
Judul : Sapiens (Riwayat Singkat Manusia)
Tebal : 521 halaman
Tahun Terbit : Juli – 2017
Penulis : Yuval Noah Harari
Penerbit : Alvabet
Jenis cover : Soft cover
Sapiens adalah Riwayat Singkat Umat Manusia atau yang dalam edisi aslinya berjudul Kitzur Toldot Ha’enoshut adalah buku ke-3 di awal tahun 2018 ini yang telah saya rampungkan. Ya, tahun ini saya mencoba men-challenge diri dengan mengikuti reading challenge dari Goodreads. Sebelumnya, buku karangan jurnalis senior Rosihan Anwar Sejarah Kecil dan novel satir jenaka Andrea Hirata Sirkus Pohon sudah lebih dulu khatam.Saya semula memperkirakan akan selesai membaca karya Yuval Noah Harari setebal 521 halaman. Nyatanya, buku yang mengiringi Homo Deus ini selesai dalam 15 hari saja. Gaya penulisan yang relatif cair membuat alur bahasan yang terkesan berat menjadi renyah. Mungkin malah seperti membaca novel. Bahkan di beberapa bab mengingatkankan saya pada karya Dee Lestari, Freddie Mercury, Carl Sagan, hingga film Hollywood.
SAPIENS sendiri merujuk pada spesies. Dalam klasifikasinya, sapiensberkerabat dengan spesies dari sesama genus manusia (homo) seperti neanderthal, erectus, soloensis, dll. Sapiens merupakan spesies yang mengalami revolusi kognitif lebih cepat daripada spesies lain. Itulah mengapa revolusi ini berperan menjadikan merekapenakluk belahan-belahan bumi di luar Afro-Asia dalam waktu yang relatif singkat (70 ribu tahun).Masa-masa awal mereka adalah sebagai pemburu-pengumpul. Dengan teknologi yang sangat sederhana. Dibandingkan makhluk hidup lain yang relatif lebih besar, ganas, atau lebih cepat, sapiens memiliki keunggulan menjinakkan dan memanfaatkan api.Api adalah terobosan yang membuat mereka bertahan dari serangan hewan buas, berguna untuk memasak, menghangatkan diri di musim dingin, bahkan simbol kekuasaan. Film The Jungle Book dari adaptasi novel Rudyard Kipling menamai api sebagai Red Flower. Dan di film itu jelas digambarkan peran api yang sangat ditakuti sekaligus bahan rebutan makhluk hutan.Kalau membayangkan bumi 70 ribu tahun yang lalu, kita mungkin takjub bagaimana daratan dan lautan yang sedemikian luas kemudian berhasil kita kuasai. Manusia bisa survive sementara mamoth, dinosaurus, atau hewan-hewan lainnya terpaksa harus berevolusi bahkan punah. Homo sapiens adalah hewan buas yang tidak pernah puas.
Sapiens mengolonisasi benua-benua yang bahkan sebelumnya tak ada dalam imajinasi. Merekamembantai hewan-hewan purba. Mengubah struktur, menanamkan mitos, agama, kepercayaan, mencipta kebudayaan, hingga di abad ke-21, manusia seolah bisa menjadi tuhan di bumi dengan proyek-proyek rekayasa genetika dan sains yang terus berkembang. Apa yang membuat sapiens kuat dan efektif menguasi bumi dibanding saudaranya neanderthal atau homo erectus adalah ikatan kebersamaan. Mereka merumuskan mitos-mitos kuno dan modern yang kemudian menjadi legitimasi dalam meraih impian secara komunal. Impian yang sebetulnya masih diangan-angan.Mitos-mitos ini oleh Harari antara lain adalah tentang keberadaan dewa-dewa, hak asasi, kemerdekaan, keseteraan, komunisme, kapitalisme, feminisme, dll. Kekuatan mitos-mitos inilah yang menggerakkan tekad manusia beradad-abad lamanya untuk tetap secara tidak sadar bersepakat mempertahankan kerja sama.
Mitos kemerdekaan membuat buruh-buruh di Australia mogok massal mendukung buruh-buruh Indonesia yang tidak mau memberangkatkan kapal-kapal Belanda menuju perairan Indonesia pada 1946. Mitos kemakmuran membuat kaum Bolshevik mengambil alih fungsi pemerintahan Tsar dan lahirlah gerakan komunisme. Mitos adalah sebuah nilai dan imaji yang mampu menyatukan beragam sapiens yang tidak saling kenal ke dalam satu ikatan perasaan kebersamaan. Pada masa 10 ribu tahun yang lalu, sapiens telah memasuki periode Revolusi Pertanian. Mereka meninggalkan kegiatan berburu dan mulai mengenal teknik pertanian. Mereka mulai berternak dan membangun desa. Perubahan ini bukannya tanpa konsekuensi. Walaupun ketika panen tiba mereka mendapatkan rata-rata makanan lebih banyak, sapiens yang sebelumnya terlatih hidup nomaden, mengonsumsi makanan bervariasi, dan bebas, kini harus tergantung pada musim. Mereka mulai cemas pada tikus dan belalang di ladang. Membentengi lahan karena khawatir tanahnya direbut kelompok lain.
