Gerimis dan Secangkir Kopi

karya Viola Yesica Sari

“Satu,”

“dua,”

“tiga,”

Lelaki tua, berkumis putih tipis, berkacamata tanpa kaca, terlihat duduk berjigang dikursi kayu ber-cat coklat usang. Tiga detik yang lalu hanya ada gadis berambut hitam lurus diatas bahu, yang ujungnya menekuk kedalam, duduk dikursi sebelah meja berseberangan dengan kursi yang diduduki lelaki tua.

“Eyang!”

Lelaki tua mengangkat cangkir berisi kopi, yang dibuatkan oleh cucunya.

“Kopimu masih pahit.”

“Aku tidak tahu sebanyak apa harus menuangkan gula.”

“Itu tugasmu.”

“Menuangkan gula?”

“Mengira-ngira seberapa banyak gula agar manisnya tepat.”

Bulir-bulir air dari langit berjatuhan silih berganti, membasahi halaman berpasir, terjadi seperti biasanya kala Binar menyajikan secangkir kopi, yang sejauh ini selalu pahit untuk eyangnya dan secangkir coklat manis untuk diteguknya sendiri.

Obrolan dikursi teras, rumah berpagar besi berkarat itu setiap hari terjadi. Dua bulan lalu keduanya masih nyata, namun detik ini, sang penikmat kopi menjadi tak kasat mata. Hanya cucu kesayangannya yang bisa melihat dan bercengkerama.

“Jangan lupa membersihkan lantai!”

“Eyang selalu saja membuatnya kotor.”

Kopi yang terlihat masuk ke mulut lelaki tua sebenarnya terbuang percuma dan mengotori lantai.

“Anak gadis tidak boleh malas!”

“Binar capek, Eyang.” mendadak gadis itu menitihkan air matanya.

“Eyang juga capek.” tanpa pamit, lelaki tua menghilang begitu saja, gerimis berhenti seketika.

20 tahun lalu, Binar dilahirkan dari rahim seorang ibu yang tidak dia ketahui. Sepasang suami istri tua tanpa buah hati, merekalah yang membesarkannya. Mereka berikan nama Binar pada bayi yang tergeletak beralaskan tikar kusust, dibelokan jalan tepat depan rumah mereka, sebab mata itu memancarkan kebinaran.

Ketika memasuki usia tiga tahun, istri Eyang meninggal. Seorang diri dia membesarkan Binar dengan kondisi tidak berkecukupan. Hingga dua bulan lalu dirinya juga menghembuskan nafas terakhir, meninggalkan Binar hidup susah seorang diri.

“Binar-Binar!” suara yang sangat dikenali mengganggu tidur siangnya.

“Tidak bisakah tidak berteriak?” Binar berjalan untuk membuka pintu yang sudah keropos dimakan rayap, menimbulkan gemertak seperti dahan patah.

“Ada apa?”

Arumi tetangganya, datang bersama sepasang suami istri yang berdiri dibelakangnya.

“Bapak Ibu ini mencarimu.”

“Kami orang tuamu, Binar.” ucap lelaki berambut cepak deng sedikit uban, membuat raut wajah Binar tak berubah sedikitpun, justru dalam benaknya, lelaki ini sedang ngelawak.

“Kamu ajak masuklah dulu,” Binar menatap kosong.

“Mari, Pak, Bu silahkan masuk.” lanjut Arumi seraya memasuki ruang tamu dengan penerangan kecil dipojok kanan atas. Tidak ada jendela, hanya angin-angin diatas pintu dan berjajar mengelilingi bentuk ruangan.

Arumi menuju dapur akan membuatkan minuman. Sedangkan dalam ruang tamu terjadi kebisuan antara Binar dengan sepasang suami istri yang mengaku sebagai orang tuanya itu. Sampai-sampai Arumi kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir, terlihat dari kepulan uap yang menari-nari diatasnya.

“Sebentar!” bergantian Binar yang beranjak menuju dapur.

