
Judul buku : Negeri Van Oranje
Pengarang : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Jumlah halaman : 576
Tahun terbit : 2016
Wahyuningrat, adalah orang pertama dari kelurahan Pondok Kopi Kecamatan Duren Sawit yang bisa masuk ke istana, salaman sekaligus ngobrol dengan Ratu Belanda. Ia dan beberapa teman sekelasnya terpilih untuk menghadiri undangan The Fifth Anniversary of the Prince Claus Chair in Development and Equity di Paleis Noordeinde, The Haque. Menurutnya tinggal di negeri orang merupakan harus luwes dalam segala hal. Beragam cara harus dilakukan untuk survive. Mulai dari ngotot mengganti ban belakang sepeda yang bocor, bekerja sebagai pelayan restoran Indonesia yang membuatnya mendadak kaya karena kebanjiran tip pelayanan. Dan yang paling meherankan saat menjadi pelajar miskin di negeri orang adalah dia bisa kuat antre bolak balik tujuh kali untuk dapat makan kentang goreng khas Belanda porsi jumbo yang saat itu sedang berlangsung perayaan bagi-bagi gratis.
Annisa Rijadi, menurutnya akhir bulan adalah saat paling bokek sedunia. Biasanya kalau kantong kering kurang semangat menyambut weekend. Untungnya Ia dan teman-teman dekatnya sama-sama memiliki Pathe Unlimited, yaitu suatu kartu anggota bioskop Pathe. Dengan membayar abonemen tujuh belas euro per bulan dapat nonton sampai botak gondrong. Waktu sehabis nonton masih pengen ngopi tapi gak punya duit, mereka baru sadar kalau ternyata salah satu film yang mereka tonton tengah menawarkan sebuah promo, kalau nonton film itu dapat kopi gratis. Tanpa berpikir panjang langsung saja mereka membeli tiket karcis film yang promo tadi.
Rizki Pandu Permana, hidup di Belanda berarti harus siap dengan beberapa hal yang bernama mahal, kata penulis. Dengan uang beasiswa yang terbatas keinginan buat jalan-jalan keliling Eropa hanya bisa disiasati dengan mengirit. Adapun beberapa pekerjaan yang pernah dilakukanya yaitu cleaning service dan pelayan di restoran. Menurutnya banyak suka dan dukanya, sukanya yaitu ketika digaji cukup besar, yang membuatnya merasa beruntung, bayangkan saja dari kerja Cuma bersiin WC dan sekolah selama dua jam sehari mendapat gaji lebih kurang sama dengan emapat juta rupiah sebulan. Dukanya adalah ketika menjadi pelayan restoran dadakan di pasar malam, teman-temannya tidak dibayar karena pemiliknya menghilang begitu saja.
Adept Widiarsa, setelah seminggu berdiam di Den Haag, akhirnya ia cukup beruntung berhasil menemukan empat sepeda rongsokan yang dipungut di tong sampah sebuah apartemen elite di Scheveningen. Lahirlah sebuah sepeda gado-gado cantik bewarna abu-abu, lumayan punya sepeda gratisan. Dengan aksesoris lampu dan tas bagasi gratisan hijau norak bertuliskan ”Konmar” jadilah si Releigh teman setia yang menemani perjalanan studi Penulis. Hingga pada suatu malam setelah ia mengunjungi seorang teman yang tinggal di Centraal Station Den Haag, ditempat parkir seperti biasa ia menyiripkan mata mencari secarik warna hijau norak dari tas bagasi si Releigh namun dicari-cari tidak terlihat, ternyata si Releigh hilang. Ia pun pulang sambil tertawa geli andai saja tempat parkirnya terang benderang piker Penulis. Akhirnya sambil tersenyum ia mengejar trem terakhir sembari berdoa semoga si maling enggak keseruduk trem gara-gara si Releigh yang sekarat ngambek saat dikayuh.
