
oleh A’yunina Azzahro I.
HARI terakhir sebelum aku memulai kehidupan baru di tempat baru. Aku memutuskan meninggalkan negara ini untuk diriku yang lebih baik. Semoga. Berpamitan dengan keluarga sudah. Dengan beberapa teman juga sudah ku lakukan. Tapi, tidak ku lakukan dengan dia.
September, 2013
Hari pertamaku masuk di salah satu perguruan tinggi negeri di salah satu kota Bandung. Aku belum punya kenalan satupun, walaupun sudah dibentuk grup chat fakultas di Line. Tapi aku tetaplah aku yang seringkali punya duniaku sendiri tak berpikir lainnya, jelek ya?! Kawan dekatku berpencar ke luar kota menggapai cita-cita mereka yang tinggi sudah jadi cerita mereka. Perasaan gugup tentu saja tumbuh. Bagaimana tidak. Di sini orang asing semua di mataku, dari berbagai kota di Indonesia seperti berkumpul disini.
Seperti layaknya pakaian mahasiswa baru menggunakan atasan putih bawahan hitam dan menguncir kepang rambutku. Aku sibuk memandangi keadaan, tanpa sadar sudah ada yang duduk di sampingku, aku melirik sambil menarik sudut bibir. Diam, hanya mendengarkan percakapan yang saling saut. Tiba-tiba dia menjulurkan tangan sambil berkata sesuatu tapi aku tidak yakin dia mengatakan apa.
“Maaf, kamu tadi bilang apa?” tanyaku.
“Gema. Nama gue Gema,” dia memperkenalkan diri.
Lalu aku pun juga mengenalkan diriku, kalau tidak bisa dikira sombong aku.
“Aku Rigan, panggil aja Riri,”
“Kenapa dipanggil Riri?! Padahal Rigan kan kedengerannya keren ” pujinya. Gampang banget dia asik sama orang lain batinku.
“Eh, iya ya?! Ya udah, Rigan aja. Sebenarnya dipanggil Riri biar kelihatan lebih cewek aja” jawabku sambil meringis.
Istirahat ternyata telah usai. Tanpa kami sadari karena obrolan kami tadi menjalar sampai mana-mana. Asik juga sama Gema.
Hari ini kuliah sesungguhnya dimulai, ternyata aku dan Gema satu kelas. Dia menyapaku duluan aku otomatis menyunggingkan bibirku dan memilih duduk di sebelahnya. Percakapan kami terpotong karena datangnya dosen dengan kepala botak di atas.
Oktober, 2017
Tahun terakhir menjadi mahasiswa di kampus ini. Tentu saja tidak seperti tahun pertamaku, tahun ini begitu sepi. Gema tiba-tiba menghilang, beserta keluarganya 1 tahun lalu. Entah, tak ada satupun yang tahu. Entahlah. Karena merasa telah dibohongi, aku mencoba membuang kenangan yang aku lalui besama Gema. Tanggal 17 Oktober, besok hari kelulusan di kampusku. Tentu saja acara penting ini hanya akan didatangi kedua orang tuaku tanpa tambahan orang spesial. Sepertinya aku pun tak mengharapkan kehadiran seseorang.
Hari kelulusanku tiba. Semua berjalan biasa saja hanya dirayakan dengan makan bersama di luar dengan kedua orang tua. Setelah itu pulang. Masuk kamar tidur untuk membersihkan make up tipisku dan berganti pakaian kaos santai, bermain handphone sebentar, tanpa sadar aku terbangun pukul 4. Ya, aku tertidur. Tahun ini sambil menunggu ijazah keluar, aku memutuskan untuk membantu ibuku mengurus usaha catering-nya.
2018
Sudahlah cukup aku menceritakan cerita masa laluku. Hari ini aku berangkat ke Singapura. Ya, aku akan tinggal di Singapura karena aku melamar kerja disana dan aku lolos. Pikirku dengan aku meninggalkan daerah yang kaya akan kenangan masa lalu akan mengubah hari hariku. Bertemu orang-orang baru tanpa merasa canggung. Di Singapura aku tinggal di apartment. Aku menyewa selama satu tahun dengan uang yang aku tabung saat kuliah dulu. Aku mulai bekerja minggu depan. Seminggu ini aku disibukkan dengan bolak-balik mengunjungi toko perebotan rumah dan mendekor apartment ku. Seminggu di sini yang aku harapkan tidak berjalan mulus, tiba-tiba aku lebih sering berhalusinasi melihat wajah Gema di sekitar apartment ku. Tapi tentu saja aku yakin itu hanya halusinasi.
Aku sudah mulai bekerja. Sejauh aku bekerja aku, aku biasa saja. Tapi tiba-tiba saat aku sedang melakukan perjalanan pulang ke apartement, aku tercengang melihat seorang laki-laki bertubuh mirip Gema sedang berdiri sambil melihat sekitar. Benar saja saat dia menengok, dia Gema yang selama ini menghilang. Dia menyapa seolah tak pernah terjadi apa-apa setelah apa yang telah dia lakukan. Aku menangis entahlah kenapa tiba-tiba sudah mengalir air mata ini. Tanpa rasa bersalah Gema memelukku. Betapa kurang ajarnya dia meninggalkan lalu kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa. Aku meninggalkan Gema dengan berlari memasuki apartement dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah memikirkan Gema.*
* A’yunina Azzahro I. – XI MIPA 2 / SMADA 38