“Aku tidak yakin dia putriku.” ucap Ibu yang mengenakan banyak perhiasan emas.

“Tapi aku ingat betul, sayang, aku meletakkan bayi kita diluar pagar rumah ini.”

“Dan setahu saya, Binar bukan anak kandung Eyang Harjo. Lagipula mana mungkin istrinya melahirkan tanpa mengandung terlebih dahulu,”

Suami istri itu memandangi setiap sudut ruangan, kemudian saling tatap.

“silahkan diminum tehnya!”

Mereka kompak menuang teh pada lepek putih motif bunga, bersamaan dengan Binar yang kembali dengan membawa dua cangkir ditangan kanan dan kirinya.

“Maaf, tadi anda bilang, saya putri anda?” Saya tidak salah dengarkah?” lelaki itu mengangguk.

“Tapi saya perlu tanya pada seseorang untuk membenarkan ucapan anda, Pak!” Binar meletakkan secangkir coklat manis dan secangkir kopi yang entah bagaimana rasanya kali ini, diatas meja.

Arumi merasa khawatir, takut kalau Binar melakukan kegilaannya lagi, seperti yang sering dia saksikan saat berjalan didepan rumah ini, dan mendapati Binar berbicara sendiri dengan menyajikan secangkir kopi seolah untuk lawan bicaranya.

Binar celingukan, mencari sesuatu. Menengok keluar tapi gerimis tidak turun. Mungkin karena tidak menghitung, pikirnya.

“Satu,”

“dua,”

“tiga,”

“Binar!” Arumi menyentuh bahu Binar berusaha menyadarkan.

“Eyang!”

Arumi memukul jidatnya sendiri, kemudian menatap sepasang suami istri yang tampak tidak memahami situasi.

“Eyang dimana? Aku sudah buatkan kopi untuk Eyang.”

“Binar, bukankah Eyang pemilik rumah ini sudah tidak ada lagi?” lagi-lagi si lelaki yang angkat bicara. Apa peran Ibu itu, seperti tidak ingin berjumpa dengan anaknya.

“Maka dari itu saya memanggilnya untuk datang.”

“Binar jangan bercanda!” bisik Arumi yang sedikitpun tak digubris oleh Binar.

“Eyang keluarlah, ada yang ingin aku tanyakan.”

“Tapi Binar, eyangmu meninggal dunia, nukan sekedar pergi yang kamu pikir akan kembali.” ucap lelaki dengan raut wajah sendu, karena dia berpikir bahwa Binar terlalu sedih kehilangan Eyang yang sudah merawatnya sejak kecil.

Mendengar ucapan itu, Binar memutar malas bola matanya, “Saya tidak sebodoh itu, Bapak beruban.”

Ibu tidak terima, bangkit dari tempat duduk dan menunjukkan perannya, “Tidak bodoh tapi gila,” “ah … mana mungkin aku melahirkan anak gila seperti dia, sayang.”

Suaminya ikut bangkit, sedangkan Arumi tidak tahu harus berbuat apa.

“Sabar dulu, sayang.”

“Astaga, sabar bagaimana? Ini diluar prediksi, dia bukan anakku, jadi kita pulang sekarang!”

Batin Binar percaya bahwa mereka adalah orang tuanya, terbukti dari sikap ibunya barusan, tidak menginginkan anaknya. Itulah alasan paling tepat kenapa dulu Binar dibuang.

Ibu menarik suaminya untuk keluar, yang ditarik menurut saja sambil berkata, “Aku akan mengunjungimu lagi, Nak.”

Arumi mengekor suami istri itu yang berjalan keluar, begitu juga Binar.

Diteras, Binar meletakkan diatas meja secangkir coklat dan kopi yang ikut dibawanya keluar.

“Satu,”

“dua,”

“tiga,”

“Eyang!”        

Arumi dan sepasang suami istri itu menghentikan langkahnya, menatap Binar sebab mendengar suara yang begitu antusias.

