Akulah si Pemaaf

Judul buku       : Aku Tak Marah

Penulis            : Djokolelono

Penerbit          : Moka Media

Tahun terbit    : 2014

Tebal buku      : 148 halaman                            

Vici sangat marah setelah acara pesta ulang tahun Kathrin, Vicibegitu kesal saat ia tau bahwa Agit daan Ratna berpelukan dan berciuman di bawah pengaruh minuman keras di ruang gudang yang gelap. Paginya ia mengusir Agit Dari tempat kostnya, benda – benda Agit dibuang keluar termasuk gitar Agit. Agit didorong dan terjatuh di atas lumpur, hal itu pun menjadi tontonan bagi warga sekampung, untng ada Debon yang dapat menetralisirkan keadaan. Agit melihat dari jendela, ia melihat rokok dan dompetnya masih ada di tempat kostnya, ia ingin mengambilnya namun pintu terkunci.

Debon yang mengetahui kejadian itu, datang menemui Agit dengan sebatang rokok Debon, ia bercerita yang membuat Agit begitu kesal, beberapa kali berbincang, Debon pun pergi meninggalkan Agit. Agit sering sekali mengantar Vici untuk naik metromini atau ojek, dia geram dengan kenangan kemesraannya bersama Vici. Dia dudukdi halted an bertemu dengan Candra. Tidak sengaja Candramembuat kealahan dan mengamen saat Agit sedang bermain gitar, dimana uang itu disimpan pada kantong plastic dengan jumlah 7000 rupiah. Sehingga bang Kribo mengerjar mereka untuk meminta perhitungan kepada mereka.

Niken melakukan rapat dengan tm bip-bop, melakukan sesuatu untuk ptoduk barunya. Niken merekam lagu dan musik yang dimainkan oleh Agit dan menjadi inspirasi bagi produk yang akan diluncurkannya. Vici mengajukan surat pengunduran diri dengan alasan akan membantu orang tuanya di \malang. Namun pihak perusahaan sangat sulit melepaskannya. Klien dari PT TOM datang untuk rapat, Ratna yang biasanya bertegur sapa dengan Vici tidak terlihat lagi. Dalam rapat Ratna dan Vici duduk bersebelahan, namun Kemal datang dan meminta Vici untuk bertukar tempat. Tim Niken datang dan memulai memimpin rapat.

Ratna ingin segera mengetahui hasil dari konsep tersebut, namun Niken memberi jalan pintas dengan memutar jinggel bip-bop nya yang masih belum diganti. Ratna dan Vici terbengong dan kaget saat diputarnya jinggel tersebut. Darah Vici berdesir saat mengenal suara di jinggel itu. Ia merasa kesal dan segera meninggalkan ruang rapat. Dinaikinya taksi dan duduk di kursi bagian belakang, ia sangat kesal. Di tengah perjalanannya dia terjebak macet dan rintik hujan turun bersamaan. Ia mulai mengingat kenangannya bersama Agit saat mereka berawal bertemu.

Candra dan Agit berhenti di bawah sebatang pohon dengan terengah-engah, mereka melihat Kribo memarahi wanita yang sedang duduk menamba ban, candra menyebrang dan Kribo menyambar tangannya, dan Candra dibanting. menangkap tangan perempuan itu hingga berbunyi berderak, Candra mulai melawan hingga kribo menampar Candra, Agit yang merasa iba menolong candra, dengan panik ia memukul ke ulu hati lawan dan membuat Kribo pingsan, dan mereka meminta Agit pergi dari sana.

Diruangan departemen kreatif abu-abu , mereka saling berdiskusi tentang jinggel produk itu, semuanya sudah ok, Agit mulai melakukan rekaman jinggel, Vici memberikan pendapat kalau tidak menjual produk bib-bop, lirik aslinya sudah mengambarkan ide cinta, ternyata kampanye bib-bop sukses besar, Niken suka dengan presentasi, akhirnya di pasaran bib-bop juga menang, lagunya jadi hits dan menjadi iklan gratis bagi kita, grup musik barunya juga sukses dan tentunya penari latarnya cantik-cantik, mungkin bisa membuat Vici cemburu, Agit turun dari beranda dan berjalan menghampiri Vici, Vici memainkan cincin di jarinya. Agit berbisik, “kamu masih marah?”, Vici tersenyum dan Agit tertawa mengangkat gitarnya, lalu menyanyikan aku tak marah.

Kalimat-kalimat yang disampaikan dalam novel ini ringan dan gaya bahasanya seperti gaya bahasa para penulis remaja akhir pada umumnya. Novel ini memiliki makna dan amanat yang begitu berisi dan tajam . Selain itu, ceritanya yang menarik, penuh semangat. alur cerita yang tidak membosankan . Dalam buku ini juga terdapat  banyak kata-kata yang membuat kita terinspirasi terutama dalam bait-bait lagunya. Dalam ceritanya juga diselipkan lagu-lagu yang sesuai dengan suasana yang sedang terjadi, sehingga membuat kita semakin terhanyut dalam cerita. Dijelaskan juga bahwa novel ini terdapat sedikit humoris dan jenaka dan mudah dipahami.

Akan tetapi, cara mengakhiri cerita yang masih nanggung kemudian masih ada kata typo. Semestinya, novel ini dikembangkan ke bagian lainnya, karena terlihat Vici belum dapat berkata apakah ia memaafkan atau tidak,dia hanya tersenyum yang belum tentu memaknakan memaafkan. Masih ada kata yang sedikit kasar dan jorok yang tidak sesuai dengan kalangan remaja.

Pemberian gambaran tentang betapa pentingnya kesabaran dan tidak memiliki rasa cemburu yang berlebihan dalam hubungan yang seharusnya tidak terjadi pada usia yang digambarakan tokoh. Namun Buku ini memiliki unsur menghibur sekaligus menambah wawasan pembaca khusunya tentang pengarangan musik, menyelesaikan konflik dan berjuang atas nama cinta  yang bisa sejalan dengan alur jalan hidup.*

* Meisya Andjani N.G. – XII MIPA-8 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.