Antara Cita-cita atau Ambisi Orang Tua

Sore itu Asahi bersama Mama tengah menyaksikan tayangan televisi di ruang keluarga miliknya. Asahi dengan wajah yang murung sembari menggigiti kukunya terlihat tengah memikirkan sesuatu. Benar, Asahi memang tengah memikirkan sesuatu. Dirinya akhir-akhir ini dihantui rasa bingung antara memilih kelas IPS atau IPA.

Ayahnya yang menyandang profesi sebagai dokter bedah ternama di Bandung memaksanya untuk masuk kelas IPA agar Asahi dapat melanjutkan jejak Ayahnya, dan juga Kakaknya yang merupakan seorang dokter kandungan. Tetapi, Asahi sendiri sebenarnya memiliki keinginan untuk memilih kelas IPS. Karena cita-citanya ingin menjadi pengacara. Asahi bingung harus mengikuti kata hatinya atau Ayahnya yang telah membesarkan dia selama ini. Setiap hari ia meminta petunjuk kepada Tuhan, tetapi jawabannya nihil. Ia tetap belum bisa memutuskan pilihannya.

“Kamu kenapa, Sa?” Mama membuka suara.

“Ma, apa benar aku tidak boleh mengambil jurusan IPS oleh Ayah?” tanya Asahi.

“Ya.. begitulah. Kamu seperti tidak hafal ayahmu saja,” jawab Mama

“Kenapa Mama diam saja? Bukannya Mama pernah bilang akan mendukung apapun pilihanku.” ucap Asahi

“Iya, Mama memang pernah bicara begitu. Tapi apa salahnya mengikuti apa kata Ayahmu, Sa? Sekali ini saja Mama mohon.”

“Sekali ini saja kata mama? Ma, mama lupa ya selama ini bagaimana Ayah ke Asahi? Apa Ayah pernah menyetujui pilihan Asahi?” Asahi menjawab dengan raut wajah tidak terima.

“Ayah seperti itu kan juga ada alasannya, Sa. Kamu tahu sendiri jika Ayahmu itu dokter, Kakakmu juga dokter. Wajar kalau Ayah menyuruh kamu ambil IPA. Supaya kamu bisa lanjut ke kedokteran. Masa kamu tidak mengerti, sih?” jawab Ibu sembari menyeruput tehnya.

“Huh….Kapan sih Ayah membebaskan aku untuk mengambil keputusan. Toh aku juga udah besar, udah tahu lah mana yang baik buat diriku sendiri,” Asahi mendengus kesal terhadap sang Ayah.

Di tengah percakapan mereka, Ayah Asahi datang langsung menyahut percakapan mereka.

“Kamu ini kenapa sih ngeyel banget jadi anak? Ayah itu tahu yang terbaik buat kamu.” Ayah menyahut dengan wajah yang tampak memerah menahan emosi.

“Aku ini tidak minat Yah sama begituan, aku tidak suka hal-hal yang berbau kedokteran. Bukannya Ayah tahu sendiri kalau aku tidak berbakat di bidang IPA. Ayah lupa ya kalau aku pernah dapat nilai 10 saat ulangan fisika?” jawab Asahi dengan nada meninggi.

“Apa ayah mau hal itu terulang lagi? Ayah mau menanggung malu gara-gara nilaiku?” sambungnya. Kini Asahi sadar, bahwa yang lebih penting saat ini adalah ia harus mengikuti apa kata hatinya daripada mengikuti permintaan ayahnya. Karena ia tidak mau lagi melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.

Ayah menatap Mama sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka jika anaknya ini benar-benar tidak berminat masuk jurusan IPA.

“Asahi, Mama tahu kamu emosi. Tapi jangan sambil teriak-teriak seperti ini, ya? Ayah baru pulang kerja pasti capek lho.” Ibu menyahut pembicaraan yang cukup menegangkan itu.

“Sa, Ayah seperti ini juga demi kebaikan kamu. Ayah itu pengen semua anak-anak Ayah sukses. Ayah takut kalau kamu nanti tidak lebih baik dari Ayah. Apa kata orang-orang nanti kalau kamu tidak se-sukses Ayah.” jawab Ayah dengan nada lembut menghadapi anaknya yang tengah tersulut emosi.

