karya Tiwi Harum Lestari – XI MIPA-2 / SMADA 40

Hari itu Senin, tanggal 9 Maret 2020, ku dapati sebuah notifikasi dari ponsel canggihku. Di sana tertera sebuah informasi pengumuman yang menyatakan libur selama 2 minggu. Tentu aku merasa senang karna aku bisa bermain, bersantai, merehatkan otakku sejenak dari tugas-tugas yang melilitku tiap minggu. Akan tetapi mulai hari itulah penderitaanku, penderitaan anak sekolah, penderitaan orang-orang dimulai.
Hari pertama, kedua, kulewati dengan senang hati dan riang gembira bahkan aku dan sahabatku sudah merencanakan sebuah liburan. Akan tetapi ibu melarangku karena di televisi marak pemberitaan mengenai wabah virus dari Wuhan.
“Kamu mau kemana rapi banget pagi-pagi begini?” tanya ibuku.
“Aku mau ke rumah temen sebentar, Ma. Ada urusan,” jelasku kepada beliau.
Aku membohongi ibuku terkait aku pergi keluar untuk urusan tugas. Aku pergi karena aku ingin bermain dengan temanku. Sebenarnya aku merasa bersalah karena membohongi ibuku, akan tetapi kulakukan semua itu karena beliau terlalu posesif padaku. Tapi aku berjanji padanya, aku tidak akan membohonginya lagi.
Saat sampai di rumah temanku aku dan dia mulai mengobrol-ngobrol biasa ala cewek remaja masa kini. Kalo nggak ngebahas baju, cowok, ya makanan. Tiba-tiba dia nyeletuk.
“Kamu tau kafe Canda Tawa nggak? Ayo kapan-kapan ke sana!”
“Tau, tapi aku bakal jarang ke luar setelah ini. Ibuku melarangku sering pergi bermain di era wabah virus ini” jawabku dengan lesu.
“Corona nggak sampek sini, tenang aja ayo gaskeun” katanya ala remaja masa kini. Namun ku tolak ajakannya itu secara halus.
Waktu terus berputar hari terus berlalu, tiap jam serasa membosankan bahkan aku merasa muak dengan keadaan ini. Tiba-tiba, pas aku membaca berita.
“JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia menjadi salah satu negara positif virus corona (Covid-19). Kasus pertama yang terjadi di Tanah Air menimpa dua warga Depok, Jawa Barat. Hal ini diumumkan langsung Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2020) kemarin”.
“Ternyata corona virus tidak main-main” kataku dengan agak sedikit syok.
Seminggu berlalu, guru-guruku mulai memberikan materi dan tugas dari rumah. Aku merasa senang dan enak karena belajar di rumah bisa sambil santai, tidak memakai seragam, bisa bangun siang. Awalnya masih enak-enak saja karena masih paham terkait materi yang diberikan, dan merasa tidak terlalu berat tugas yang di berikan oleh beliau. Akan tetapi, lambat hari aku merasa sulit paham sehingga tugasku menjadi acak adul karena aku kurang memahami materi
“Sial kenapa rumit dan banyak sekali tugasku ini, bisa gila lama-lama aku” kataku dengan sedikit frustasi.
Dua minggu berlalu tentunya aku senang karena bisa kembali bersekolah lagi seperti biasa. ternyata tidak seperti yang kubayangkan, nama libur 2 minggu kemarin diganti dengan belajar dari rumah. Semangatku seketika menurun karena tidak bisa bertemu teman-temanku, tidak bisa jajan ke kantin, curi-curi pandang pada kakak kelas, ha ha.
“Ya, Allah kapan bisa sekolah lagi? kapan bisa keluar lagi? bosen huft” kataku yg lesu.
‘Ting’
Bunyi notifikasi hp ku yang ternyata isinya chat whatsapp dari temanku yang mengajakku untuk membuat sebuah makanan atau minuman yang sedang tren untuk mengobati suntukku. Selain membuat makanan, aku dan teman-temanku membuat tik tok agar mengobati rindu yang meradang.
“Ayo buat tik tok yang isinya tentang anak-anak kelas,” kata temanku. Sontak kukumpulkan semua video anak-anak kelas.
Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan terlewati hingga sekarang aku duduk di kelas 11 a.k.a kelas 2 SMA. Ternyata kalimat “libur 2 minggu” adalah sebuah kedustaan belaka yang nyatanya hingga saat ini masih belajar dengan metode daring. Bahkan lebaran tahun 2020 merupakan lebaran tersepi menurutku.
Kelas baru, teman baru, guru baru, dan keasingan itulah yang kurasakan saat itu. Namun sekolah dibuka untuk pembelajaran tatap muka pada bulan bulan September. Tentu aku sangat senang karena bisa berjumpa dengan teman-temanku. Dan sekarang di berita televisi maupun media informasi lainnya mengatakan bahwa sekolah akan dibuka pada awal tahun baru 2021. Ah, senang rasanya bisa bersekolah kembali, tapi harus tetap mematuhi protokol kesehatan.
Dari tahun ini aku belajar bahwa kesehatan kebersihan amat teramat penting dan juga senantiasa berserah diri kepada Tuhan YME dan juga belajar dari sebuah kesalahan dan pantang menyerah. Aku berharap semoga dengan datangnya vaksin ini bisa mencegah penularan virus korona di Indonesia.
Stay safe, stay healthy everyone!
* Tiwi Harum Lestari – XI MIPA-2 / SMADA 40