
karya Denissa S. L.
KRING kring kring! Suara nyarig sudah terdengar di jalanan sekitar Komplek Kalimayu. Memang hebat, bukan hanya untuk berjualan saja tetapi suara belnya bisa membuat orang agar segera bangun. Udara pagi sangat baik bukan? Jika mereka masih tidur di Pagi yang sangat sejuk ini, entah betapa menyesalnya mereka saat bangun nanti.
Pagi-pagi buta aku dan ibuku menyusuri Kompleks Kalimayu untuk berjualan nasi uduk dan nasi kucing yang sangat disukai warga sebagai menu sarapan mereka. Ibuku memang pandai memasak. Bahkan koki terbaik dunia pun tidak bisa menandingi masakan ibuku.
Bersama si Kubat, sepeda ontel tua pemberian Paman Heri 5 tahun silam masih menjadi kekuatan bagi keluarga kami. Kami menamainya kubat karena sepeda itu seperti kuda hebat, kuat, dan cepat. Kami hanya mempunyai si Kubat untuk transportasi setiap hari, untuk berjualan, ke sekolah, dan kegiatan lainnya.
Aku hanya mempunyai Ibuku saat ini, Ayahku entah pergi ke mana, beliau pergi saat aku masih kecil. Setiap hari kami memutar otak agar mendapatkan uang. Ibuku membuat nasi uduk dan nasi kucing saat dini hari, aku membantunya melakukan hal yang mudah yang aku bisa, lalu kami menjualnya setelah aku selesai bersiap untuk ke sekolah nantinya. Setiap hari memang seperti ini, kami berjualan lalu Ibu mengantar aku ke sekolah.
Aku seorang siswi kelas 8, namaku Sarah. Aku bukanlah murid yang pintar di kelasku, aku tidak punya ponsel, tidak diantar dengan mobil, bahkan aku juga tidak diberi bekal yang mewah seperti teman-temanku. Aku hanya mempunyai bekal nasi uduk atau nasi kucing setiap hari. Mungkin karena itu tidak ada yang mau mendekatiku untuk dijadikan temannya. Karena aku pikir tidak ada untungnya berteman denganku. Dicaci, dihina, disiram jus buah itu sudah biasa bagiku.
Aku selalu sendiri, membaca buku di perpustakaan, atau hanya sekedar duduk di taman sekolah. Saat pulang sekolah banyak mobil-mobil yang sudah menunggu. Terlihat Ibuku ada di balik salah satu mobil dengan si kubat, sepeda onthel kami. Tidak hanya di sekolah, di jalan pun aku dan ibuku sering diledek oleh teman-teman ku.
Hingga suatu hari, tetangga ku sedang menyiapkan pernikahan. Semua orang sibuk termasuk ibuku. Aku hanya di rumah dan sesekali berada di teras. Bosan, sangat bosan di rumah sendiri, aku langsung bergegas ke tempat pernikahan itu. Aku tertarik untuk melihat pengantin wanita yang sedang dirias.
Mbak Denis, nama pengantin wanita itu. Mbak Denis seseorang yang lembut, dan baik. Aku duduk dengan berpangku tangan memandangi Mbak Denis yang sedang dirias disebelahku. Mengagumkan, Mbak Denis yang mempunyai banyak bekas jerawat dan bekas jahitan di pipinya bisa tertutup sempurna dengan riasan di wajahnya.
Aku terus memandangi perias itu saat merias Mbak Denis. Takjub memang, apa jadinya jika pengantin itu berbusana cantik tetapi tidak dengan riasan, pasti tidak akan terlihat Anggun. Riasan juga bisa membuat orang menjadi sangat cantik, dalam pikiranku aku ingin bisa membuat orang terlihat cantik seperti itu. Aku mulai tertarik dengan cara merias seseorang. Setiap ada pernikahan di dekat rumahku ataupun acara-acara penting di sekolah, aku selalu memperhatikan cara merias wajah mereka.
Uang saku dari ibuku memang tidak seberapa, tapi setelah saat itu aku kumpulkan uang saku itu dan sekarang aku bisa membeli peralatan rias yang harganya paling murah. Setiap hari aku belajar merias wajahku sendiri. Sulit, tidak semudah saat aku melihat perias-perias itu. Hingga berkali-kali aku mencoba, aku tetap belum bisa merias wajah dengan benar.
Aku terus belajar, jika ada pernikahan aku selalu duduk di samping perias untuk mengambilkan alat-alat riasnya, aku juga ikut membantu merias anak-anak SD saat ada pentas seni. Meski aku masih anak SMP, aku tidak bisa membiarkan Ibuku pergi bekerja sepanjang hari untuk biaya sekolahku. Aku mencoba menjadi pegawai perias yang biasa aku bantu. Aku ingin belajar merias bersama perias itu.
Saat ini, aku berdiri di sebuah panggung yang sangat besar dengan banyak penonton yang bertepuk tangan begitu meriah. Tak terasa masa masa kecilku yang sangat sulit dan menyenangkan itu berlalu begitu cepat, kini aku yang berumur 27 tahun bekerja di sebuah kantor yang memroduksi make–up dan alat kecantikan lainnya.
Selain itu, aku juga menjadi make–up artis. Diva-diva Indonesia juga artis-artis kenamaan Indonesia lainnya sering meminta bantuanku, tak jarang aku juga diminta merias artis-artis luar negeri. Namun itu semua tidak mudah didapatkan, aku bahkan ditolak berkali-kali saat melamar pekerjaan sebagai makeup artis, hingga saat ini aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat aku inginkan sejak SMP itu. Bahkan dengan senang hati aku dimintai bantuan untuk merias temanku SMP yang sering meledek dan sering usil saat di sekolah dulu saat dia menikah. Aku juga sering memberikan tips-tips merias wajah di YouTube atau diundang langsung untuk memberikan tips seputar kecantikan ataupun menceritakan kisah hidup yang selama ini aku lalui. Memang benar kata orang-orang bahwa roda kehidupan itu berputar.
Tapi sesungguhnya kisah hidupku ini tidak pantas untuk diceritakan pada siapapun, karena masih banyak orang yang mempunyai kisah hidup yang lebih menginspirasi daripada aku. Bagaimanapun juga, aku sangat senang jika kisah hidupku ini menginspirasi mereka dan orang-orang di sekitarku juga pasti sangat bangga aku bisa menjadi inspirasi bagi mereka.*
* Denissa S. L. – XI MIPA-6 / SMADA 36