“Ya bukan begitu caranya yah, aku juga pengen mengambil keputusan sesuai kata hatiku” jawab Asahi dengan wajah memerah dan mata yang berkaca-kaca.

“Tolong dong sekali saja Ayah membebaskan aku. Aku janji kok sama Ayah, meskipun aku nanti masuk di jurusan IPS aku bakal lebih sukses dari Ayah,” sambung Asahi.

“Sudah-sudah, kalian ini memang seperti pinang dibelah dua, sama-sama keras kepala tidak mau mengalah. Yang satu selalu memaksa anaknya, yang satu lagi mau saja dipaksa walaupun akhirnya marah-marah di belakang” sahut Mama, ia sudah lelah mendengar percekcokan antara sang suami dan anak bungsunya itu.

Ayah tampak merenung, ia menyadari bahwa sedari dulu ia tidak pernah membiarkan anak bungsunya itu mengambil keputusan sendiri. Ia selalu memaksa Asahi untuk memilih jalan yang sesuai dengan kehendaknya. Walaupun sebenarnya semua itu demi kebaikan Asahi, tetapi nyatanya bagi Asahi tidak begitu. Anak itu sudah lama tersiksa akibat semua keputusan Ayahnya yang seringkali bertolak belakang dengan keinginan Asahi sendiri. Mungkin sekarang adalah saatnya untuk membiarkan Asahi menentukan jalan hidupnya sesuai dengan keinginannya.

“Kamu kalau memang ingin sekali masuk IPS, apa yang bisa kamu janjikan untuk Ayah? Supaya Ayah yakin dengan keputusanmu?” tanya Ayah.

“Aku ini suka berdebat, Yah. Aku juga sudah seringkali mendapat kejuaraan lomba debat. Kalau aku masuk di kelas IPS, aku bisa lebih menekuni hal itu. Ini bisa menjadi peluang untuk masuk ke perguruan tinggi yah. Kebetulan kan aku ingin masuk Fakultas Hukum. Pastinya kemampuanku dalam bidang debat ini dapat memudahkan aku nantinya. Ayah percaya deh sama aku, 10 tahun lagi aku bakal menjadi Asahi Paris,” jawab Asahi sambil melawak.

“Hah Asahi Paris itu apa, Sa?” tanya Mama yang tampak kebingungan.

“Ih, Mama masa tidak paham. kan kalau om Hotman, Hotman Paris. Kalau Asahi, ya Asahi Paris dong,” Asahi mencoba menjelaskan ke Mama.

“Ck, kamu ini ada-ada saja,”  Mama tidak kuat menahan tawanya mendengar lawakan garing si bungsu

“Ya sudah Sa, kalau memang kamu punya pilihan dan yakin dengan itu, Ayah hanya bisa menyetujui apa yang kamu pilih. Ayah juga percaya kalau kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa menentukan mana yang terbaik untukmu,” Ayah akhirnya menyetujui keputusan Asahi.

“Serius ayah mengizinkan aku masuk IPS?” tanya Asahi dengan mata yang tampak berbinar-binar.

“Iya, Maafkan Ayah ya kalau selama ini Ayah selalu memaksa kamu untuk mengikuti semua kemauan ayah. Ayah sayang sama kamu, Sa. Semoga apapun pilihan kamu, kamu bisa sukses ya, Nak,” jawab Ayah.

“Siap Yah, aku janji bakal membuat Ayah, Mama, dan Kakak bangga. Terima kasih ya, Yah,” Asahi pun mendekati Ayah dan Mamanya, lantas memeluk mereka. Ketiganya saling berpelukan penuh kasih sayang.

“Maaf ya Ayah kalau nada bicaraku tadi agak kasar dan keras,” ucap Asahi yang tampak menyesali nada bicaranya.

“Tidak apa-apa Sa, lagipula kamu kan setiap hari kalau ngomong memang lemah lembut seperti bawang putih,” jawab Ayah.

“Ih, Ayah. Jangan begitu,” sahut Mama.

* Mayga Riang Putri Katryani – XI IPS-2 / SMADA 42

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.