk.

Dia tetap menutup wajahnya dengan hoodie dan menoleh ke sana ke sini lalu diam.

“Kenapa diam? Tolong perkenalkan dirimu ke teman-temanmu dan juga lepaskan hoodie-mu,” ujar Bu Guru.

“Ah, maafkan saya, Bu. Saya hanya ingin melihat teman baruku saja. Baiklah, akan saya buka. Perkenalkan namaku Reika Pratiwi asal Gresik dan maaf atas sikapku yang dingin semoga kita menjadi teman yang baik. Mohon bantuannya!” ucapnya.

Semua diam dan menatap Reika karena dia begitu cantik dan imut. Aku membayangkan kalau dia ngambek mungkin dia sangat imut dan lucu sekali. Aku tersenyum sendiri dan cowok lain juga sama membayangkan dia.

“Baiklah, mungkin ada yang ditanyakan pada Reika? Tidak ada? Kalau begitu, Reika kamu bisa duduk di sana,” ucap  Bu Guru.

“Baik Bu!”

Wah aku beruntung sekali hari ini, ternyata Reika duduk di sebelahku. Tetapi kenapa aku kurang semangat? Apa karena dia selalu menatapku waktu dia akan duduk kebangkunya? Bikin bingung saja. Menyebalkan.

Waktu bel istirahat, banyak sekali teman-teman berkumpul dengan Reika dan ingin berkenalan lebih dekat. Aku hanya mendengarkan pembicaraan saja nanti saja saat berbicara dengan Reika. Selanjutnya saat selesai pelajaran jam terakhir semua pulang. Aku dan Taro masih belum pulang karena sorenya akan ada extra volly. Tetapi aku melihat di kelas masih ada seseorang, ternyata Reika.

“Reika, kenapa kamu belum pulang? Apa tidak ada seseorang yang mau menjemputmu? Bagaimana jika aku antar kamu pulang?” ucapku.

“Ugh, kamu ternyata terlalu banyak bertanya. Dasar. Tidak, terima kasih sebenarnya aku juga ada ekstra dan aku permisi,” jawabnya dengan sikap yang dingin.

“Wah, benar-benar. Sikapnya sungguh dingin. Padahal Hiro sudah bicara dengan baik, tapi benar juga yang dia katakan, kamu terlalu banyak bertanya. Yang sabar ya Hiro, hi hi hi”

“Huuf, sungguh menyebalkan sikapnya ini,” keluhku.

Aku dan Taro menuju kelapangan dan berkumpul dengan yang lain berbicara pada pelatih dan tiba-tiba seseorang bertanya padaku dan juga Taro

“Hei kau tahu siapa Si Hoodie abu-abu di samping kalian itu?”

“Oh dia, dia seorang cewek yang bernama Reika,” jawabku.

“Wah cewek masuk extra cowok, sungguh amazing. Ha ha.”

“Begitu, ya? Ha ha ha.. Apa Reika masuk extra cowok?!” dengan kompak aku dan Taro terkejut.

“Rei, mana mungkin kamu bisa atau boleh masuk extra cowok? Itu sih mustahil. Benarkan Taro?” tanyaku.

“Ya ya, itu benar. Itu sangat mustahil,” tambah Taro.

“Huuf, dasar. Tidak ada yang namanya mustahil. Aku masuk ekstra cowok cuma ingin merasakan bagaimana aku mengambil passing yang diterima smash-nya para cowok, entah kenapa sungguh luar biasa hebat,” ucapnya.

Dia ada benarnya juga, lebih baik aku membiarkannya dia masuk ekstra cowok. Dan pelatih pun menyuruhku untuk menjaganya karena Reika itu sepupu pelatih. Saat latihan dimulai aku merasakan semangat Reika membara walaupun wajahnya mengeluarkan ekspresi biasa saja. Aku bingung dengan ekspresinya yang sama sekali tak mengeluarkan ekspresi ceria, senang, marah, sedih ataupun yang lain, dia hanya bisa mengeluarkan ekspresinya dengan menggunakan hoodie. Jadi aku menanyakannya pada pelatih.

“Pelatih, aku ingin tanya tentang Reika? Mengapa dia tidak bisa mengeluarkan ekspresinya? Dia bisanya saat menggunakan hoodie, apa yang terjadi pada masa lalunya itu?” tanyaku pada pelatih.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin kerana ibunya yang meningal dunia 2 tahun yang lalu, lalu tinggal bersama ayahnya dan menikah lagi. Namun, ia tidak bisa ceria lagi. Hah, sungguh malangnya dia. Ehem, dan kenapa aku memberitahukannya tentang Reika. Ngomong-ngomong kenapa kamu tanya tentang ini?”

“Ah, itu aku hanya penasaran saja tentang Reika.”

“Dan kenapa kamu di sini terus, cepat latihan lagi sana!”

“Baik, pelatih.”

Aku mengerti sekarang, mungkin karena meninggalnya Ibu Reika, yang membuatnya ia tidak bisa tersenyum lagi pikirku. Bagaimana kalau aku yang akan menghiburnya. Sudah hampir 2 bulan lebih, tetapi tidak ada kemajuan sama sekali hingga aku hampir menyerah.

“Wah kamu sudah menyerah rupanya, kasihan.”

“Kapan aku menyerah, aku akan terus berjuang dalam hal apapun itu, mengerti.”

