
MENTARI mulai memancarkan cantiknya, disambut kicauan burung pipit yang menari di ketinggian pohon bambu itu. Tak lain dengan kakek tua yang memikul cangkul dengan tanah sebagai alas kakinya. Semangatnya dalam mengais rezeki bak sinar surya yang menyinari pertiwi, menghadap lahan luas milik tetangganya. Langkah demi langkah kakinya terselimuti tanah lembek yang terguyur hujan semalaman. Kek Rahmat namanya, seorang buruh tani dan penggarap lahan sawah orang lain.
’’Alhamdulillah, Duh Gusti. Pagi ini Engkau masih menganugerahi saya kesehatan sehingga hamba-Mu ini bisa bekerja sebagai bentuk ibadah kepada-Mu,’’ujar kakek tua itu sambil memandang lahan dengan penuh suka cita.
Usia Kek Rahmat sebenarnya tak mengharuskan ia bekerja keras seperti ini. Namun, apalah daya jika ia tak bergegas nekat, makanan tak akan memenuhi perut kakek tua ini. Ia tinggal di rumah tua miliknya bersama satu orang cucunya yang diterlantarkan oleh bapaknya, yang tak lain adalah anak Kek Rahmat sendiri.
Adzan dzuhur mulai berkumandang. Kek Rahmat bergegas memikul cangkul dan berjalan kembali melewati tanah lembek menuju rumahnya. Sampai di rumah, Ia segera membersihkan diri dan mengajak cucunya untuk sembahyang di surau.
“Cu, ayo segera berangkat keburu iqamah nanti,” ujar kakek sambil memakai baju koko yang sudah kusam.
“Sebentar, Kek. Sandalku yang sudah ku tali sekarang putus lagi. Aku sholat di rumah saja ya, Kek” jawab Alif, cucu kakek Rahmat dengan kecewa.
”Kalau begitu, kakek gendong saja ya daripada sholat sendirian lagipula lantai tanah rumah kita kan agak basah,” ajak Kek Rahmat kepada Alif.
Kemudian kakek berangkat sambil menggendong cucunya dengan nafas terengah-engah menyusuri jalan batuan yang panas karena terik sang surya. Kegigihan kakek tua ini menyebabkan munculnya rasa iba dan belas kasih tetangganya. Tak jarang mereka memberikan makanan untuknya.
Sepulang dari surau, kakek tua iitu mengajak cucunya untuk berteduh dan istirahat di bawah pohon bambu dekat rumahnya. Cuaca sangat terik dan rumah kakek terasa sangat panas. Di bawah pohon bambu terdapat amben yang sudah lama dibuatnya.
”Kek, aku lapar,” keluh Si Alif.
“Oh iya, Kakek lupa kita belum makan. Sebentar kakek belikan nasi uduk di warung Bu Anah,” jawab Kek Rahmat sambil memakai sandal jepitnya.
Tak lama kemudian kakek Rahmat yang renta itu kembali dengan membawa dua bungkus nasi uduk yang dibungkus daun pisang serta dua plastik air putih yang biasanya Bu Anah memberikannya secara gratis.
Istirahat di bawah pohon bambu yang berpuluh tahun usianya dapat membawa ketenangan serta kedamaian bagi si kakek dan keluarganya sejak dahulu. Namun sayang, istri Kek Rahmat telah meninggal lima tahun silam karena mengidap penyakit yang sangat parah. Kedua anak Kek Rahmat pun entah kemana setelah berkeluarga dan meninggalkan lelaki renta ini.
“Cu, setelah ini tolong bantu kakek ngumpulin kayu kering sama ranting bamboo, ya!” pinta si kakek kepada Alif.
“Baik, kek!” jawab Alif dengan senang hati.
Sesekali kakek Rahmat istirahat saat mengumpulkan ranting dan kayu kering karena usia yang tak mendukungnya.
