
Judul Buku : Surapati
No. ISBN : 979-407-315-6
Pengarang : Abdoel Moeis
Penerbit : Balai Pustaka
Terbit : Jakarta, 1995
Tebal Buku : 211 halaman
Harga Buku : Rp 29.000,00
Buku ini meceritakan tentang kisah hidup Untung Surapati, sebagai seorang pejuang kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sejak kecil, Untung sudah dijadikan budak oleh Belanda. Sampai pada umur 7 tahun, dia dibeli oleh seorang saudagar Belanda dengan tujuan untuk menjadi kawan main anaknya yang bernama Suzanne.
Untung tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan, gagah, dan berani. Selain itu, tabiatnya juga sangat sopan dan juga berbudi tinggi. Sampai pada suatu ketika, dia mulai suka pada Suzanne dan pada akhirnya mereka berdua pun menikah tanpa persetujuan orang tua Suzanne. Sejak saat itulah perjuangan Untung yang sebenarnya dimulai. Bangsa Belanda merasa terinjak-injak sebab pernikahan Untung dan Suzanne. Orang Indonesia yang berstatus seagai budak/orang biasa dilarang keras untuk menjalin hubungan dengan Bangsa Belanda. Namun, sebab perkara itu Untung yang dulunya seekor anak singa tanpa gigi, kini sudah menjadi seekor singa dewasa yang garang.
Perlakuan orang Belanda kepada Bangsa Indonesia yang sangat tidak berperi kemanusiaan semakin memancing kemarahan Untung. Berbagai cara pun dilakukan Untung untuk mengusir Bangsa Belanda dari Indonesia. Sejak saat ini, Untung sudah mulai lupa dengan Suzanne yang tengah mengandung anak Untung.
Ditengah perjuangannya, Untung bertemu lagi dengan seorang wanita bernama Raden Gusik Kusuma, anak Pangeran Mangkubumi Nerangkakusuma dari Keraton Mataram. Mereka dinikahkan di Keraton dengan sangat mewahnya. Setelah menikah, mereka tinggal di sebelah Kidul Kartasura tepatnya di kampong Babirong. Daerah inilah yang menjadi daerah kekuasaan Untung Surapati. Setelah beberapa lama hidup disana, mereka dikaruniai 3 orang anak.
Perasaan gelisah sering menghatui pikiran Untung tentang datangnya saat dimana daerah kekuasaan Untung akan diserang. Sampai pada suatu ketika Untung mendapat kabar bahwa daerah pemerintahannya akan diserang kompeni. Sembari menunggu datangnya serangan itu, dia semakin memperkuat ketahanan. Seluruh kerajaan disuruh berjaga-jaga kalau ada mata-mata menyelundup. Pada suatu hari putra sulung Untung, Raden Pengantin berkeliling dan bertemu dengan seorang pemuda berkebangsaan Eropa berada di daerah pemerintahan ayahnya, kemudian dibawalah orang itu menghadap. Banyak pertanyaan yang ditanyakan Untung kepada pemuda bernama Robert itu. Setelah diperiksa lagi, ternyata pemuda itu adalah anak dari Untung dan Suzanne. Hati Untung tergetar bukan main pada saat itu.
Tembakan peluru belanda di bagian lambung Untung, menyebabkan luka yang sangat parah. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya dan beberapa kali tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terkhirnya. Namun, tongkat estafet perjuangannya tetap dianjutkan oleh ketiga anaknya. Segala perjuangan Untung akan tetap tersimpan didalam hati seluruh keluarga, kerabat, dan handai taulan, serta seluruh hati Bangsa Indonesia.
Buku berjudul Surapati ini tersusun rapi dengan bahasa yang jelas dan sangat mudah dipahami. Cerita dari setiap sub judulnya juga saling berkaitan, sehingga pembaca sangat mudah untuk memahaminya. Dalam buku ini juga banyak cerita yang mendebarkan hati, sehingga dapat menarik pembaca untuk terus membaca buku ini sampai akhir. Penutup cerita dalam buku ini juga berakhir dengan jelas, sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda.
Namun, sampul dari buku ini kurang menarik. Sehingga, ketika pertama kali melihat kurang menarik untuk membacanya. Selain itu, dalam buku ini juga terdapat nama-nama orang Belanda yang agak sulit untuk dibaca, sehingga cukup sulit untuk diingat pembaca.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, buku ini sangat cocok untuk dibaca berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Buku ini mengajarkan kepada kita untuk selalu bekerja keras dan bersungguh-sungguh dengan segala usaha kita. Semangat juang dan pantang menyerah harus selalu tertanam dalam diri kita, sebagaimana sikap dari Untung Surapati. Sopan dan berbudi tinggi juga harus selalu menjadi sifat kita sebagai Bangsa Indonesia.
* Rifqi U.N. – XI MIPA 5 / SMADA 37