
karya Bernika Jona
DENGAN sangat cekatan Dira melipat kertas origami yang baru ia beli di toko buku salah satu mall ternama di Bandung. Sevin hanya bisa melongo melihat kelakuan sahabatnya ini.
”Lo lagi ngapain sih?” tanya Sevin sambil berjalan ke arah Dira.
“Lagi berak,” jawab Dira sekenanya tanpa memandang lawan bicaranya.
“Eh sialan. Gue nanya beneran kali, Dir!” protes Sevin yang hanya mendapat cengiran kuda khas milik Dira.
“Haha, gue mau bikin seribu bangau.”
Mata Sevin yang bulat itu semakin membesar mendengar perkataan dari Dira.
”Serius? Emang lo bisa? Lo kan pemales banget,” ujar Sevin yang diikuti kekehan yang sudah tidak bisa Sevin tahan lagi.
Dengan kekuatan badak super, Dira melemparkan bantal yang berada disampingnya menuju arah Sevin yang sukses mendarat mulus tetap diwajah Sevin yang membuat Dira sangat bangga melihat Sevin yang memasang raut wajah kesal.
“Bah, sialan lo. Orang nanya malah dilempar bantal,” ucap Sevin yang tidak terima atas perlakuan Dira.
“Lo sih, rese. Gue mau konsentrasi biar cepet selesai.”
Setelah Dira menyelesaikan origami yang entah sudah keberapa kalinya, ia berdiri mengambil satu tabung besar yang sudah terisi setengah oleh burung bangau kertas yang berwarna-warni indah. Lagi-lagi Sevin hanya bisa melongo yang membuat Dira ingin menabok wajah mulus Sevin itu.
“Gila lo. Udah berapa banyak itu? Gue gak nyangka lo bisa-bisanya serajin ini. Padahal pe-er aja lo jarang buat.”
Dira meletakkan tabung tersebut tepat dihadapan Sevin lalu berdiri lagi dan berjalan menuju kalender yang ia buat khusus untuk menghitung burung bangaunya itu.
“Udah 782. Jadi kurang 218 lagi..” ucap Dira dengan senyum yang mengembang sempurna. Dira berjalan menuju tempat tidurnya dan meneruskan apa yang sudah ia kerjakan sedari tadi.
“Wiihh, keren. Eh, buat apaan sih lo bikin beginian?” tanya Sevin antusias.
Dira hanya tersenyum menatap Sevin.
“Buat orang yang gue sayang.”
***
AKHIRNYA Dira dan Alva sampai di sekolah. Dira melompat dari motor hitam besar kakaknya.
“Makasih kakak gue yang gantengnya selangit!” ujar Dira sambil mencium kilat pipi Alva.
“Jangan lari-lari, Dek! Nanti jatoh!” teriak Alva dari motornya. Ada kalanya Alva memang sangatlah jutek, tapi aslinya overprotective.
Dira melambaikan tangan dan tersenyum. “Ga bakal jatoh, Ka…“
Ternyata dewi fortuna sedang tidak berpihak pada Dira. Belum sampai Dira menyelesaikan kalimatnya, kakinya sudah terjerembab masuk ke dalam got.
“Kak Alva….” lirih Dira sambil menahan tangis. Sudah menjadi kebiasaan bagi Dira jika terjadi sesuatu padanya maka dia akan memanggil nama kakaknya itu.
Alva langsung turun dari motornya dan berlari menghampiri Dira.
“Tuh kan, gue bilang juga apa. Ceroboh sih lo, Dek.”
Dira hanya cemberut dan pasrah ketika Alva memarahinya. Memang Dira ini sangat ceroboh.
***
DIRA berjalan berjalan menyusuri koridor yang sudah mulai sepi karena memang bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar 15 menit yang lalu. Ia berjalan sambil membawa sekitar 6 buku tebal yang harus segera ia serahkan kepada Bu Umi guru bahasa Indonesianya.
“Udah boncel tambah boncel lah lu.”
Suara itu sudah tidak asing lagi bagi Dira. Lelaki itu berjalan santai di belakang Dira sambil membawa 2 buah tas. Salah satunya adalah tas Dira. Sudah menjadi kebiasaan untuk Elang mengatai Dira seperti itu. Dira juga sudah kebal dengan semua omongan Elang.
Dira hanya diam cemberut tidak mau menanggapi omongan teman dari kecilnya itu. Dira akui tangannya sudah sangat sakit membawa buku sebesar ini, tetapi ia tidak mau dianggap remeh oleh Elang. Ruang guru masih cukup jauh.
Dira yang ceroboh sudah mulai berjalan gontai dan akhirnya ia oleng ke kanan dan menabrak dinding disampingnya.
“Kak Alva….” lirih Dira sambil menahan tangis. Dira terus memegangi kakinya yang berdenyut.
