karya Difa’ Dhiyaul A.
MENTARI mulai menembus celah jendela. Jam menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kiki Putri Dinanti, gadis 17 tahun itu mulai terbangun dari mimpinya. Kiki mulai beranjak dari keranjangnya. Kemudian tangannya meraih selimut, bantal, dan guling yang digunakannya semalam lalu merapikannya. Jam berjalan dengan cepat kini pukul 07.45 WIB. Pukul 10.00 WIB, ia harus segera pergi ke sekolahnya untuk memenuhi pesyaratan pendaftaran kuliahnya.
Baru beberapa bulan lalu, Kiki mengikuti prosesi kelulusan di sekolahnya. Kiki ialah gadis yang manis dan pandai. Ia memiliki keunggulan baik secara akademis maupun non-akademis. Di bidang non-akademis, ia memiliki bakat di bidang musik yaitu musik karawitan. Ia sering mengikuti berbagai rangkaian kegiatan tentang karawitan di sekolahnya. Walaupun sebenarnya Kiki telah dilarang oleh kedua orang tua, ia tetap bertekad menggeluti bakatnya, meski harus sembunyi-sembunyi. Orang tua Kiki menginginkan agar Kiki fokus di bidang akademis terutama di mapel matematika. Orang tua Kiki sangat menginginkan agar kelak Kiki bisa menjadi dosen matematika. Namun bukan itulah yang menjadi cita-cita Kiki. ia ingin menjadi seniman di dunia musik karawitan.
Selesai mandi dan berias diri, Kiki beranjak ke meja makan. Di meja makan terlihat sudah ada kedua orang tua kiki yang sedang bersenda gurau.
“Hallo, Ayah, Ibu! Selamat pagi!” sapa Kiki.
“Pagi, Nak! Wah..wah.., jadi ke sekolah, Nak?” tanya Ayah.
“Jadi, Yah. ini temen-temen juga udah pada WA. Saya udah ditunggu di sekolah gitu..” jawab Kiki
“Ya, sudah. Segera sarapan, Nak. Ini ada sayur bayam dan tempe goreng Mbak Jenong kesukaanmu,” sambut Ibu.
“Iya, Bu.”
“Oh iya, Ki. Kamu jadinya mau ambil kuliah dimana dan jurusan apa?”
“Aku ingin di ISI Yogyakarta, Yah. Ambil jurusan musik karawitan,“ jawab Kiki santai.
Ayah dan Ibu terkejut mendengar jawaban anaknya.
“Kiki, kamu anak, ya!! Dibilang jangan terlalu mendalami musik karawitan atau apalah itu.. Mau jadi apa kamu, Nak! Bagaimanapun ayah tidak setuju!” seketika ayah Kiki pergi dari meja makan dan disusul Ibu Kiki dengan wajah yang murung.
Kiki sangat sedih mendengar kata-kata Ayahnya. Selesai sarapan, ia pergi bergegas menuju sekolahnya. Walaupun orang tua Kiki tidak menyetujui Kiki bersekolah di bidang kesenian, Kiki tetap bertekad untuk tetap melanjutkan sekolahnya di bidang kesenian. Hingga suatu hari Ayah Kiki mengetahui bahwa Kiki selama ini diam-diam mendaftarkan dirinya di ISI Yogyakarta.
“Kiki, apa-apaan ini?!” tanya Ayah sambil menunjukkan bukti pendaftaraan yang ia dapatkan dari meja belajar Kiki beberapa menit yang lalu.
“Maaf, Ayah. Kiki benar-benar tidak bisa jika harus melanjutkan kuliah di jalur akademis apalagi jurusan matematika, Yah. Kiki punya bakat dan peluang besar di bidang musik karawitan.”
“Kamu ini! Ingat ya Ki, kamu itu masih anak awam dalam musik karawitan. Jadi gak usah gaya-gaya mau lanjut di jalur musik karawitan. Jangan sok tau kamu!”
“Ayah memang tidak tahu. Saat di SMA aku sudah sering mengikuti lomba, Yah. Tanpa Ayah tahu, Kiki juga pernah mendapat juara, Yah. Setiap kiki ingin memberi tahu Ayah, Ayah selalu mengelak..”
“Pokoknya, Ayah tidak mau tau! Bagaimanapun juga Ayah minta kamu harus batalkan pendaftaraanmu ini..!”
***
MULAI kejadian itu, Kiki sangat jarang berkomunikasi dengan orang tua nya. Namun kejadian itu tidak lah mematahkan semangat Kiki. Kiki tetap melanjutkan pendaftarannya bahkan ia telah mengikuti tes seleksi secara diam-diam. Kiki ingin buktikan jika ia memang memiliki bakat di bidang musik karawitan.
Saat itu kiki berada di dalam kamarnya, dan pengumuman mahasiswa terpilih pun tiba, dan tanpa diduga Kiki lolos dan dinyatakan telah diterima menjadi mahasiswa ISI Yogyakarta jurusan musik karawitan. Kiki sangat senang, ia segera bergegas menuju ruang tamu dimana orangtua kiki berada, untuk memberitahukan akan Pengumuman yang kiki dapatkan. Dengan sangat senang kiki menyampaikan
“Ayah, Ibu, Alhamdulillah kiki dinyatakan lulus seleksi dan diterima di ISI Yogyakarta,” kali ini Ayah dan Ibu Kiki sangat terkejut, hingga hati Ayah Kiki bergejolak.
“Kiki…! Dasar anak tidak tau diri. Jadi selama ini kamu diam-diam tetap melanjutkan pendaftraan tidak berguna itu?! Bahkan tanpa izin Ayah dan Ibu, kamu pergi mengikuti seleksi tes itu? Seberani itu kamu, Nak?!” marah Ayah.
“Kiki, Ibu tau kamu ingin sekali menggeluti dibidang musik. Tapi apakah kamu benar-benar tidak ingin mewujudkan keinginan Ayah dan Ibu untuk menjadi dosen akademis, Nak? Secara tidak langsung kamu sudah mengecewakan hati Ayah dan Ibumu, Nak!” tambah Ibu.
“Sudah, Ayah sudah sangat kecewa denganmu, Nak. Oke, jika itu mau kamu. Tapi ingat! Ayah dan Ibu tidak akan membiayai kuliahmu itu dan ayah minta setelah ini kemas barang-barang kamu dan pergi dari rumah ini!” lanjut Ayah.
Hati Kiki tersayat. Tapi bagaimanapun mereka tetaplah orang tua Kiki. Kiki terpaksa mengemas barang-barangnya dan pergi dari rumahnya. Jiwa kiki terpukul. Ia hampir saja terpuruk sebelum ia mengingat semboyan yang ia dapat dari sebuah novel, yaitu man jadda wa jadda yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
Saat itu juga semangat Kiki mulai pulih dan setelah itu yang dipikirkan Kiki ialah bagaimana ia bisa mendapatkan uang dan cukup untuk menutupi kebutuhan hidup dan kuliahnya. Untung Kiki mendapatkan bidik misi dari pemerintahan. Setidaknya beban Kiki sedikit berkurang. Kiki tidak pilih-memilih dalam bekerja. Mulai dari penjual koran, tukang bersih taman kota, jasa angkut barang Kiki lakukan. Hingga akhirnya Kiki mendapatkan pekerjaan yang cukup ringan yaitu sebagai penjaga toko butik di dekat kosnya. Gajinya pun juga lumayan bisa untuk menutup sedikit demi sedikit kebutuhannya.*
* Difa’ Dhiyaul A. – XI MIPA-8 / SMADA 38

Endingnya masih ngganjal ini. Cerpen yang belum kelar.
SukaSuka