P U T U ∞ A Y U

Pagi ini senyum matahari menerobos masuk ke kamar seorang gadis seolah berusaha membangunkannya. Nadine, gadis itu masih menggeliat di balik selimut hingga suara ketukan pintu menghentikannya dari aktifitasnya, helaan nafas kasar ia lakukan dan dengan langkah berat ia membuka pintu kamar. Di balik daun pintu ia melihat wanita berusia 30 tahunan berdiri sambil melipat tangan di dada.

“Jam mu berbunyi dari tadi. Apa kau tidak ingin pergi ke sekolah sweeti?”, tanya wanita itu.

“Tenang Bu aku ke sekolah nanti, sekarang masih jam…”, suaranya tercekat ketika melihat jam dikamarnya, lalu sebuah teriakan nyaring terdengar di seluruh penjuru rumah, “OH YA AMPUN AKU HAMPIR TELAT!!”

Dengan langkah seribu ia pergi menuju kamar mandi.

“Sarapanmu Ibu taruh di tempat makan”, teriak Ibu dari ruang makan.

            ~_~

SMAN 2 GARUDA PONOROGO

Nadine berlari menuju kelasnya, dan…

…brukk!!

Bahunya menabrak seorang pria begitu keras. Tubuhnya terhuyung dan hampir berpelukan dengan lantai jika pria itu tidak menahan tubuhnya. Matanya bertemu dengan manik mata coklat madu pria itu dan aroma maple menenangkan memenuhi indra penciumannya.

“Berterima kasihlah kepadaku karena kau tidak berpelukan dengan benda dingin itu, bukannya melihatku dengan terkejut.”

Ucapan pria itu membuat lamunannya buyar. Kata – katanya sangat dingin, sedingin lantai yang hampir menyentuh punggunggnya. Atau…

…bahkan lebih dari itu!

“Maaf aku buru – buru”, balas Nadine sekenanya.

“Kau beruntung para guru sedang rapat, dan mungkin 20 menit lagi rapatnya selesai, cepat ke kelasmu.”

Entah kenapa kata – katanya tadi terdengar seperti perintah baginya. Suara bass-nya, mata coklat madu, aroma maple, benar – benar seperti candu. Selama menuju kelas, Nadine terus memikirkan pria tadi hingga tanpa sadar dia hamper memasuki kelas kakak kelasnya. Beruntung Pangeran Bulan –ketua kelasnya– mengingatkan.

“Oh anak akselerasi ya mbak?”, kata Bulan.

“Apasih berisik! Mau kemana lo? Mau bolos? Yaelah Lan baru juga masuk udah mau bolos aja”, cerocosnya.

“Ekhm! Menepi dari jalanku, aku ingin mengikuti pelajaran”, ucap pria yang tadi menolong Nadine.

“Bro biasa aja kali ngomongnya baku amat”, balas Nadine.

“Saya gak ada waktu buat balas omonganmu”, jawab pria itu dengan datar.

“Lah itu tadi apa kalo bukan ngomong?”

“Din udah lah sini lo ikut gue aja”, ajak Bulan.

“Terima kasih Pangeran”, kata pria itu.

“Mau kemana lo?”, tanya Nadine

“Udah buruan taro tas lo”

            ~_~

“Oo jadi hari ini Pak Wisnu gak masuk?”, tanya Nadin sambil membaca lembaran kertas ditangannya.

“Iya makanya tuh dia ngasih tugas, katanya buat sekalian latihan pts”, jawab Bulan, “eh Din bentar mampir kantin dulu ya beli cemilan”, kata Bulan sambil menarik lengan baju Nadine.

“Yeuu bambangg”

Di kantin Nadine duduk di salah satu kursi yang tersedia, dia membaca soal yang tertulis di kertas tugas dari Pak Wisnu, dia mecoba membacannya mungkin nanti akan terlintas sedikit jawaban di pikirannya. Menurut kalian apa jawabannya akan terpikirkan? Tentu tidak. Yang terpikirkan adalah bagaimana caranya agar benda pipih kesayangannya bisa tersambung wifi sekolah dan dia bisa mencari jawaban di website kebanggaan semua siswa. BRAINLY.

“Din lo gak beli?”, tanya Bulan sambil meminum kopi botolannya.

“Gak. Nih gue lagi nyambung wifi susah beut gila”, jawabnya sambil sibuk melihat handphone nya.