Elang langsung menjatuhkan kedua tas yang sebelumnya ia bawa tepat disamping Dira. Elang berjongkok untuk memunguti buku-buku yang berserakan.
Tanpa berkata Elang langsung bergegas pergi menuju ruang guru untuk memberikan buku-buku tadi kepada Bu Umi. Dira hanya diam tak berdaya melihat Elang yang malah meninggalkannya yang masih terduduk kesakitan di lantai. Dira hanya bisa mengumpat di dalam hati.
Saat Dira ingin mencoba memijat perlahan kakinya yang sepertinya terkilir, tiba-tiba langsung ditepis oleh Elang.
“Jangan. Gue aja. Kalok sama lo nanti akhirnya malah tambah kaga bener,” Elang mencoba mijit perlahan pergelangan kaki kiri Dira.
“Huaaa… sakiittt…” rengek Dira.
Elang memberikan tas milik Dira dan mengenakan tas miliknya di bagian depan. Elang lalu berjongkok membelakangi Dira.
“Naik!” perintah Elang.
Dira hanya diam mendengar perkataan Elang. Elang berbalik dan menyentil kening Dira.
“Mau sampe kapan lo duduk diem disitu? Ayo pulang!”
“Sakit, Lang.”
“Cepet naik atau lo mau gue tinggal di sini?!” ucap Elang dingin yang sudah membelakangi Dira lagi.
Dira mengenakan tasnya. Dengan kekuatan yang masih dimiliki Dira, ia mencoba untuk naik ke punggung Elang. Dira menahan tangisnya. Kakinya sangat sakit.
Dira mengaitkan tangannya di leher Elang. Dira menyembunyikan kepalanya di lekukan leher Elang. Elang menggendong tubuh mungil Dira.
“Gak usah sok sok an kuat kalok dasarnya lo gak kuat. Cuma tinggal ngomong bantuin apa salahnya,” ucap Elang panjang lebar yang tak di jawab sepatah katapun dari Dira.
***
“DEK! Bukain pintunya!” teriakan Alva menginterupsi kegiatan melipat Dira.
“Lo aja kak! Gue lagi sibuk nih!”
Suara bel rumah terdengar kembali.
“Dek!”
Akhirnya Dira menyerah dan turun tergesa-gesa dari lantai dua. Dira langsung menuruni 2 anak tangga sekali jalannya.
“Dek! Jangan lompat dua tangga! Jatoh nanti!” Alva selalu tau jika adiknya itu sedang dalam keadaan ceroboh.
“Enggak kok, Kak…!”
Gedebug
Dugh
“Kak Alva…” ringis Dira.
Suara derap langkah kaki Alva langsung terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu depan. Dira merasa gagal menjadi tuan rumah yang baik dan benar.
“Pasti lo nyungsep lagi ya?!” Itu lebih kepada pernyataan di bandingan pertanyaan.
Dira hanya cemberut mendengar perkataan Elang.
“Kak Alva…”
Akhirnya yang dipanggil datang juga.
“Ya ampun, Dek. Kan udah gue kasih tau tadi. Lo sih ngeyel banget.”
Dira melirik ke arah Elang, ternyata dia bawa sesuatu di tangannya. Dengan baik hati Alva membantu Dira berdiri.
“Apaan tuh, Lang?” tanya Alva.
Elang melirik bawaannya sebentar, kemudian menatap Alva dan Dira.
“Mama bikin brownies. Dia inget lo sama Dira doyan banget sama brownies, jadi gue disuruh ngasih deh.”
“Nih..!” ujar Elang sambil menyerahkan satu kotak tupperware.
“Serius?! Waahh! Tante emang the best lah!” teriak Alva yang langsung pergi ke ruang keluarga.
Dira melirik Elang yang sedang memperhatikannya.
“Ap..apa?” tanya Dira gugup.
Elang mendekatkan wajahnya pada wajah Dira. Kedua tangannya menjulur ke arah Dira. Dira hanya diam di tempat.
Tak lama kemudian Elang menjauhkan dirinya dari Dira dan memandang Dira sambil berkacak pinggang.
“Bagus. Pas buat lo,” ujar Elang sambil tersenyum.
Dira mengernyit bingung “Apanya yang pan…“
Ucapan Dira terpotong ketika merasakan ada sesuatu di lehernya. Dira menoleh kesamping kanan yang memang di pasangi kaca. Dira mendekat dan menemukan ada kalung silver berbentuk panda. Manis sekali bertengger di lehernya.
Baru saja Dira ingin mengucapkan terima kasih, Elang sudah berjalan menjauhi Dira. Elang mengangkat sebelah tangannya. “Happy Birthday”
Bagaimana bisa Dira lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tanpa disangka ternyata wajah Dira sudah terasa panas menjalar hingga ke telinga.
