Ruang Hitam

Black Paintings Yan Pei Ming

karya Sukma Kusuma Ningrum

RUANG itu terlihat sepi. Mungkin karena waktu sudah menunjukkan  pukul 5 sore. Hening, tiada suara yang meramaikan. Dentuman jam yang saling beradu, Beberapa alat musik dan kursi tak terpakai membuat suasana menjadi mencekam.

Aku Sukma, siswi kelas XI MIPA SMA Negeri Garuda. Kelasku berada di sebelah ruang kesenian tak bertuan itu. Sore itu aku mengerjakan tugas kelompok Sejarah yang dikejar deadline  esok hari.  Mau tak mau mata sayu ku terpaku pada laptop hitam yang mulai kehabisan baterai.  Ditemani  susu kedelai yang kubeli dari kantin 6 dan lagu Rockabye karya Anne Marie dengan suara serak khasnya. Sayangnya, Syela teman satu meja sekaligus teman satu kelompokku tidak bisa menemani sampai selesai karena harus berurusan dengan perutnya seusai makan Bon Cabe  tadi siang.

Setelah semua selesai, aku bersiap untuk pulang dan memastikan tak ada barang yang ketinggalan. Kujinjing tas abu-abu bermotif polkadot dan bersamaan teleponku berdering dengan layar bertuliskan A Babe  memanggil.

“Halo, Pak..?“ tanyaku.

Nduk, aku wis teko, ndang metu!“ jawab Bapak.

Nggih, Pak. OTW!“ kataku sambil berjalan ke luar kelas.

Langkah kaki ku penuh waspada. Padahal notabene-nya aku bukan cewek penakut. Tapi entah bagaimana saat itu pikiranku melayang berusaha memikirkan hal-hal menyenangkan . Namun nyatanya gagal. Jantungku berdetak cepat hingga menimbulkan harmoni tak karuan. Aku tatap jam tangan pemberian kakakku yang melingkar manis di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 5 lebih 25 menit. Kali ini aku bisa bernafas lega. Tenang, masih 10 menit lagi memasuki adzan maghrib.

Konon katanya maghrib adalah waktu keluarnya dedemit  alias  setan  karena portal antara alam gaib dan alam dunia terbuka lebar. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba kakiku terhenti seketika. Tidak-tidak, bukankah ini belum maghrib?

Aku tajam kan tatapan mataku berharap ini hanya halusinasi karena ketakutanku yang mendominasi dan mempengaruhi otak. Okey, tarik napas dan tetap tenang, Sukma!

Aku meneruskan langkahku dengan sangat pelan dan penuh waspada. Bibirku tidak henti berucap basmallah.

Tapp srek.. ning klung..tapp srek..ning klung..

Suara langkah kaki dan gending tari Jawa itu jelas terdengar, menggema di dalam kelas kosong bekas ruang kesenian itu. Jelas itu bukan suara langkah kaki maupun musik di telepon genggamku karena diriku kini hanya terpaku di tempat. Tak bisa berlari maupun berteriak. Sampai wanita cantik berwajah masam itu menatapku. Seketika leherku bergidik, seluruh tubuhku tiba-tiba dingin. Aku pejamkan mataku dan mulai menarik nafas dalam-dalam .

“Kau berada di tempat yang salah!“  Sebuah bisikan. Sangat pelan. Tepat di telingaku. Aku beranikan diri untuk menengok ke belakang. Lalu …

Brakkkk…

Tubuhku terhempas ke udara dan menubruk tembok. Tanganku rasanya ingin patah karena menopang tubuhku yang kurus ini. Tapi, sosok itu mendekat padaku, lalu berjongkok di depanku yang meringis kesakitan. Tatapan matanya yang tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya menatapku penuh amarah .

“Selamat bergabung, Dik “ ucapnya sambil menyeringai. Setelah itu ia berdiri dan mundur lalu terbang ke arahku. Setelah itu, Slapp… tak ada yang bisa ku lihat selain hitam.

Uwaaaaaa….

Aku terbangun dan semua hal menakutkan itu ternyata hanya mimpi. Alhamdulillah..

Allahu akbar Allahu akbar, Allahu akbar Allahu akbar, Asyhadu alla illahaillaallah…

Pukul 04.30 Memasuki adzan shubuh, aku mulai hari ini dengan mengambil air wudhu lalu melaksanakan salat sebagaimana umat muslim. Aku berdoa agar selalu diberi kesehatan, keselamatan dan kenikmatan serta selalu dijauhkan dari marabahaya.

Sebelum berangkat sekolah tidak seperti biasanya aku mengecek handphone.

Setelah kuusap screenlock  muncul tulisan. Sebuah ultimatum .

Yang berani belum tentu dapat kembali.
Jangan berada di sekolah melebihi jam lima sore!

* Sukma Kusuma Ningrum – XI MIPA 1 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.