“Yakin? Nih kopi seger tau”, goda Bulan.

“Gamau. Udah yuk balik ke kelas gue mau ngerjain ini”

“Tumben rajin lo”, ledek Bulan.

“Kan, ngeledek kan lo, udah ah ayookkkk”

Ternyata kegiatannya bersama Bulan di kantin tadi ada yang memperhatikan. Di samping itu sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak Nadine tentang pria yang ia temui dan membutuhkan jawaban segera, karena jika tidak dia akan terus penasaran. Seperti pagi ini setelah selesai mengerjakan soal latihan dengan bantuan website andalan dan grup penyalur pap-papan jawaban, dia memposisikan diri dan membaca buku untuk diringkas dan ditulis di jurnal literasinya sambil asyik memakan putu ayu yang ia bawa. Memang dia memegang buku dan terlihat membaca, tapi sebenarnya pikirannya berkelana mengulang kejadian demi kejadian tadi.

Ia merasa Bulan kenal dengan pria tadi. Dia ingin memanggil Bulan dan mengajaknya ke gazebo untuk menanyai semua hal tentang pria itu agar semua tanda tanya di benaknya hilang tergantikan oleh jawaban yang ia inginkan.

            ~_~

Roda waktu berputar begitu cepat. Tadi masih pagi dan sekarang matahari sudah meninggi. Tadi udara masih segar sehingga badan bugar, sekarang semua butuh es agar badan kembali segar. Anak – anak XI MIPA 2 –kelas dimana Nadine berada– menaruh kepala diatas meja, beberapa menggelar tikar di belakang kelas dan mengalih fungsikan tas sebagai bantal, lalu memposisikan badan senyaman mungkin.

Ah, sungguh indah tidur siang, pasti di tengah – tengah sibuknya berbagai urusan organisasi, tugas, dan lain – lain, banyak yang menyesal telah lari dari ritual tidur siang sewaktu kecil. Beberapa dari penghuni kelas yang kepanasan dengan sorot sinar matahari siang ini yang tembus hingga dalam ruangan mengipas – ngipaskan buku ke wajahnya.

Di siang panas seperti ini guru matematika peminatan berjalan dari arah kantor melewati koridor dekat sekeretariat PMR, disana terdapat pojok literasi dan siang itu terdapat beberapa anak disana. Tapi yang mereka lakukan bukan melakukan literasi buku, melainkan literasi hp dengan sambungan wifi.

Setelah melalui koridor tersebut Pak Akid –guru matematika peminatan– berbelok ke kanan menuju XI MIPA 2 dengan elegan.

“Assalamu’alaikum, selamat siang”, begitu suara bassnya menyapa kelas siang ini.

“Wa’alaikumsalam pak”, jawab anak – anak serentak. Jawaban ini seakan – akan menjadi komando bagi mereka untuk segera memposisikan diri ke bangku masing – masing.

“Ya Allah pak kok udah masuk?”, kata Wulan

“Gimana sih pak? Padahal belom bel”, sahut Renita mendukung Wulan.

“Bentar pak ini jam segini kayaknya buat tidur siang enak pak”, Cetta tak mau ketinggalan.

“Yuklah Pak ikut rebahan sekalian. Pak Akid pasti capek habis ngajar seharian”, Jevon ikut mengompori.

“Iya pak. Pak Akid istirahat aja pak, kasian kesehatan bapak lo”, balas Cetta.

Kira –  kira begitu keluhan yang terdengar dari suara ribut membangunkan teman yang tertidur, mencari tempat pensil, dan suara cerita tentang apa yang mereka alami yang seakan – akan bersahut – sahutan. Dan Bulan sebagai ketua kelas hanya duduk manis, sambil bermain handphone dan tersenyum manis melihat keadaan kelas yang hampir kacau.

“Yowes to cah, la aku yo kon pie eneh? Iki jane aku yo bener jare Jevon mau, ‘Pak rebahan aja pak rebahan’, tapi yo pie eneh ngge masa depan Indonesia mu iki lo cah”, kata – kata Pak Akid dengan aksen jawanya yang kental berhasil membuat semua anak – anak terdiam terpukau mendengarnya.

“Mantappu jiewaaaaaaa pak Akiddddddddddd”, teriak Nadine dengan suaranya yang nyaring.

“Ihhh apaan sih kok pakek kata – kata khasnya pacar cecan plis ya”, balas Alivyah.

