Anak-Anak Merapi di Tengah Bencana

Judul Buku : Anak-Anak Merapi
Penulis : Bambang Joko Anwar
Tebal Buku : xiii+249 halaman
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit : 2011

Jangan bersedih, Sahabatku! Jangan pernah menyerah, Merapi tidaklah meletus seketika.

Pasir, debu, dan batu-batu bercampur awan panas itu terus jatuh berhamburan bagai kapas dan bulu-bulu berterbangan yang ditumpahkan dari langit, bergulung-gulung ke bawah menerjang apa saja yang bisa diterjang. Teriakan histeris dan jeritan-jeritan orang ketakutan terus terdengar di sana-sini. Hari merangkak pelan menuju malam dalam hiruk pikuk, dalam kepanikan, dalam kegaduhan, dalam kengerian.

Nyaman, damai, dan bersahabat, itulah yang dirasakan penduduk sekitar terhadap Gunung Merapi. Selain udaranya yang sejuk, ia juga menjadi tempat bagi para penduduk untuk mencari nafkah. Mereka memanfaatkan kesuburan tanah merapi dengan berkebun salak pondoh yang selama ini memberikan penghasilan yang cukup bagi mereka. Tak hanya itu, Merapi juga menjadi perhiasan bagi daerah yang ada di sekitarnya.

Namun, persahabatan itu telah disulap menjadi genangan air mata ketika Merapi tak lagi bisa diajak berkompromi. Oktober – November 2010, aktivitas Gunung Merapi meningkat dan menunjukkan puncaknya. Ledakan dahsyat terjadi. Material vulkanik Gunung Merapi berupa pasir, batu, lumpur, debu, dan asap yang panasnya mencapai 600 derajat Celcius meluluhlantahkan seisi desa di lereng Merapi. Indonesia berduka. Puluhan jiwa tewas, termasuk Mbah Maridjan, sang Juru Kunci Merapi. Ribuan orang lainnya terluka dan kehilangan tempat tinggal. Banyak orang terpisah dari orang-orang terkasih dan sanak saudara. Suami terpisah dengan istri. Orang tua terpisah dengan anak.

Bambang Joko Susilo menuliskannya langsung dari barak pengungsian di Yogyakarta. Menatap pilu anak-anak Merapi kehilangan sekolah, rumah, dan orang-orang terkasih. Dengan kecintaannya pada anak-anak, ia ingin mengisahkan kehidupan Yudhistira, Bimo, dan Juno Si Anak-anak Merapi menjalani kehidupan kanak-kanak mereka di tengah situasi bencana.

Cerita mengalir begitu indah. Pembaca bisa merasakan bagaimana keadaan yang dialami anak-anak dan warga yang berdiam seputaran Gunung Merapi. Novel karangan Bambang Joko Susilo ini lahir karena adanya kecintaan dan empati penulis pada anak-anak, khususnya mereka para korban amukan Merapi. Penulis mengangkat cerita dari kisah nyata yang dialami oleh penduduk seputaran Gunung Merapi. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, penulis berusaha untuk menyajikan cerita yang bermanfaat bagi pembaca.

Banyak pesan moral yang terdapat di dalam novel ini. Salah satunya adalah imbauan kepada kita untuk selalu berserah diri pada Allah SWT dan semua yang ada adalah miliknya. Selain itu, novel ini mendidik bagaimana hubungan yang harus dilakukan oleh manusia dengan alam. Bagaimana anak-anak belajar berbagi dan berempati dengan sesamanya. Serta bagaimana bersikap dalam menerima cobaan dari Tuhan. Buku ini dilengkapi gambar dan pantas dibaca oleh anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.*

* Kaila Zahra Aisyafa – XI MIPA KBC / SMADA 42

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.