Suatu hari Kek Rahmat yang sedang istirahat di bawah pohon bambu didatangi dua orang perangkat desa dengan membawa sekantong plastik yang diberikan kepada kakek tua ini. Perangkat desa itu menanyakan kabar dan kondisi keluarga Kek Rahmat. Anehnya, selama ini tidak ada satu pun perangkat desa yang mempedulikan keadaan Kek Rahmat. Akan tetapi, Kek Rahmat tetap menyambut kedatangannya dengan penuh harapan.
Keesokan harinya, Pak Jamal, pemilik lahan sawah yang digarap Kek Rahmat menghampiri rumah kakek itu.
“Assalamu’alaikum, Mbah!” salam Pak Jamal di depan pintu Kek Rahmat.
“Wa’alaikumsalam. Ehh, ada Pak Jamal.. mangga masuk Pak!” jawab si kakek dengan semangat.
“Di sini saja, Mbah. Sejuk,” ujar Pak Jamal sembari duduk di amben teras.
“Begini, Mbah. Saya itu denger kalau kemarin ada perangkat desa yang menghampiri Mbah Rahmat gitu,” ujar pak Jamal.
“Oiyaa, Pak. Saya ya kaget. Lha biasanya nggak pernah peduli he he he. Memangnya ada apa lho, Pak Jamal?” tanya si kakek.
“Nggak ada apa-apa, Mbah. Ya heran, ya seneng gitu mereka jadi peduli,” sahut Pak Jamal dengan sedikit tersenyum.
“Ohh, saya ya jadi seneng kok, Pak,” jawab Kek Rahmat dengan penuh harap.
Pak Jamal langsung berpamitan dan meninggalkan begitu saja dengan ekspresi bimbang. Akan tetapi, Si kakek dengan kepolosannya tak memperdulikan hal itu. Ia bergegas mengumpulkan kayu kering untuk memasak air. Namun sayang, sore itu kayu dan ranting banyak yang basah sehingga terpaksa kakek pulang dengan membawa kayu dan ranting basah untuk dijemur dahulu. Keadaan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Kek Rahmat. Tak jarang Ia tak bisa mengumpulkan kayu karena penyakit yang dideritanya kambuh.
***
DUA bulan kemudian. Hari itu cuaca sedang tidak bersahabat. Tetes demi tetes air membasahi lantai tanah si kakek tua itu. Suara nyanyian para katak menambah suasana syahdu. Air hujan mulai merembes naik ke dinding bambu si kakek. Kek Rahmat keluar dari kamarnya sembari berselimut kain sarung kotak-kotak. Hujan yang semakin deras membuat kakek menjadi terpaksa tidak ke sawah hari ini. Cuaca yang buruk pun membuat badan kakek semakin tidak enak.
“Cu, tolong belikan kakek obat batuk di warung Bu Anah!” pinta kakek pada Alif.
“Baik, Kek!” jawab alif dengan tersenyum.
Hujan semakin reda tetapi cuaca masih gelap. Sembari menunggu obat yang dibelikan Alif, Si kakek duduk di amben di teras rumahnya. Datang lagi dua perangkat desa untuk yang kesekian kalinya tak lupa membawa sekantong plastik yang diberikan kepada Kek Rahmat. Si kakek menyambut kedatangannya dengan mata yang berkaca-kaca penuh harapan.
“Assalamu’alaikum, Mbah Rahmat..!” salam si perangkat desa.
“Wa’alaikumsalam, Pak. Mangga!” sambut si kakek tua dengan ramah.
“Oh, lagi nggak enak badan to mbah kok pucat?“ tanya si perangkat desa.
“Oh iya, Pak. Agak kurang enak badan ini,” jawab Kek Rahmat dengan lirih.
Kedatangan mereka hari itu sangat sebentar Padahal masih gerimis. Akan tetapi Kek Rahmat tak menghiraukannya dan mengambil kantong plastik untuk dibawa ke dalam rumah. Roti yang diberikan perangkat desa tadi dibuat sarapan si kakek dan cucunya dan lekas meminum obat yang dibelikan si Alif tadi.