“Halu lo Lip halu”, sarkas Cetta.

“Nadine Oceania Frista pak, absen..”, Bulan berpikir sejenak untuk meneruskan kata – katanya lalu, “Din absen berapa sih lo?”

“Absen 20 dia Lan”, sahut Alivyah.

“Oiya absen 20 Pak itu, di minus aja”, lanjut Bulan yang seolah – olah mengadu.

Ya begitulah suasana kelas. Seharusnya dari nama pelajarannya ‘MATEMATIKA PEMINATAN’ sudah jelas bagi mereka yang tidak minat dengan pelajaran itu bisa pergi keluar kelas. Tapi faktanya tidak semulus halu murid – murid sekalian.

“Wes yo cah, neng bab 6 iki Pak Akid pengen model pembelajarane presentasi. Dadi iki tak bagi materi sak kelompok e. Wektune rong minggu kat saiki. Sok Kamis wayah e kosultasi, terus Jum’at minggu ngarep e peresentasi”, begitulah sefruit tugas yang di sampaikan Pak Akid tanpa ada spasi.

Suara ribut kembali terdengar setelah Pak Akid menyampaikan tugasnya secepat kereta yang melaju tanpa kita tahu apa kereta tersebut dalam mode ngegas atau santai.

Pulang sekolah Nadine dan kelompoknya berkumpul di gazebo depan kelas untuk mengerjakan tugas yang di berikan Pak Akid, kata sang ketua kelompok agar tugasnya dapat segera di konsultasikan dengan Pak Akid.

“Nanti lo ngetik bagian ini”, kata Aren. Kemudian Aren lanjut membagi bagian – bagian nya, “Nah yang terakhir Ayu bagian sama Fatim  bagian cari soal.”

“Oke gue bagian editing yak”, kata Nadine sambil sibuk mengunyah putu ayu.

“Iya nanti kalo gak bisa dibantu Hapis”, kata Aren, “yekan Pis”, kata Aren sambil menaik turunkan alisnya kepada Hafiz.

            ~_~

Serikat Dagang Ginjal

alivyahcansbgt_ eh eh kok kelompok matmin gue gak enak beut ya anaknya

dimm.gillicetta berisik deh! Bersyukur kek  bukannya sambad mulu

alivyahcansbgt_ plis deh cecan bebas okey

dimm.gillicetta cecan apaan gantengan juga gue

alivyahcansbgt_ CETTA PLIS DEH GUE BLOK LAMA LAMA LINE LO!!!

oceania_dinn duh plis ya ini gue lama – lama curiga kalian ada apa – apa

zoyy.comel dihh Nad lo ngerusak chat aja, tadi tuh harusnya biarin dulu terus di ss ini chat nya

pangerannbull buat Cetta ati – ati lo

pangerannbull nama grupnya gak bisa diganti ya?

_wulanconn Gabisaaa!!

renitacunyaa__ Gabisaaa!!

zoyy.comel 2

oceania_dinn yaelah zoy lo mah timbang ngetik gitu doang bisa dicopas terima nulis 2

oceania_dinn lo juga sih Lan ini grup udah dua tahun tapi lo baru komplain

zoyy.comel biarin napa Nad mager gue

zoyy.comel lah si Cetta sama Alivyah ngilang nih?

pangerannbull eh masa kemaren pas raportan gue pake baju bebas biasa ga bawa tas lewat koridor kelas baru ketemu bapak – bapak nanyain ruang guru ‘Pak mau tanya ruang gurunya sebelah mana ya?’, gue di sangkanya guru cuyyyy

Read by 6

pangerannbull dih jahat banget di baca doang

pangerannbull liat aja ntar pas kalian chat gue baca doang

oceania_dinn Lan tolong deh ini udah malem lo jangan makin larut ga jelasnya

pangerannbull dari enam anak anggota grup kok lo sih yang bales

oceania_dinn dih yaudah sih bambang, masih mending lo gue bales

jevongans hehhh syuuuuuutttt diem lo berdua

jevongans gue lagi main berisik amat sih

dim.gillicetta gila rame beut sih

zoyy.comel eh @bintangkecil­­__ @_wulanconn tadi masa pas gue dari km sama Widi ketemu anak kelas 12 cogan beuttttt

alivyahcansbgt_ lah gue gak di tag?

zoyy.comel lo udh ada buruan taken sana

oceania_dinn @pangerannbull buka cp gue

jevongans lah mainnya udah cp cp an nih

pangerannbull oke

_wulanconn lo kenapa Din?

