
Judul buku : Cahaya Cinta Pesantren
Penulis : Ira Madan
Penerbit : PT Tiga Serangkai Mandiri
Kota terbit : Solo
Tahun terbit : 2016
Tebal uku : 290 halaman
Muda, cantik dan miliki bakat menulis. Itulah gambaran singkat dari Ira Madanisa Br Tarigan, S.Pd, M.Si. Perempuan asli Karo yang lahir pada 27 Mei 1987 tersebut tak disangka adalah seorang guru madrasah di KMI Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Ira mengawali pendidikan di SDN No. 06023 Medan pada 1993-1999, kemudian melanjutkan ke MTs Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudhtul Hasanah Medan Tahun 2000-2002. Setelah lulus ia masuk pada MA Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudhtul Hasanah Medan Tahun 2003-2005. Gelar sarjana pendidikan ia peroleh dari Universitas Islam Sumatera Utara pada juruan Matematika FKIP Tahun 2006–2009. Adapun magisternya berhasil dilesaikan pada tahun 2013-2015 pada kampus yang sama dengan jurusan Operasi Riset.
Prestasinya spektakuler yaitu berhasil menulis novel Cahaya Cinta Pesantren yang kemudian diadaftasi menjadi film layar lebar dan tayang pada awal 12 Januari 2017 di bioskop-bioskop tanah air. Sepertinya guru madrasah yang memiliki prestasi seperti itu baru dirinya.
Buku ini menceritakan tentang MarShila Silalahi terlahir sebagai anak yang mempunyai kecerdasan, bahkan hingga mendekati kata genius. Shila selalu menjadi juara di kelasnya. Selain itu dia juga khatam Al-Qur’an. Namun ia memiliki sedikit kenakalan yang menurutnya hanya berbeda sangat tipis dengan kreativitas. Justru kisah kenakalan-kenakalan ala santriwati inilah yang membuat kisah dalam novel ini sangat menarik dan lucu hingga membuat kita terpingkal-pingkal. Sistem pendidikan Kuliyyatul Muallimin Islamiyah di pondok pesantren yang ia tempati banyak mengajarkan, diantaranya pendidikan kepesantrenan yang dianut dari sistem pendidikan Darussalam Gontor.
Meski hidup di pesantren tidak mudah, kegigihan dan kecerdasannya mengantarkan Shila ke Negeri Sakura (Jepang). Bahkan kesempatan itu ia dapat dua kali. Kisah haru tentang sosok ayah juga dipaparkan di sini dan tak lupa juga diselipkan kisah cinta yang manis.
Sampul buku yang di gunakan sangat menarik, alur cerita yang mengalir sehingga mudah dipahami oleh pembaca,dan penggunaan kata yang mudah dipahami membuat novel ini menjadi bacaan yang menarik untuk dibaca. Sudah ada keterangan yang menjelaskan kata-kata yang berasal dari bahasa yang kurang dipahami, seperti bolang (Panggilan suku Karo yang berarti Kakek).
Banyak sekali kesalahan pengetikan. sering kali pengarang mengulang-ulang penggunaan diksi. Akhir ceritanya juga mudah ditebak,sehingga membuat bosan pembacanya dan menjadi kurang tertarik membacanya.
Secara keseluruhan novel ini sudah bagus, ketika ada kekurangan, kekurangan novel tersebut di kurangi dengan cerita yang menyentuh hati para pembaca. Di tambah lagi cerita yang berlatarkan sebuah pesantren yang membuat kita mengetahui bagaimana menjalani kehidupan menjadi seorang santri.*
* Luhanyar Malora – XI MIPA-2 / SMADA 39