“Mereka mengaku sebagai orang tuaku, Eyang.”

Lelaki tua duduk berjigang dibangku biasanya namun tidak langsung meneguk kopi buatan cucunya. Gerimis turun dari langit. Tak terjadi apa-apa bagi tiga manusia yang mematung menatap tingkah gila Binar.

“Mungkin tidak salah.”

“Tidak salah bagaimana?”

“Wajahmu sedikit mirip dengan nyonya rambut berkarat itu.”

“Ya ampun aku baru menyadari bahwa rambutmu berkarat, Bu.”

Ibu melotot mendengarnya, tidak terima rambut cantiknya yang diwarnai oranye itu dikatakan berkarat.

“Dasar orang gila. Kamu bukan putriku.” hampir saja tangannya memukul Binar jika suaminya tidak cekatan untuk memegangi.

Eyang mengangkat cangkir, hanya mengangkat tidak segera meneguknya.

“Lagi pula mana ada ibu yang tega mengatai anaknya gila. Justru anda orang tua durhaka, tega-teganya membuang bayi tidak berdosa.”

Arumi benar-benar bingung, sedangkan Eyang masih belum juga meneguk kopi itu, padahal sudah dekat dengan bibirnya.

“Sudah sayang, ayo kita pulang saja. Maafkan ibumu, Binar. Arumi maaf kami merepotkan.”

“Tidakpapa, saya justru minta maaf atas nama Binar. Mungkin dia sedang stres dan tidak menyangka akan bertemu orang tuanya hari ini.”

“Arumi! Kamu juga mengatakan aku gila?” Binar terpancing emosi.

“Saya rasa Binar memang sedikit terkena gangguan jiwa, kejadian seperti ini saya sering melihatnya.”

“Arumi!” Binar mendorong tubuh Arumi, namun Arumi bisa menahannya agar tidak tersungkur.

“Binar ….” ucap Eyang lembut.

Binar menengok kesamping menatap eyangnya, kopi itu hampir masuk ke mulut.

“Tapi Arumi kelewatan, Eyang.”

Sepasang suami istri itu sudah berbalik badan, Arumi juga ingin beranjak.

Langkah ketiganya mendadak terhenti, sebab merasakan gerimis yang turun membasahi bumi, padahal bagi Binar sudah sejak beberapa saat tadi.

Eyang sudah meneguk kopinya, yang berarti terbuang percuma dan mengotori lantai.

“Manisnya pas.” Eyang tersenyum sebelum pergi, tugasnya selesai. Binar tersenyum sebelah bibir.

“Kenapa berhenti? Silahkan pergi! Saya mungkin memang putri kalian, namun kalian bukan orang tua saya. Tapi setidaknya saya berterima kasih karena kalian sudah mau berkunjung.” dengan perasaan puas Binar berjalan masuk rumah.

Ketiganya tak dapat berkutik, tumpahan kopi dilantai menjadi pusat tatapan, Binar tidak gila pikir mereka kemudian. Gerimis yang turun kali ini nyata, menandai bermulanya musim penghujan.

Esoknya, rutinitas diteras rumah terjadi lagi.

“Eyang!”

“Kamu sudah tahu seberapa banyak harus menuangkan gula.” Eyang menarik keatas kepala kaca mata tanpa kaca yang dia kenakan.

Binar tersenyum, memperlihatkan gigi gingsulnya.

“Tapi kenapa Eyang tidak datang ketika aku memanggil diruang tamu?”

“Tidak ada jendela.”

“Apa hubungannya?” 
“Menikmati kopi tanpa menatap gerimis seperti Eyang Kakung tanpa Eyang Putri, hambar rasanya.”

“Kenapa jadi sedih gini sih.”

Binar beranjak meninggalkan eyangnya duduk sendiri dibangku teras rumah. Menatapi gerimis seperti terkagum-kagum ketika melihat istrinya.*

* Viola Yesica Sari – SMADA 38 / Penulis Novel “Monokrom”

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.