Pada masa modern, apa yang diwariskan oleh Revolusi Pertanian adalah keterikatan dan ketergantungan manusia pada sumber daya pencaharian. Rasa aman yang harus membuat mereka terbeban pada produk lembaga keuangan, asuransi kesehatan, dan sekuritas. Manusia modern di negara industrialis tidak bebas dan harus siap dengan ancaman apa saja dari efek global pasar modal yang mempengaruhi fluktuasi hidupnya. Warisan lainnya adalah dikenalnya sistem kelas. Hirarki yang didahului dengan dominasi dari kelas yang lebih super berdasarkan agama, ekonomi, ras, atau gender. Segregasi ras kulit putih (majikan) dan kulit hitam (budak) di Amerika yang direkam oleh Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird, kasta dalam agama Hindu, atau dominasi budaya patriarki adalah contoh dari sekian kasus. Mitos-mitos dan sejarah turut membantu melanggengkan praktik ini. Itulah mengapa hari ini kita masih mendengar isu white supremacy, black lives matter, woman march, atau gerakan #MeToo. Revolusi Pertanian bisa jadi adalah penyumbang gejala anxiety dan depresi pada masa itu, bahkan mungkin secara filosofi hingga saat ini.
Seiring perkembangannya, sapiens mulai menyadari bagaimana menghubungkan dan menyatukan diri mereka di berbagai belahan bumi. Bagaimana “membahasakan” dengan pemahaman yang sama ketika terjadi perniagaan. Apa tools kepercayaan yang harus digunakan ketika jumlah manusia semakin banyak. Uang, imperium, dan agama adalah 3 hal yang dipercaya menjadi instrumen penyatuan umat manusia. Uang adalah bahasa universal dan terpercaya produk asli manusia. Uang memberi kenyamanan seseorang berniaga dengan bangsa lain tanpa takut tertipu karena raja memberikan jaminannya lewat maklumat yang tertera di setiap koin. Uang menjadi bahasa kesepakatan yang menyatukan sapiens, terlepas dari pandangan politik, agama, atau ras. Filsuf Voltaire mengatakan semua agama akan sama saja dihadapan uang. Kekuasaan melahirkan imperium-imperium yang memerintah bangsa-bangsa di dunia. Visi penyatuan manusia adalah penaklukan manusia lainnya dan melanggengkan penindasan budaya mayor terhadap budaya minor. Yang minor tergerus dan lama-lama punah. Kini praktik budaya-budaya modern bisa dibilang bukanlah budaya asli, karena sudah tercampur dengan kebudayaan hasil imperium yang pernah berkuasa pada masa itu.
Imperium mencatatkan sejarah. Dalam sejarah sukar membedakan orang baik/jahat. Imperialisme Barat di Asia misalnya adalah jahat, tetapi ia mewariskan demokrasi, tata hukum, iptek, sastra, dll. Di abad 21, kita hidup pada sebuah imperium yang bercirikan pasar bebas, globalisasi, melonggarnya nasionalisme, hukum internasional, dan opini global. Sementara agama menjadi instrumen penyatuan karena kepercayaan manusia terhadap banyak tuhan (politeis) atau satu tuhan (monoteis). Formula dakwah menjadi alat yang menjangkau manusia-manusia untuk bersama-sama menyembah tuhan yang sama. Walaupun tidak jarang dalam praktik dakwahnya dilakukan dengan jalan kekerasan. Di zaman modern, manusia telah menemukan agama baru yang tidak memuja kuasa adi-manusiawi. Ia adalah agama kemanusiaan yang menganggap tinggi humanisme dari sisi liberal, sosialis, maupun evolusioner.
Revolusilain yang penting dalam periodeisasi sapiens adalah sains. Sains menjelaskan ketidaktahuan yang dialami manusia. Ia memberi pintu bertanya dan mencari jawaban yang sebelumnya selalu mandek ditemukan terbatas kitab suci. Revolusi sains memungkinkan sapiens menerima kebenaran, ilmu, dan penemuan baru. Ia pun memunculkan bahasa baru: matematika. Bahasa matematika Newton telah mendorong penemuan dan teori baru di berbagai bidang, tidak hanya fisika. Pondasi kekuatan Eropa sejak 1850 adalah kapitalisme dan sains. Dibanding negara-negara Timur atau kekhalifahan muslim, bangsa Eropa mengawinkan sains dan imperium. Itulah sebabnya setelah tahun 1850, Eropa menjadi role model imperium dengan warisannya imperialisme. Ketika sains dikuasai muncul kekuatan pendampingnya. Kapitalisme. Sebuah gagasan yang awalnya bersifat ekonomi namun dalam perjalanannya membentuk karakter dan menjalar ke segala segmen. The Wealth Nations karangan Adam Smith adalah tesis revolusioner yang mengubah pandangan terhadap uang/laba dan kemakmuran. Secara jahat tesis ini berarti “kita boleh tamak karena itu akan meningkatkan ekonomi kolektif.”
