
Judul : Artemis Fowl and Arctic Incident (Artemis Fowl dan Insiden Arktik)
Penulis : Eoin Colfer
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2018 (cetakan kedua)
Tebal buku : 312 halaman
Novel ini merupakan buku kedua dari seri Artemis Fowl karya Eoin Colfer. Novel karya penulis Irlandia ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa serta berkali-kali dicetak ulang. Hingga tahun 2008, seri Artemis Fowl sendiri telah dijual lebih dari 18 juta eksemplar ke beberapa negara. Bahkan di tahun 2019, dua buku pertama dari seri ini akan diangkat ke layar lebar oleh Walt Disney Studios Motion Pictures!
Novel ini menceritakan tentang seorang anak genius bernama Artemis yang terlibat dalam berbagai kasus kriminal. Bukan sebagai korban, bocah 13 tahun ini adalah “otak”-nya kriminal. Suatu hari, Artemis menerima e-mail video yang berisi permintaan tebusan. Korban penculikkan yaitu ayahnya yang selama ini hilang dan dinyatakan meninggal di Arktik, Kutub Utara. Artemis tidak mungkin menggantungkan harapan kepada ibunya yang sedang dilanda stress berat akibat ditinggal sang suami secara mendadak. Oleh sebab itu, Artemis beserta dengan pengawal pribadinya yang setia dan dapat diandalkan, Butler, berusaha untuk menyelamatkan Ayah Artemis. Di tengah-tengah usaha penyelamatan, Artemis lagi-lagi terpaksa harus berurusan dengan Kapten Short dan Kaum Peri. Ia dituduh sebagai dalang di balik perdagangan senjata ilegal kelas A di Dunia Bawah. Meski Artemis telah berkali-kali menyangkal, Kaum Peri tetap tidak percaya. Akhirnya, bocah genius ini menyepakati satu perjanjian penting yaitu dirinya akan membantu Kaum Peri untuk menemukan penjahat Dunia Bawah bila mereka bersedia membantunya membebaskan si Ayah.
Kehadiran novel ini benar-benar berita sukacita bagi penyuka genre science fiction yang sedang alergi romance. Setiap babak cerita yang dihadirkan oleh Eoin mampu membawa pembaca masuk ke dunia fantasi yang berbeda. Tidak seperti cerita bertema peri pada umumnya, novel ini menampilkan petualangan yang lebih modern dengan kemunculan berbagai teknologi super canggih. Berhubung salah satu tokohnya adalah anak di bawah umur, maka pembaca akan terheran dan terkejut dengan kecerdasan yang sang tokoh. Hal ini bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Dari segi susunan kalimat yang digunakan, novel ini tidak bertele-tele dan cenderung to the point, sehingga pembaca akan merasakan kuatnya arus alur novel. Latar dan properti yang dideskripsikan akan muncul dengan sendirinya, membuat novel ini nyaman dibaca saat bersantai. Pembaca seolah-olah mampu secara nyata berpindah dari Irlandia ke Dunia Bawah karena perpindahan dari satu latar ke latar berikutnya terasa alami.
Sekarang resensi untuk segi cover. Dilihat secara sepintas, sampul novel ini terlihat biasa, sederhana, dan tidak banyak ornamen. Di bagian sisi lebar buku, warnanya diblok hitam bertuliskan judul dan nama penulis. Warna sampul pun cenderung kurang menarik. Namun, apabila kita sudah melengkapi koleksi dari seri buku ini, maka akan terlihat lebih elegan. Setiap buku mempunyai template cover yang sama tetapi warnanya berbeda. Jika ditata di rak buku, maka seri novel ini terlihat rapi, elegan, sekaligus cantik.
Novel ini wajib untuk dibaca secara runtut dan komplet dari seri pertama agar tidak bingung dalam memahami alurnya. Dari halaman awal novel, cerita sudah langsung dimulai dengan inti konflik tanpa basa-basi. Hal ini bisa jadi kelemahan, di mana banyak muncul tokoh yang disebut di novel sebelumnya, namun tidak dideskripsikan ulang di novel ini. Misalnya, cerita tentang pertemuan Kapten Short dengan Artemis tidak dibahas di novel kedua membuat pembaca harus menebak sendiri bagaimana prosesnya.
Secara keseluruhan, Eoin Colfer berhasil menciptakan dunia yang baru dan pantas untuk dikunjungi. Mungkin memang tidak serumit Harry Potter, namun justru karena itulah, novel ini lebih mudah dinikmati. Novel fantasi yang paling baik adalah ketika novel tersebut mampu membuat pembaca menikmati dunia ciptaannya sendiri. Bagi peresensi, novel Artemis Fowl and Arctic Incident mampu mewujudkannya secara total.*
* Ericka Mega – XI MIPA-1 / SMADA 39