PENGISI HATI

Judul buku           :  Pada Senja yang Membawamu Pergi

Pengarang           :  Boy Candra

Penerbit               :  Gagasmedia

Tahun terbit        :  2018

Jumlah halaman  :  246

Boy Candra lahir dan besar di Sumatera Barat. Ia pernah kuliah di jurusan Administrasi pendidikan uneversitas negeri padang. Ia aktif di organisasi komunikasi radio di kampus. Menulis rutin di blog sejak tahun 2011, selain ingin terus menulis novel dan buku fiksi lainnya ia juga mempunyai cita cita untuk menerbitkan buku puisi. Banyak sekali buku karyanya di antaranya Pada Senja yang Membawamu Pergi, Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi. Jatuh Dan Cinta, Satu Hari di 2018, Sebuah Usaha Melupakan, dll.

Buku ini menceritakan kisah seorang laki laki sederhana yang bercita cita sangat mulia yaitu menjadi seorang guru sama seperti bapaknya. Baginya guru merupakan profesi yang sangat ia dambakan karena ia bermimpi dapat mengajar anak – anak yang ada di desanya yang dibilang kurang dalam pendidikan. Kaila, gadis yang membuatnya jatuh cinta melebihi apapun. Terkadang sifatnya yang kekanakan membuat ia mengalah.

Kaila adalah gadis seorang yang berada sedangkan Gian hanya anak dari seorang guru biasa dan Kaila tidak mempermasalahkan semua itu. Terkadang sifat kekanankan Kaila yang tidak bisa Gian mengerti. Ia tidak bisa datang untuk memperingati hari jadi mereka yang dirayakan hampir tiap bulan. Menurut gie itu sangat berlebihan dan tidak menurut Kaila. Saat itu Gian tidak bisa datang karena hujan lebat, disitulah masalah mulai timbul yang mengakibatkan Kaila memutuskan hubungan dengan Gian secara sepihak. Itu semua membuat Gian patah hati ia tidak tahu harus berbuat apa.

Terkadang kenenagan bersama Kaila muncul secara tiba – tiba. Itu semua dapat dilewati Gie karena ketiga sahabatnya yang selalu ada di samping Gie. Pergi ke tempat sebuah wisata yang tidak disengaja mempertemukan Gie dengan seorang wanita. Aira wanita yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya namun anehnya ia mempunyai seorang pacar. Semua itu membuat Gie jatuh  hati pada Aira. Membuka hati dan membangun harapan pada Aira.

Cerita ini dikemas sangat apik oleh Boy Candra, kata kata hiperbola menambah menariknya cerita. Di dalam cerita diselipkan berbagai budaya khas Minangkabau salah satunya Pacu Jawi. Awalnya Pacu Jawi sebagai penghibur petani sesudah panen namun lama kelamaan menjadi sebuah budaya. Pacu Jawi sendiri diadakan di tengah sawah yang penuh dengan lumpur. Selain itu diselipkan juga makanan khas daerah Minagkabau yang belum banyak diketahui orang banyak. Melalui hal tersebut para pembaca dapat menambah pengetahuannya tentang budaya yang ada di Minangkabau. Novel ini banyak mengajarkan bentuk kasih sayang, kasih sayang antara anak dan ayah. Novel ini juga mengunggulkan betapa besarnya sebuah persahabatan yang tidak akan dpisahkan oleh waktu. Selain itu novel ini mengajarkan bagaimana pengabdian seorang guru yang ingin menjadikan muridnya cerdas tanpa mengharap imbalan.

Banyak alur cerita yang hampir mirip dengan novel tersebut sehingga pembaca mudah untuk menebak bagaimana kisah selanjutnya. Bahasa yang campur dengan bahasa Padang sedikit membuat kesulitan saat mencerna walaupun di bawahnya terdapat penjelasan.

Novel ini cocok untuk dibaca semua orang karena mengajarkan hal hal positif yang dapat kita tiru dalam mengejar sebuah cita cita. Dan tidak menjadikan putus cinta sebagai alasan untuk menduakan pendidikan yang kita tempuh. 

* Fatwa K. A. – XI MIPA 6 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.