
Judul : Weh
Penulis : Pia Devina
Tahun Terbit : September 2014
Penerbit : deTeens
Jumlah halaman : 244
Adalah Tami, seorang traveller. Jiwa petualangannya timbul karena Jeff, sahabatnya saat kuliah dulu. Sejak kuliah, Tami dan Jeff telah mengagendakan tujuh pulau yang harus dikunjungi sebelum mereka berusia 27 tahun. Malang tak dapat ditolak. Di saat tersisa satu pulau, Jeff meninggalkan Tami untuk selamanya. Karena itulah Tami terpaksa melakukan perjalanan seorang diri ke Pulau Weh di ujung barat Indonesia. Tujuannya satu, demi menuntaskan janjinya dengan Jeff.
Di pulau eksotik inilah kenangan Tami bersama Jeff terusik oleh kehadiran Faris. Bukan tanpa alasan Faris berusaha mendekati Tami. Lelaki yang memiliki kedai kopi di Jakarta itu melihat kesamaan antara Tami dengan sahabatnya, Gladys. Dugaannya tepat. Tami dan Gladys sama-sama pernah kehilangan orang yang dicintainya. Bukan hanya itu, ternyata ada benang merah antara Gladys dengan Jeff, yang membuat Tami menutup diri terhadap Faris.
Kepergian Tami dari Pulau Weh tanpa pamit membuat Faris merasa kehilangan. Namun, Faris tidak menyerah. Ia berusaha mencari keberadaan Tami. Dan, saat ditemukan, ia bersama salah seorang sahabat Tami mengatur rencana perjalanan ke Raja Ampat, Papua. Akankah Tami membuka hatinya kepada Faris di ujung timur Indonesia?
Weh! Sebuah judul yang singkat, dan membuatku langsung menebak latar belakang cerita, yaitu Pulau Weh. Yang ada di bayanganku, kisah cerita hanya berkisar di sana saja. Tapi ternyata, Pia Devina memberikan lebih dari bayanganku. Bukan cuma Pulau Weh yang digambarkan dengan indah. Ia juga mengambil setting di beberapa tempat lainnya, seperti Pantai Senggigi, Pantai Losari, Pantai Tanjung Tinggi, Raja Ampat, Bandung, Lembang, dan sebagainya. Memang Pulau Weh dan Raja Ampat menempati porsi yang lebih banyak, sementara tempat lain digambarkan secara kilas balik (flash back). Di sinilah letak kelihaian Pia dalam merangkai alur cerita yang tidak kaku. Luwes.
Pun begitu dengan bahasa yang digunakan, khas bahasa percakapan orang Jakarta. Dialog-dialognya renyah dan tidak rumit untuk dipahami. Hal ini bisa dipahami mengingat sasaran pembaca adalah para remaja. Minimnya salah ketik dalam novel ini menjadi kelebihan tersendiri. Rupanya sang penulis dan editor cukup jeli dan teliti mengenai masalah ini.
Secara bergantian antara Tami dan Faris mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya, pembaca seakan diombang-ambingkan: sebentar menjadi Tami, sebentar menjadi Faris. Kelebihannya, pembaca seolah diajak menyelami pemikiran kedua tokoh tersebut secara langsung.
Konflik dan adegan yang digambarkan dalam novel ini sama sekali tidak menyinggung SARA. Tidak ada adegan ciuman, gandengan tangan, atau pelukan antara lelaki dan wanita. Ini tentu patut diacungi jempol karena novel ini ditujukan buat remaja. Hanya saja, sayangnya masih ada adegan merokok yang dilakukan sahabat Faris. Tapi, tak apalah. Toh, dalam cerita itu usia mereka bukan lagi anak sekolahan.
Setting atau layout halaman buku juga tidak membuat mata letih. Tambahan ornamen-ornamen seperti daun kelapa, gambar pantai, dan hewan-hewan laut membuat halaman terlihat ramai, tapi tidak mengganggu.
Jadi Yang akan kamu lakukan jika kehilangan seseorang yang pernah begitu dekat, apalagi secara diam-diam kamu cintai, Bisa jadi, sepanjang hari yang kamu ingin hanya mengingat dirinya, apa pun yang sedang kamu kerjakan. Kenangan bersamanya adalah hal yang paling berharga. Dan, kamu tidak akan mengizinkan orang lain untuk mengusik kenangan itu dari dalam dirimu. Kamu tak rela jika kehadiran orang lain akan membuat kenanganmu bersamanya luntur atau bahkan hilang.
* Icha P. – XI MIPA-6 / SMADA 38