***
“GUE ikut.”
Tiba-tiba Alva datang mengagetkan Dira yang sudah duduk manis di dalam mobil Raka-teman Dira-pacar Sevin. Dira, Sevin, dan Raka hari ini berencana untuk hanya sekedar jalan-jalan ke Dufan.
Sebenarnya Dira sangat risih jika kemana-mana hari dibuntuti oleh Alva, tetapi dia juga akan kerepotan tanpa Alva.
“Kakak, gue kan udah gede. Bisa jaga diri sendiri,” ujar Dira memelas. Alva hanya menggeleng menanggapi ucapan adiknya.
“Entar kalo lo ilang kaya tahun kemarin gimana? Bisa ditampol gue sama Pama Mama.”
Dira berdecak kesal. Tahun lalu, saat kelas 9 Dira sempat hilang. Saat itu karena Dira mencari burung bangau pertama yang ia buat. Entah kemana burung bangau itu sekarang. Padahal Dira sudah memberi burung bangau itu nama dan tanda tangannya. Untungnya saat itu Elang menemukan Dira yang sedang menangis di pojokan dekat rumah hantu.
“Kak, gue udah gede kok. Bisa jaga di…“
Pletak! Sebuah jitakan mendarat mulus di kening Dira.
“Kak, Dira biar gue yang tanggung jawab. Ntar gue sms-in lo tiap dua jam sekali deh.”
Dira bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Elang sudah berada di depan rumahnya. Tangan Elang masih bertengger manis di atas kepala Dira setelah menjitak Dira tanpa perasaan.
“Setengah jam sekali,” ucap Alva.
“Satu jam sekali,” ucap Elang menawar.
“Fine!” akhirnya Alva mengalah..
“Oke. Lo harus sama gue selama di Dufan nanti.”
“Gue bisa sendiri, Lang!” erang Dira kesal.
“Susah ya direbutin dua cowok cakep….” ujar Sevin sambil geleng-geleng kepala. Dari tadi Sevin dan Raka memang hanya menjadi penonton.
Elang langsung duduk di kursi penumpang belakang tepat disamping Dira.
“Kak Alva, bilangin sama Elang. Gue bisa sendiri.”
Alva menatap Dira dengan satu alis terangkat dan berjalan mendekati Elang.
“Lang, gue titip adek gue. Sesuatu terjadi sama dia, maka idup lo gak tenang.”
Setelah berkata seperti itu mereke ber-high-five ria. Alva pergi meninggalkan mobil Raka sambil bersenandung.
***
“KAK Alva….” lirih Dira setelah berhasil nyungsep di aspal Dufan. Dira baru saja turun dari wahana halilintar yang tentunya bersama Elang.
Elang membantu Dira berdiri dan mendudukan Dira di salah satu bangku taman.
“Lang, Sevin kemana?” tanya Dira.
Elang yang sedang berjongkok melihat kaki Dira hanya menggeleng. “Gak ada dari tadi.”
“Iya. Kemana?” tanya Dira lagi.
“Tadi sama Raka.”
Keduanya hanya diam untuk beberapa saat.
“Tunggu sini bentar. Gue mau beli minum. Lo mau gak?” tanya Elang dengan wajah datar.
Dira mengangguk, kemudian menggeleng. Elang berdecak kesal.
“Punya mulut tuh dipake.”
Dira mengangguk.
“Iya gue tunggu lo di sini.” Kemudian Dira menggeleng.
“Enggak, gue gak mau minum.”
Elang mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Dira. Dira melongo melihat kakinya. Untung saja kakinya tidak berdarah.
Dengan cepat Dira membuka isi tas dan mengeluarkan kotak kecil, tempat dimana Dira menaruh kertas origami dan burung bangau kertasnya jika sedang berada di luar rumah.
Dira mengambil kertas berwarna biru metalik dan mulai melipat.
Semakin terhanyut dalam lipatan kertas, Dira tak sadar jika ternyata salah satu burung bangunya sudah terbang entah kemana. Dira berdiri, berjalan, celingukan kesana kemari mencari burung kertasnya.
Pandangan Dira tertumbu pada kertas berwarna biru diantara kerumunan orang.
“Permisi… Permisi…” ucap Dira perlahan untuk membelah lautan manusia.
Dengan susah payah akhirnya Dira dapat berjongkok dan mengambil burung bangau kertasnya itu. Tapi bodohnya adalah Dira terdorong seseorang dan akhirnya jatuh terjerembab.
“Kak Alva….” ringis Dira ketika Dira merasakan kakinya terasa perih. Dira menunduk dan melihat kakinya yang sudah berdarah.
“Kak Alva…. Sakit….”
Dira berusaha untuk berdiri, tapi gagal. Terlalu ramai. Bukannya sukses berdiri, punggung tangan Dira malah terinjak seseorang.
