CITA-CITA DI PESANTREN

Judul Novel       : Cahaya Cinta Pesantren

Penulis               : Ira Madan

Penerbit            : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo

Tahun Terbit     : 2014

Tebal                 : 292 halaman

Ukuran              : 20 cm x 13,5 cm

            Cahaya cinta pesantren adalah suatu karya Ira Madan, selain menyuguhkan wisata ibukota di awal cerita, juga memaparkan suatu alur cerita yang menggelitik perut, menyentuh hati, dan menambah wawasan yang islami dalam kehidupan sosok tokoh utama ketika memulai kehidupannya menjadi santriwati sampai ketika mengarungi hidup baru setelah lulus menjadi alumni pondok pesantren. Tulisan dalam novel ini mengajak para santri dan para alumninya untuk berani bermimpi mengaktualisasi diri.

            Marshila Silalahi terlahir sebagai anak yang mempunyai kecerdasan, Marshila tinggal di kota Medan. Shila terpaksa masuk pesantren untuk memenuhi permintaan kedua orang tuanya menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Amanah. Seperti santri kebanyakan, Shila tak begitu suka dengan kehidupan pesantren hingga akhirnya ia bertemu dengan santri-santri lain yang kemudian menjadi sahabatnya yaitu Cut Faradhilah atau Icut, Aisyah, dan Sherli Amanda atau Manda.  Abu Bakar menjadi salah satu santri yang menyukai Shila. Hal-hal konyol sering dilakukannya seperti surat-surat cinta yang bertumpuk tak pernah dibalas oleh Shila. Shila menganggap Abu Bakar hanya sebatas sahabat, Shila sejak awal sudah terpesona pada satu senyuman pemiliknya adalaha ustadz Rifqi, salah satu ustadz di pondoknya. Hingga dalam satu kejadian Shila mencuri bros Avira (salah satu temannya) pemberian dari ustadz Rifqi  yang ternyata mereka adalah saudara sepupu. Shila cemburu melihat kedekatan Avira dan ustadz Rifqi. Sahabatnya Shila yang bernama Icut, ia mempunyai suatu cita-cita dimasa mendatang yaitu ingin mengabdi dipesantren ini dan ia ingin menjadi seorang ustadzah. Aisyah mempunyai keinginan untuk mendapatkan beasiswa dari Sudan. Manda mempunyai suatu rencana masa depan yaitu hanya ingin menjadi alumnus pondok pesantren agar sejajar dengan sahabatnya. Shila, ia mempunyai suatu harapan, impian, dan obsesinya sekarang adalah ingin menjadi sosok istri shalihah bagi suaminya.

            Datang dimana hari adalah hari perpisahan kelas 6, Shila sedih sangat terpukul atas perpisahan ini. Didalam hatinya Shila terdapat kebahagian yang dimana disimpannya sendiri. Shila sangat gembira setelah tahu kalau Rifqi Al-Farisi akan menjadi salah seorang ustadz di Pesantren Al-Amanah ini. Shila pernah menjadi utusan pesantrennya ke Jepang untuk pelatihan persiapan belajar ke luar negeri. Hal ini sempat menjadi perselisihan dengan sahabatnya Icut karena saat itu Icut menjabat sebagai ketua Bagian Redaksi Komunikasi dan Informasi di Organisasi Santri Pondok Pesantren Al Amanah dan dirasa lebih tepat untuk menjadi perwakilan santri. Tapi hal ini tak membuat persahabatan mereka terputus, karena pada akhirnya mereka menyadari persahabatan lebih penting dari segalanya. Setelah beberapa tahun lulus dari pondok dan menamatkan kuliah di universitas di Jepang, Shila di lamar oleh ustadz Rifqi dan dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama. Namun beberapa tahun setelah pernikahan, Shila jatuh sakit dan diagnosa bahwa Shila mengidap kanker otak. Sejak di pondok, Shila memang sering jatuh pingsan karena sakit kepala yang tak tertahankan. Hingga akhirnya Shla harus menjalani operasi. Sesaat sebelum operasi, Shila meminta sahabatnya Manda untuk menikah dengan suaminya. Saat itu Manda memang baru ditinggalkan orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.  Shila ingin anaknya di rawat oleh orang yang bisa ia percaya dan Manda adalah orang yang tepat untuk merawat anaknya.

            Alurnya yang mengalir memudahkan pembaca memahami cerita. Penggunaan kata yang mudah dipahami membuat novel ini mudah dibaca. Selain itu, sudah ada keterangan yang menjelaskan kata-kata yang berasal dari bahasa asing atau daerah, seperti bolang (panggilan suku Karo yang berarti Kakek).

            Namun, penggunaan diksi yang terbatas dan kurang bervariasi. Sering kali pengarang mengulang-ulang penggunaan pilihan katanya. Akhir ceritanya juga mudah ditebak, sehingga membuat bosan pembacanya.

            Novel Cahaya Cinta Pesantren sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan bahkan bagi yang belum pernah merasakan dunia pesantren sekalipun. Penulis juga menuliskan sejarah Kota Medan dan juga menyisipkan kebiasaan masyarakat setempat.*

* Adining Tyas – XI MIPA-1 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.