Read by 6

            ~_~

Sabtu pagi ini Nadine dan Bulan jogging di sekitar taman kota. Mereka melakukan ini karena ada maksud tertentu. Sebenarnya Nadine yang memiliki maksud kepada Bulan. Chating di grup semalam berakhir dengan Nadine yang meminta Bulan menemaninya jogging karena ada sesuatu yang ingin Nadine biacarakan soal pria es yang menolongnya ketika dia hampir berpelukan dengan lantai kemarin.

Setelah jogging mereka berjalan dan sesekali setengah berlari menuju warung bubur di pinggir jalan depan masjid yang selalu ramai pembeli. Di perjalanan menuju warung bubur tersebut mereka sesekali bercanda.

“Lan lo kenal gak sama anak 12 yang kemaren gue hampir masuk kelasnya?”, tanya Nadine.

“Kenapa?”

“Kok balik nanya?”, jawab Nadine sambil memperhatikan raut wajah Bulan,”gimana lo kenal dia gak?, tanyanya lagi.

“Lo mau tau?”, sekali lagi Bulan menjawab dengan pertanyan yang Nadine balas dengan anggukan kepalanya.

“Eh Lan nih gue tad dibawain putu ayu sama Ibu lo mau gak?”, tawar Nadine sambil menyodorkan kue nya.

“Plis jangan bahas putu ayu”. Tanggapan yang Bulan berikan memberikan tanda tanya baru buat Nadine.

Setibanya di warung, mereka memesan dua mangkok bubur dan dua gelas teh hangat. Semilir angin membuat rambut Bulan tersapu dan terlihat acak – acakan. Mereka makan dalam diam, dentingan sendok, suara seruput air yang mengalir melalui sedotan terdengar lebih keras hingga mengalahkan ramainya jalanan di depan warung.

“Lo mau tau siapa cowok es kemaren itu?, tanya Bulan memastikan.

“Iya Lan”, jawaban Nadine disertai anggukan mantap.

“Oke Nad. Jadi sebenernya dia itu kakak kandung gue. Gue mohon lo jangan kaget”, kata Bulan memperingati Nadine setelag tau ekspresi terkejut Nadine. Bulan pun melanjutkan ceritanya, “Namanya Galaxy Aldebara. Gue sama dia gak pernah deket sedari kecil, makanya agak canggung.”

“Kenapa lo gak pernah deket?”, tanya Nadine dengan kerutan di dahinya.

“Dulu gue sama ayah gue ada di Jogja soalnya kata mama pas diajak liburan ke Jogja gue gamau pulang dan umur gue udah saatnya masuk TK, jadi ya gue TK disana. Dan disini pernah ada kecelakaan, Temennya bang Alde pas kecil itu kebanyakan lebih tua dari dia, dan salah satu diantaranya suka sama adek bang Alde atau kakak perempuan gue. Tapi bang Alde gak setuju, jadi ya ada perselisihan sampe akhirnya nyawa kakak gue itu hilang”, tanpa Bulan sadari air matanya mengalir di pipinya, ia menghela napas panjang. Nadine yang menyadarinya dan berusaha menenangkan Bulan.

“Lan kalo lo gak kuat udah, gapapa, ga usah di paksain”, kata Nadine menenangkan, tapi Bulan menggeleng,”gak Nad, gue bertekad kalo gue udah mulai sesuatu berarti harus gue selesai in.”

Bulan melanjutkan ceritanya, “dari Ponorogo mama telefon ayah, suaranya sesenggukan. Oiya, tentang putu ayu buatan ibu lo, itu soalnya sore sebelum mama telefon ayah, ayah beliin gue putu ayu. Pas gue mau makan gue denger percakapan ayah sama mama. Dan akhirnya ayah langsung ke Ponorogo tanpa ngajak gue, dan akhirnya sampe SMP kelas 2 gue di Jogja..”, air mata Bulan mengalir semakin deras, bahunya terguncang menandakan sang pemilik raga tak kuat lagi menahan kesedihannya.

“Udah Lan udah. Gue paham, ga usah diterusin ya. Yuk ke taman kota aja”

* Cerita absurd ini ditulis oleh Aisyah Masruro – XI MIPA 2 Ponorogo / SMADA 39

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.