Keesokan harinya, cuaca sangatlah panas. Kak Rahmat mengistirahatkan dirinya seperti biasa di bawah pohon bambu sambil menahan lapar dan menunggu cucunya untuk mengantarkan air minum dan roti. Saat cucunya datang dan membawakan makanan, tak lama kemudian datang lagi perangkat desa dengan tiga kantong plastik makanan yang tak seperti biasanya.
“Mbah Mat, sedang istirahat ya?” tanya salah satu perangkat desa sambil memberikan sembako kepada kakek Rahmat.
“Walah.. kok repot-repot to pak saya jadi nggak enak ini,” jawab si kakek.
“Halah, enggak. Mbah Rahmat sering ya istirahat di sini?” tanya si perangkat desa.
“Lha, di sini itu seperti rumah kedua saya lho, Pak. Dan harta benda saya satu-satunya. Sudah sejuk, adem, enak gitu lho, pak,” jawab si kakek.
“Iya, Mbah. adem. Gini, Mbah. Kedatangan saya di sini mau nyampaikan sesuatu mengenai lahan pohon bambu milik Mbah Rahmat ini,” ujar si perangkat desa.
“Anu, Mbah. Kan selama ini warga desa sering keluhkan jalan ke sawah soalnya becek lah, kaki tenggelam di tanah lah, jalan sempit lah, banyak duri rerumputan dan sebagainya.. Nah, karena itu kami mohon ijin ke mbah Rahmat untuk mengubah daerah pohon bambu ini menjadi jalan alternatif menuju sawah. Soalnya kan nanti jalannya bisa lebar dan warga desa jadi enak gitu lho, Mbah.” jelas salah satu si perangkat desa.
“Sebenarnya kami itu tidak tega untuk membicarakan ini ke Mbah Rahmat, tapi hanya ini satu-satu nya cara untuk bisa memajukan pembangunan desa agar penduduknya sejahtera, Mbah” sahut si perangkat desa yang satunya.
“Tapi saya ini sudah tidak punya apa-apa lho, Pak. Hidup cukup susah dan kasihan cucu saya yang sering kepanasan kalo di rumah kami siang hari. Ya, Allah Gusti!” sanggahan kakek sembari meneteskan air mata.
“Maaf, Mbah. Tapi jangan khawatir, desa akan membeli tanah lahan pohon bambu ini,” hibur si perangkat desa.
Kakek tak menjawab. Ia hanya menangis tersedu seakan kehilangan keluarganya sendiri.
***
POHON-POHON bambu milik Kek Rahmat mulai dihancurkan menggunakan alat berat guna dibangun jalan alternatif menuju sawah. Kek Rahmat dan Alif melihat dari kejauhan sambil meneteskan air mata, seakan-akan mereka mengerahkan separuh jiwanya untuk kepentingan orang banyak. Tangisan mereka tak menjadi sorotan bagi perangkat desa itu. Para perangkat desa itu berkegiatan seakan baik-baik saja. Kini, kakek dan Alif hanya bisa berdoa kepada Yang Mahakuasa agar diberikan keadaan lahir dan batin yang lebih baik.
Kek Rahmat menjadi sering sakit-sakitan. Penyakit livernya sering kambuh. Cucunya, si Alif yang masih kelas 5 SD harus merawat kakeknya dengan kegigihan yang diajarkan oleh kakeknya. Akan tetapi, tiga bulan kemudian nyawa kakek Rahmat tak bisa tertolong. Ia meninggal dunia, meninggalkan cucunya yang masih bocah itu. Si Alif terpapar lemas dengan kenyataan yang dihadapinya, tak kuasa melihat keadaan yang sangat memukul hidupnya.
Kesedihan yang dihadapi keluarga Kek Rahmat menimbulkan rasa bela sungkawa dan turut berduka cita sedalam-dalamnya. Akhirnya Alif diasuh oleh Bu Anah yang selama ini hanya memiliki anak tunggal. Tak lupa, Alif tetap menerapkan kegigihan yang selamai ini diajarkan oleh kakeknya dalam menjalani kehidupan.*
*Nabila Choirunnada (XI MIPA-1)