
Judul buku : SIN; God Hates The Sin, Not The Sinner
Penulis : Faradita (@fardisme)
Penerbit : Kubusmedia
Tahun Terbit : 2017
Tebal Buku : 444 halaman
Penulis dari novel SIN ini merupakan sosok yang aktif menulis cerita di aplikasi wattpad. Novel ini adalah salah satu dari tiga cerita bertema teen fiction yang telah ia terbitkan. Faradita memiliki banyak pengikut pada akunnya, terhitung ada 546 ribu pengikut yang setia menunggu hadirnya cerita baru. Tak hanya menulis cerita fiksi remaja, ia juga menulis cerita fantasi dan roman. Novel SIN merupakan salah satu novel yang diadaptasi ke layar lebar. Film dari buku ini diproduksi oleh Falcon Pictures dan rilis pada 10 Oktober 2019 diperankan oleh Mawar de Jongh sebagai Ametta Rinjani serta Bryan Domani sebagai Raga Angkasa.
Dalam novel ini diceritakan tokoh Ametta Rinjani, gadis yang populer dengan paras cantiknya hingga semua lelaki menatap penuh puja kearahnya. Mereka berlomba-lomba melakukan apapun agar Metta menjadi milik mereka. Habis manis sepah dibuang, sebenarnya Metta hanya ingin mempermainkan hati lelaki demi menghilangkan rasa kosong pada dirinya. Sombong, kasar dan sebutan trouble maker sangat melekat pada diri Ametta Rinjani. Hingar-bingar dunia malam seakan menjadi teman setia Metta yang selalu merasa kesepian.
Metta sangat yakin seluruh lelaki di sekolah tak mungkin bisa menolaknya. Namun keyakinan itu patah saat Metta menemukan sosok Raga Angkasa, seseorang yang bahkan tak pernah menyadari hadirnya Metta di sekolah. Raga tidak mau merusak masa depan yang sudah dirancangnya sedemikian rupa hanya karena seorang wanita. Menurut Raga, cinta dan wanita adalah hal yang merepotkan. Jadi, seorang gadis semacam Metta tidak akan pernah masuk kedalam daftar rencana dalam hidupnya.
Raga tidak bisa menghindar dari garis takdir. Ia tak sengaja terlibat dalam sebuah insiden yang membuat ia terjebak dalam permasalahan hidup Metta. Raga yang tak sengaja terlibat, mau tak mau harus menolong Metta yang hidupnya nyaris hancur akibat insiden tersebut. Dalam kondisi setengah sadar, Metta masih dapat mendengar dan mengingat suara sosok penolongnya yang tak pernah ia duga yakni Raga Angkasa.
Takdir keduanya pun tak terelakkan. Segalanya berjalan dengan indah dan rumit di waktu bersamaan. Awalnya mereka menjalin kasih karena Metta penasaran dan gencar menarik perhatian Raga. Dua remaja yang berbeda kepribadian, pada akhirnya mereka terjebak dengan perasaan masing-masing dan saling jatuh cinta.
Kisah cinta tidak selalu terasa manis. Sebuah fakta pahit dari masa lalu terkuak disaat mereka mulai bergantung satu sama lain. Kini keduanya dihadapkan pilihan, menjadi pendosa atau mengakhiri semuanya.
Kelebihan novel ini, alur cerita dikemas dengan menarik. Penulis menggambarkan detail-detail dengan cukup baik sehingga mudah bagi pembaca untuk mengimajinasikan. Perasaan masing-masing tokoh dapat disalurkan dengan baik sampai pembaca merasa tenggelam ke dalam cerita. Novel ini menggunakan bahasa sehari-hari dalam percakapan sehingga mudah untuk memahami dan membuat cerita ini semakin nyata. Character building dari masing-masing tokoh dapat dirasakan oleh pembaca. Walaupun awalnya fokus dalam perkembangan hubungan Metta dan Raga, tetapi penulis juga menambah latar kehidupan keluarga masing-masing tokoh.
Semakin lama konflik semakin meningkat dan pembaca akan dibuat kaget dengan plot twist yang disajikan. Pesan yang disampaikan oleh penulis secara tersirat adalah setiap perbuatan yang kita lakukan akan menimbulkan dampak di kemudian hari. Selain itu, digambarkan pula tokoh Metta dengan sifat sedikit buruk serta tokoh Raga yang sifatnya baik sebagai gambaran dari kondisi remaja yang mengalami broken home. Penulis ingin menyampaikan, dalam keadaan apapun kita harus tetap menjadi pribadi yang benar dan menjauhi segala hal yang dapat berakibat buruk.
Namun kekurangannya, novel ini mengandung adegan kekerasan, kata atau kalimat kasar serta adegan sedikit dewasa yang tidak layak untuk dibaca oleh pembaca dibawah umur. Cover dari novel ini terkesan membingungkan karena digambarkan ilustrasi perempuan tertidur dalam balutan kain berwarna merah muda. Dalam penulisannya, masih ditemui beberapa typo sehingga pembaca sedikit kurang nyaman.
Novel ini cocok untuk dibaca saat memiliki waktu senggang terutama bagi pembaca yang suka dengan cerita bertema anak sekolah. Bukan berlatar fantasi, pembaca tidak perlu banyak berpikir saat membaca novel ini. Pembaca seakan diajak untuk masuk dalam kisah cinta para tokoh yang gemes dan bikin baper. Banyak pesan yang dapat dipetik dari novel ini. Tetapi, dalam membaca juga perlu membuang hal negatif yang tidak patut ditiru dan menerapkan hal positifnya dalam kehidupan sehari-hari.*
*Josephine Violetta – XI IPS-3/SMADA 42