Rembulan di Tengah Hujan

Seperti anak SMA pada umumnya, sekolah dari pagi hingga sore kemudian melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Begitu juga dengan aku, orang yang tak mengenal apa itu kata lelah. Biasanya setelah sepulang sekolah aku memilih tetap tinggal di sekolah sampai matahari memejamkan matanya. Ntah itu untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar duduk bergurau dengan teman-temanku. Tapi pada sore itu ketika kami berkumpul untuk mengobrol aku sedang merasa capek jadinya aku hanya menyimak teman-teman yang sedang bercerita.

Tidak tahu mengapa tiba-tiba perasaanku menjadi tudak enak. Lalu aku memutuskan untuk pulang saja.

“Rin, aku pulang duluan ya?!” begitu kataku kepada salah satu temanku.

“Iya hati-hati, Clar!” katanya.

Setibanya di rumah aku bergegas masuk ke rumah melalui pintu belakang karena di depan seperti ramai sekali orang. Tampak sandal banyak sekali. Aku masuk sembari memanggil nama ibuku,

“Ibu? Ibu di mana? Aku sudah pulang,” panggilku.

Tapi tidak ada jawaban dari siapapun. Lalu aku berpikir kenapa ya banyak sekali sandal di depan? Seingatku tidak ada acara apapun di rumah.

Setelah masuk ke dalam rumah ternyata banyak orang di ruang tamu yang berpakaian serba hitam dan menitikkan air matanya. Aku penasaran dan mulai mendekat ke arah mereka. Betapa terkejutnya aku, setelah kuamati ada seseorang yang sedang terbujur kaku dengan alunan tahlil yang dilantunkan silih berganti oleh mereka serba hitam. Ayah mendatangiku kemudian berbicara kepadaku.

“Clar, anak ayah yang sabar dan tabah ya! Selalu doain ibu dan bahagikan ibu ya! Ibu sudah terbang ke surga,” katanya dengan nafas yang berderu dan suara yang bergetar tanpa menitikkan air mata.

Badanku bergetar dan tidak kuat lagi menopang tubuh ku, aku berjalan mendekat ke arah ibu dan terkapar lemas sambil menangis hebat. Di seberang ada saudaraku yang sama halnya denganku, menangis dengan nafas terengah, serta ada ayah yang dengan tegar menahan air matanya karena harus menenangkan keluarga kami yang terbalut kesedihan.

Keesokan harinya proses pemakaman ibu. Di sana aku masih merasakan kesedihan yang luar biasa. Harus ditinggalkan dan merelakan sosok ibu yang sangat berharga di hidupku. Entah bagaimana setelah ini hari-hari ku berjalan tanpa Ibu. Tetapi ayah mengajarkanku untuk terus sabar dan ikhlas dan tidak boleh sedih terus menerus karena nanti ibu juga ikut sedih. Jadi aku harus bisa membanggakan ibu.

Beberapa hari kemudian, aku menangis di ruang kamar yang gelap sendirian. Aku menggerutu karena aku sangat merindukan ibu. Beberapa saat kemudian aku tertidur dengan keadaan mata membengkak dan baju basah karena air mata. Di dalam tidurku ibu datang dalam mimpi.

“Nak, ibu juga kangen kamu. Kamu yang kuat ya! Jangan lupa untuk selalu bahagia,”  pesannya sambil memelukku.

Tiba-tiba suara keras terdengar dari luar sana kemudian aku terbangun. Tapi anehnya kenapa aku terbangun di sekolahan?

“Eh, Clar! Kamu tadi ngigo yah pas lagi tidur? Kamu manggil nama ibu mu berulang-ulang kali. Mana dibangunin susah banget,” kata temanku.

Setelah itu baru ku sadari kalau aku sedari tadi ketiduran di meja aula sekolah ketika lagi ngumpul sama teman-teman. Tapi anehnya mimpi itu terasa nyata sekali, aku sangat takut. Aku segera bergegas untuk pulang ke rumah dan mengecek situasi rumah. Syukurlah keadaan di rumah sedang baik-baik saja, begitu juga ibu yang sedang memasak untuk makan malam.

*Leoni Yunita Rahman – XI IPS-1/SMADA 42

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.