Kisah lima sahabat (Aagaban) begitulah sebutan mereka. Aagaban terdiri dari Iskandar (Banjar), Wicak, Firdaus Gojali Muthoyib ( Daus), Anandita Lintang Persada (Lintang) yang merupakan salah wanita dalam Aagaban, dan Geri. Mereka merupakan lima mahasiswa asal Indonesia yang menuntut ilmu di Belanda untuk meraih gelar master atau S-2. Susah senang menjadi mahsiswa di nergeri orang menjadikan mereka bersahabat erat. Takdir lah yang mempertemukan Aagaban, lima sekawan yang berjuang, berbagi pengalaman bersama dalam meraih cita-cita, impian harapan, tanpa takut dengan apapun. Berbagai masalah mulai dari pengerjaan tugas, seperti papper, tesis, kegiatan bolak-balik perpustakaan dengan sepeda, ngobrol bareng, ketawa bareng, ada yang kerja paruh waktu dll, semua itu dilalui para Aagaban bersama-sama. Kesamaan nasib tersebut membuat persahabatan mereka semakin erat. Sempat suatu ketika persahabatan mereka mengalami ketengangan (perang digin), ketika para lelaki dalam Aagaban yaitu Wicak, Daus dan Banjar saling bersaing untuk memperebutkan hati Lintang. Namun hal tersebut tidak dapat menjadi pemecah persahabatan mereka. Persahabatan mereka pun kembali akrab.
Kisah kelima Aagaban ini ini berakhir dengan petualangan Eurotrip, yaitu perjalanan mengelilingi Eropa ala backpacker, dalam perjalan itu hanya Geri yang tidak hadir karena suatu hal. Saat Eurotrip tersebut terjadi berbagai hal-hal yang menarik dalam petualangan Aagaban tersebut, mulai dari mencari penginapan, salah naik bus, higga peristiwa ngambeknya Lintang yang tiba-tiba menghilang. Kisah suskes Aagaban setelah dua tahun kemudian, menjadi bukti kesuksesan kelima Aagaban. Banjar yang menjadi pengusaha bawang merah nasional, Daus yang menjadi juru bicara termuda istana Kepresidenan, Wicak yang selalu gigih untuk melestarikan hutan Indonesia di luar negeri dan hanya Geri yang belum diketahui kabarnya. Hingga pada akhirnya kelima Aagaban tersebut bertemu dalam prnikahan Lintang yang tak disangka menikah dengan Wicak salah satu Aagaban yang menemukan Lintang ketika menghilang di Stasiun Bus Internasional Florenc.
Novel ini seru karena tidak hanya menyuguhkan kisah cerita saja, namun menggambarkan bagaimana keindahan negeri Belanda pada para pembacanya. Para tokohnya memiliki watak yang lucu sehingga dapat menghibur pada pembaca. Negeri Van Oranje merupakan novel yang menarik, karena alur ceritanya yang maju, membuat pembaca semakin terbawa kedalam cerita dan mudah dalam memahami ceritanya. Selain itu novel ini adalah bacaan yang inspiratif dan watak dari tokohnya tergambar jelas. Tema yang diangkat dalam novel Negeri Van Oranje juga menarik, yaitu tentang Pesahabatan lima yang didalamnya juga terdapat kisah percintaan dari kelima Aagaban tersebut. Dan dalam novel ini juga terdapat unsur pendidikannya.
Novel Negeri Van Oranje ini merupakan suatu novel yang menggunakan bahasa yang beragam, sehingga kadang menyulitkan pembaca dalam memahami suatu kata, misalnya saja kata dalam bahasa Belanda. Untuk kedepannya diharapkan buku ini dapat disertai dengan arti dalam bahasa Indonesianya. Cerita dari novel ini hanya terfokus kepada Aagaban saja pada setiap babnya. Novel ini memiliki halaman yang tebal, yaitu lima ratus tujuh puluh enam halaman sehingga terkadang dapat membuat para pembaca merasa jenuh.
Buku ini cocok dibaca oleh kalangan remaja dan orang dewasa, karena banyak menceritakan kisah tentang percintaan, persahabatan serta unsur pendidikan yang dapat menginspirasi pembaca. Persahabatan Aagaban yang penuh dengan warna mampu membuat pembaca merasakan bahwa persahabatan itu begitu indah. Serta perjuangan mereka di Belanda untuk meraih gelar master mereka dengan berbagai tantangan yang dihadapi dapat menginspirasi pembaca untuk mengejar cita-cinta sampai keluar negeri, serta kisah cinta mereka yang dapat mebuat kita kadang bingung.*
* Salma Safira Al Qoidah – XI IPS-1 / SMADA 38