MOBAL

oleh Anooshi Galang Ramadhan

Minggu lalu seorang guru di kelasku memberiku tugas untuk menuliskan sebuah cerita. Cerita tentang pengalamanku di sekolah yang sudah kutempati selama ini. Namun siapalah aku? Aku memang sudah kehabisan kata kata. Sampai tugas membuat cerita tentang diriku sendiripun aku merasa buntu. Bingung? Benar sekali. Dan inilah yang kulakukan sekarang, duduk termenung sambil memandangi kertas tugasku yang masih saja kosong sejak hampir satu minggu. Berkali-kali aku mencoba menulis segala yang terlintas di pikiranku, namun pikiran tentang cerpen yang pada hari esok harus kusetorkan membuatku semakin tak tahu harus menulis apa.

Dengan niat menenangkan pikiran perlahan kuletakkan penaku di atas meja. Menenangkan otak serta menutup mata sebentar sembari menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Melihat sekeliling untuk mencari sebuah gagasan cerita, bertanya kepada setiap teman kelas yang berlalu lalang sembari asik menikmati jam kosong. Namun aku tak menerima jawaban, justru ajakan mabar yang kuterima.  Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesuatu yang sedang tergeletak tepat di samping bokong temanku. Diam dan tak bergerak. Sesuatu itu menarik perhatianku, dan tanpa sadar diriku berjalan mendekat pada sesuatu itu.

Ternyata itu adalah seekor rong-rong, sebutan salah satu serangga di tempat kami. Rong-rong yang malang. Apakah ia mati? Mengapa ia diam saja dan tak berjalan melarikan diri? Apakah ia sendiri? Sejenak melihat rong-rong itu membuatku teringat pada ucapan salah seorang teman, main game multiplayer kok solo terus? Yakin ga mau main bareng? Sendiri pun susah lo, ajaklah kita-kita, biar bisa ngrasain rasanya main bareng!.

Kupegang hewan itu sembari kutaruh di atas mejaku. Ternyata ia masih bisa merjalan walau terlihat seperti sedang sekarat, tak kusangka bahwa ia mendekati botol minuman esku yang di luarnya terdapat embun-embun air yang menetes. Ia masih hidup! Kaki depannya yang besar yang biasa ia gunakan untuk menggali tanah sudah mulai bergerak sembari ia meminum embun air yang keluar dari botol minumanku tersebut. Sampai beberapa detik kemudian rong-rong itupun berlari turun dari mejaku, lantas lantas berlari ke sudut kelas mendekati lubang-lubang yang ada di tembok.

Aku megerti, mungkin ini bisa disebut dengan dukungan kecil. Rong-rong itu kembali bergerak setelah ia meminum embun yang keluar dari botol minumanku. Sebaliknya, lewat hewan tersebut aku merasa terinpirasi, sehingga kertas yang hampir seminggu lalu hanya kubawa lontang-lanting di dalam tas sudah lalu mulai terisi dengan sederetan tulisan yang berjajar.

Entah, mungkin cerita ini berarti bagi orang lain ataupun tidak. Bagiku dari sini aku mengerti bahwa kita sebagai makhluk sosial harus saling mendukung. Karena kebanyakan orang hanya tahu bagaimana cara menyalahkan, menuntun, dan memberitahu. Tapi mereka tidak megetahui bagaimana cara mendukung dan berjuang bersama.

Keesokan harinya adalah deadline pengumpulan cerita pendek yang diberikan beberapa minggu lalu. Seperti biasa, saat pengumpulan file cerita tersebut seisi kelas mendadak ribut karena mereka bingung dengan format yang harus dipenuhi. Lantas aku menanyai seseorang temanku, panggil saja inisialnya S – A – N – D – I.

Aku mendekatinya, karena aku melihat dia seperti merasa bingung dengan urusannya.

“Ndot, ngapain kok bingung wae awakmu ki?”

Sandi tak menghiraukanku. Aku pun menepuk punggungnya

“Eh, Lang. Cerpenku kan wis tak print, gek lali gak tak gowo. Duh, pie iki? Wis ngko sore enek PIB sisan, gak iso mulih no. Arep nggolek file e ning flashdisk, lha kok flashdisk-ku mbuh ilang nyandi,” sahut temanku.

Aku pun terdiam karena memang tidak tahu apa apa tentang file ataupun kertas yang dibicarakan temanku. Tetapi aku pun berinisiatif untuk mencari topik pembicaraan lagi supaya ia merasa tenang.

Flashdisk-e pie bentuke? Lha kelingan gak? Mbok menowo flashdisk mu disilih konco konco.”

“Mbuh, lali aku sing ngampil sopo. Sing jelas flashdisk-ku warnane putih enek gantungan-e, bentuke panda.”

“Hmm, yo nekno, ngko lek temu tak omongi!”

Tak terasa waktu sudah siang dan murid laki laki diwajibkan pergi ke aula untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at. Mushola sekolah tidak cukup menampung seluruh murid laki laki dan masjid sekolah masih dalam tahap pembangunan. Seperti biasa, saat murid laki laki menunaikan sholat jumat, murid perempuan menggunakan LCD yang nganggur di dalam kelas untuk melihat film sembari menunggu waktu istirahat selesai. Saat sholat jumat sudah selesai aku dan teman-teman pun kembali ke kelas dan melihat mbak-mbak yang enak enak tidur di kelas.

Konon katanya sholat jumat bisa bikin cowo jadi tenang. Tapi tampaknya semboyan itu tidak berlaku kepada temanku yang satu ini. Ia tetap membingungkan masalah cerpennya yang hilang tadi. Akhirnya aku menemukan flashdisk yang temanku cari cari tadi. Setelah kejadian itu Ia merasa tenang, kembali kulihat senyum lebar di mukanya. Memang hidup harus dipenuhi dengan hal-hal sosial, saling tolong menolong, dan saling membantu.

* Anooshi Galang Ramadhan – XI MIPA-1 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.