Kapitalisme menggerakkan Kerajaan Spanyol memodali pelayaran Colombus hingga ia mencapai Amerika lalu menjarah hasil buminya. Kongsi dagang VOC mencapai Lautan Hindia dan singgah di Nusantara pada abad ke-17. Karena kepentingan bisnis mereka menjalin relasi dengan kerajaan-kerajaan lokal. Harga yg tidak bersahabat dan hasrat monopoli membuat VOC berperang dengan raja-raja Nusantara selama berabad-abad. Momen penting dalam dunia kapital adalah penemuan mesin uap. Sejak saat itu, ilmuwan dan produsen berlomba menciptakan sarana dan mekanisasi meningkatkan hasil industri. Moment yang kita kenal dengan Revolusi Industri.
Revolusi Industri mendorong tingginya pemanfaatan, eksplorasi, dan alih fungsi energi. Tenaga manusia digantikan mesin yang lebih efisien. Hasilnya supply > demand. Banyak barang yang butuh pembeli. Di sinilah muncul termkonsumerisme. Produsen yang tak mau rugi berusaha memasarkan produk dengan beragam trik. Akibatnya, orang membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Sementara ekonomi menengah/rendah condong membeli barang yang sebenarnya tidak perlu, orang-orang kaya malah rajin berinvestasi (kesehatan, pendidikan, gaya hidup sehat). Akibatnya, salah satu masalah selain jurang kesenjangan adalah tumbuhnya gejala obesitas di kalangan menengah-rendah.
Di Bagian terakhir, Harari membahas mengenai masalah fundamental setiap manusia: kebahagiaan. Apakah sapiens abad ke-21 lebih bahagia ketimbang sapiens abad ke-19, 18, atau 70 ribu tahun lalu?Eric Weiner dalam Geography of Bliss pun mencari jawaban pertanyaan serupa. Ia menemukan kebahagiaan subjektif di India, Amerika, atau Nepal karena uang, property, politik, dll. Harari menawarkan faktor lain yang mendasari kebahagiaan: biokimia.Dalih dalam proyek sains abadi sapiens adalah menciptakan manusia yang lebih sehat, lebih baik, lebih maju. Yang dalam paradoksnya hal itu sering tidak sejalan dengan pemulihan ekosistem. Kini negara-negara besar (bahkan Korut) punya nuklir yang kapan saja bisa diluncurkan. Stephen Hawking mungkin benar. Umur manusia tersisa 1 milenium lagi. Sapiens mungkin punah karena teknologi nuklir, kecerdasan buatan, atau pemanasan global. Bukan tidak mungkin juga sebelum masa itu tiba kita telah sampai di Mars dan bikin kaplingan tempat tinggal.
Dalam penutup buku ini, Harari terkesan ironi dengan perkembangan sapiens. Benar bahwa manusia telah menghasilkan banyak hal, tetapi apakah tingkat penderitaan turun? Sapiens cenderung menjadi tuhan yang tak pernah puas dan tak tahu apa tujuan sebenarnya.
Adaperasaan bergidik ketika menyelesaikan karangan Harari ini. Membayangkan leluhur kita yang begitu barbar. Yang DNA-nya tak jauh berbeda dengan kera, namun dalam hitungan ribuan tahun telah menjadi puncak rantai makanan. Organisme yang berpeluang mentransformasi diri ke arah yang tak pernah bisa dibayangkan. Manusia bagaimanapun punya kecenderungan merusak. 100 tahun dari sekarang mungkin manusia melahirkan Wolverine atau Hulk ke dunia nyata. Atas nama misi keamanan dunia sebagaimana nuklir.
Ketika membuka bab pertama buku ini yang pertama terlintas adalah Firaz dan Zarah — tokoh imajinatif Dee Lestari dalam seri Supernova (Partikel). Firaz seorang ahli biologi selalu mengingatkan putrinya, Zarah, untuk tidak bersikap sombong sebagai manusia. Firaz mengatakan fungi adalah organisme yang selama beribu-ribu tahun berperan membentuk kehidupan di bumi.
Manusia pada zaman dahulu kurang kreatif dan masih berkelompok mereka hidup berpindah,membakar hutan untuk membuka lahan sebagai tempat tinggal yang mengakibatkan ekosistem berkurang dan mereka tidak menyadari mereka juga telah membunuh spesies lainnya. Namun dengan berkembangnya zaman manusia mengalami revolusi dan memiliki otak yang lebih besar dan berfungsi untuk berfikir. Setelah itu, berevolusi lagi menjadi manusia modern seperti sekarang ini yang memiliki akal lebih baik,fisik lebih tegak, dan mampu berkomusikasi sehingga dapat hidup berdampingan dengan yang lain. Mampu menciptakan berbagai alat yang lebih canggih seperti mesin-mesin sedangkan manusia purba menciptakan dari pahatan batu seperti alat pemotong yaitu kapak lonjong.*
* Sherin Angela P. – XI IPS-1 / SMADA 38