“Ya ya aku mengerti kok, kamu ini sungguh keras kepala. Dan lebih baik kamu fokus saja latihanmu daripada fokus menghiburku, lombanya sekitar 1 bulan lagi lo!” ucapnya.

“Yah yang kamu katakan benar lebih baik fokus pada tujuanku, dan juga tangan kirimu kenapa lebam-lebam begitu?”

“Iii..tu, aku tiap hari latihan block-follow, luka lebam seperti itu tidak masalah. Jjj,,,jadi aku tidak apa-apa.”

“Hm, kenapa bicaramu jadi gugup begitu, pasti kamu ada masalahkan?”

“Eh, gak ada masalah kok, sama sekali. Dah aku pulang dulu.”

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa!”

Entah kenapa aku jadi curiga, saat bicara dengan gugup kemungkinannya dia berbohong pasti dia sedang menyembunyikan sesuatu. Jadi aku mengikutinya diam-diam. Ternyata dia sampai di rumahnya dan wajahnya menjadi sangat suram saat masuk rumah. Aku menuju belakang rumahnya dengan santai agar seseorang tidak mencurigaku. Aku mencari dinding kecil agar aku bisa melihatnya,entah kenapa aku merasa malu atau bersalah menguntit seseorang.

Lalu seorang wanita tua datang bersama Reika sedang berbincang, mungkin dia Ibu Tiri Reika. Aku terkejut saat melihat Ibu Tirinya sedang memukul wajah Reika berulang kali. Reika terjatuh dan hanya menahan rasa sakitnya yang dialami. Aku merasa kesal yang ibu tiri lakukan pada Reika. Aku harus kesana tetapi seseorang menghalangiku dan mengusirku. Lebih baik besok aku ingin berbicara dengan Reika apa yang sebenarnya terjadi. Dan pada keesokan harinya,

“Rei, ingin bertanya padamu tentang ibu tirimu. Kenapa dia tega memukulimu dengan keras? Apa yang terjadi?”

“Bagaimana kamu bisa tahu jika ibu tiriku memukulku?”

“Saat itu aku curiga denganmu saat gugup hingga aku mengikutimu dan melihat kegiatan yang kamu lakukan sampai-sampai tanganmu bisa lebam dan ternyata ibu tirimu yang melakukannya, jadi apa yang terjadi? Apa ayahmu tidak tahu tentang hal ini?”

“Ini bukan urusanmu. Jadi jangan ikut campur masalah keluargaku. Jika kamu ikut campur maka akan terjadi ancaman dan kau akan dalam bahaya.”

Wajah Reika menjadi sedih dan memohon untuk tidak ikut campur masalah keluarganya, juga yang terjadi waktu itu harus dirahasiakan. Aku mengangguk sedikit, tetapi ini tidak bisa dibiarkan karena aku sudah berjanji untuk tetap menjaganya. Lalu aku membawa kamera dan direkam untuk menjadi bukti kemudian memberikannya pada seseorang.

“Permisi, apakah anda Ayahnya Reika?”

“Ya, kenapa kamu ingin bertemu dengan saya?”

“Ya, sebenarnya saya menanyakan tentang Bapak. Apakah Bapak sangat menyayangi putri Bapak?”

“Tentu sangat sayang lebih dari apapun, kenapa kamu menanyakan ini?”

“Bagus, aku ingin memberikan sesuatu untuk Bapak”

Aku memberikan rekaman itu, lalu Ayah Reika terkejut dan mengeluarkan amarah yang sangat besar kemudian langsung pergi.

Keesokan harinya aku bertemu dengan Ayahnya dan Reika, mengucapkan terima kasih karena telah menjaganya, namun wajah Reika ketakutan

“Kenapa wajahmu ketakutan begitu Reika?” tanyaku.

“Sebenanya aku takut akan ancaman yang dia berikan, aku sangat khawatir.”

“Jangan khawatir sayang, mana mungkin ada ancaman itu hanya gertakan saja. Ayah sudah melaporkannya pada polisi dan dia akan dipenjarakan, sekarang kamu bisa tersenyum lagi seperti dulu, oke?”

“Yang dikatakan Ayahmu benar itu hanya sebuah gertakan saja, mengerti.”

“Baiklah, aku mengerti”

Akhirnya aku senang semua jadi tenang. Lalu aku kembali latihan volly bersama teman-teman dan aku di pilih menjadi kapten volly. Sementara itu Reika mengajakku berbicara.

“Ada apa Rei? Dan kenapa kamu selalu saja memakai hoodie sih.”

“Biarin, aku terbiasa memakainya jadi sedikit risih jika tidak setiap hari aku memakainya.”

“Ya ya, aku mengerti. Nah, aku ingat juga aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Kamu ingin mengatakan apa?”

“Sebelum itu kamu saja yang terlebih dahulu.”

“Enggak, kamu sajalah.”

“Kamu saja, deh.”

“Kamu”

“Kamu”

“Oke oke, Cukup lebih baik kalau kita bersama-sama mengatakannya.”

“B-Baiklah”

Entah kenapa aku jadi deg-degan saat ingin mengatakannya, wajah Reika memerah apa dia sakit atau sedang malu. Lalu hitungan ketiga kami mengatakan.

“H-Hiro a-aku suka padamu.”

“Reika aku menyukaimu.”

Aku dan Reika terkejut saat mengatakannya bersama-sama bahwa kami berdua sama-sama saling menyukai.*

* Anggita Ayu P. – XI MIPA-1 / SMADA 36

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.