“Aduh! Sakit!” teriak Dira kesal.
Akhirnya Dira menangis.
“Elang….” itu adalah kata yang berbeda selama Dira hidup. Biasanya selalu ada Alva yang menemani Dira. Tapi tidak untuk sekarang. Yang bersama Dira seharian ini adalah Elang.
Tiba-tiba kerumunan agak renggang dan Dira menyadari bahwa ada lengan yang melingkar dipinggangnya.
Dira menoleh. Ternyata Elang sedang menggendongnya, menjauhkannya dari kerumunan orang-orang. Dira memeluk leher Elang dan menenggelamkan wajahnya di dada Elang.
“Tadi gue bilang apa? Lo budeg ya?” ucap Elang.
Dira menggeleng dan menangis.
“Lo kenapa pergi? Gara-gara bangau kertas itu?” tanya Elang.
Dira mengangguk dalam pelukan Elang. Sampai di tempat sepi, Elang menurunkan Dira.
“Tuh liat, berdarah kan….”
Elang membuka tasnya dan mengelurakan sebuah kotak yang cukup besar.
“Apaan itu Lang?” tanya Dira sambil menyeka air matanya.
“Betadine dan kawan-kawan.”
Dengan perlahan Elang mengobati luka Dira. Dira hanya bisa diam menatap Elang. Elang memeriksa bagian tubuh Dira yang lain seperti sikut, dengkul, tangan, bahkan juga wajah.
“Mana lagi yang luka?”
Dira menggeleng. Akhirnya Elang memasukkan peralatannya ke dalam tas dan menatap Dira kembali.
“Tadi gue bilang apa?”
Dira menunduk. “Tunggu di sana.”
“Terus lo kemana?” tanya Elang.
Dira melirik Elang sebentar, kemudian menunduk kembali.
“Nyari burung kertas gue….” Dira menghela nafas.
“Udahlah lupain tu burung kertas. Buat apa sih lo bikin kaya gituan?” tanya Elang menatap tajam ke arah Dira.
“Kan kalok dapet 1000 bisa kabulin permohonan….” ujar Dira pelan.
“Lo percaya?”
Dira mengangguk lalu menggeleng.
“Udah deh. Pokoknya gue gak mau lo bikin kaya gituan lagi.”
Dira terdiam.
“Gak guna juga tau bikin kaya gituan. Kalok lo mau harapan lo terkabul, lo harus usaha.”
Mata Dira sudah mulai berkaca-kaca.
“Tapi gue bikin itu demi lo….”
Sekarang Elang yang terdiam.
“Burung kertas gue udah 999, dan gue pengen ngasih itu semua buat lo….”
Dira menatap Elang. Sekarang air mata Dira sudah mengalir.
“Kok buat gue?” tanya Elang lembut sambil mengusap air mata Dira dengan ibu jarinya.
“Gue pengen lo liat gue sebagai orang yang bekerja keras. Gue gak mau lo liat gue sebagai bocah….” ujar Dira sambil menunduk.
Elang tertawa kecil, membuat Dira makin cemberut. Kemudian yang Dira lihat adalah Elang mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Dan menyerahkannya kepada Dira.
“Buka deh.”
Dira menatap Elang dengan bingung, tapi tetap Dira buka juga kotak tersebut.
“Ini….?” mata Dira melebar tak percaya.
Ini bangau kertas buatan Dira yang pertama. Ada nama dan tanda tangan Dira. Dira menatap Elang tak percaya.
“Gimana bisa….?”
Elang mengedikkan bahunya dan mengacak rambut Dira lembut.
“Udah pas 1000 kan? Jadi permohonan lo apa?” tanya Elang.
Dira melirik Elang sebentar, kemudian menunduk. Wajahnya memanas.
“Kayanya gue tau, ”ujar Elang. Dira mendongak menatap Elang. Elang tersenyum manis ke arah Dira.
“Lo mau jadi pacar gue?” tanya Elang.
Dira terdiam. Elang kembali mengacak rambut Dira. “Itukan yang pengen lo bilang?” dan Elang pun terbahak.
Akhirnya Dira berdiri dan hendak pergi. Tapi tangannya dicekal oleh Elang. Elang memeluk Dira dari samping dan berbisik.
“Jadi pacar gue ya? Please!”
Tanpa menatapnya, Dira bertanya.
“Kenapa?”
“Karna gue suka sama lo. Gue pengen ngelindungin lo. Gue pengen jadi orang yang lo sebut saat lo terjatuh.”
Elang terkekeh pelan dan memutar Dira agar menatapnya.
“Gimana?” tanyanya.
Tanpa bisa dicegah, Dira memeluk Elang dengan erat dan mengangguk.*
* Bernika Jona – XI MIPA 1 / SMADA 36