Aku, Ibu, dan Sepeda

karya Arawinda Dahayu

SORE ini, sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat. Mendung pekat pertanda hujan akan turun. Hawa dingin yang menembus pori-pori kulitku membuatku menggigil. Benar-benar hari yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Di saat seperti ini aku lebih memilih berdiam diri di kamar sambil mendengarkan music dengan spreaker. Waktu cepat berlalu, aku tak sadar jika sekarang sudah petang.

“Rina…” panggil ibu di ambang pntu kamarku.

“Iya, ada apa bu?” tanyaku dengan hanya kepala yang keluar dari pintu.

“Ini sudah petang, Ibu tunggu di bawah untuk makan malam,” kata Ibu.

“Iya, aku mandi dulu bu..” kataku bergegas mengambil handuk dan mandi.

Setelah menyelesaikan rutinitasku, aku segera keluar kamar untuk menyantap makan malam yang sudah disiapkan oleh Ibu.

“Masak apa, Bu?” tanyaku pada Ibu.

“Biasa makanan kesukaanmu. Oseng kangkung dan kering tempe,” jawab Ibu.

“Wahhh… enak-enak!” kataku sambil mengambil piring, nasi, dan lauk pauk.

Hari sudah semakin larut, aku menuju meja belajar. Melihat-lihat adakah tugas yang harus aku kerjakan. Oh, masih banyak sekali. Tapi rasanya itu malas, ngantuk pengen tidur. Akhirnya setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk tidur. Besok aku akan berangkat pagi dan menyelesaikan semua tugas ini.

Esok paginya aku bangun kesiangan. Yang biasanya 20 menit perjalananku dari rumah ke sekolah sekarang kutempuh kurang dari 20 menit. Aku sudah sampai depan pintu kelas dengan napas masih terengah-enggah.

Ketika memasuki ruang kelas, banyak teman-temanku yang sibuk dengan buku dan ponsel masing-masing untuk menyalin tugas. Langsung saja aku mengerjakan tugasku yang tadi malam sempat tertunda.

Baru menyelesaikan 5 nomor, bel tanda pelajaran pertama akan dimulai berbunyi. Karena tugasku belum selesai, aku memberanikan diri untuk mengerjakan tugas saat pelajaran Kimia berlangsung. Saat Bu Guru sedang menerangkan tentang hidro karbon, aku masih asyik dengan beberapa tugas mata pelajaran lain yang belum aku selesaikan.

“Rina, kamu sedang apa, Nak?” kata Bu Guru kepadaku.

“Mencatat yang dijelaskan tadi, Bu,” ngeles ku pada Bu Guru padahal aku masih mengerjakan beberapa soal Matematika.

“Coba Ibu lihat!” perintah Bu Guru sambil berjalan ke arah bangkuku.

“Eh Bu, ini belum selesai nanti saja kalau sudah selesai.”

“Loh, Rin. Ini kok buku matik yang dibuka?! kamu dari tadi tidak memperhatikan ya?! Sekarang maju kerjakan soal di papan tulis!”perintah Bu Guru. Aku langsung saja ke depan untuk mengerjakan soal yang diperintahkan tadi.

Sudah 5 menit berlalu dan aku sama sekali belum menulis apapun di papan tulis.

“Kok masih belum dikerjakan?! Bukannya tadi sudah merasa bisa sampai tidak mendengarkan penjelasan Ibu” kata Bu Guru.

“Maaf, Bu..” kataku menundukan kepala sangking malunya.

“Sekarang Ibu maafkan, tapi jangan pernah mengulanginya lagi di mata pelajaran Ibu ataupun di mata pelajaran lainnya!” 

Akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Aku segera keluar dari kelas untuk menuju kantin. Antriannya cukup panjang, bukan cukup panjang tapi memang panjang. Aku memilih duduk di meja kantin sampai lumayan sepi. Setelah lumayan lama menunggu akhirnya aku bisa masuk ke dalam kantin dengan suasana lega karena sudah banyak anak yang berkurang. Aku memilih beberapa makanan ringan lalu ke halaman sekolah untuk menghabiskan makananku. Sementara, teman-temanku sudah di sana semua.

“Lama banget di kantin, ngapain sih?” tanyanya belagak tidak tau kalau kantin tadi ramenya minta ampun.

“Jangan sok ngga tau yaa. Kamu tau sendiri tadi adek kelas pada jajan di kantin kita biasanya,” jawabku cuek duduk di sebelahnya.

“Kamu kenapa sih, sewot amat” katanya.

“Ya, iyalah aku sewot, tadi dikelas aku disuruh ke depan ngerjain soal kimia bab baru, sedangkan aku masih ngerjain tugas matik. Lah abis itu di kantin adek kelas banyak banget pada desek-desekan terus nyerobot tempat,” curhatku.

“PMS kali lo” jawabnya enteng

“Emang lagi PMS, semua orang ngajakin berantem termasuk kamu,” kataku lebih sewot lagi

“Nggak kok, aku ngga ngajakin berantem, Rin..” jawabnnya dengan nada yang dibuat-buat.

Bel tanda masuk pun berbunyi. Aku berpamitan kepada temanku karena kami memang beda kelas. Aku mengikuti pelajaran seperti biasanya. Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Setelah berdoa, aku langsung menelpon ibuku untuk menjemputku.

“Halo!” sapa Ibu.

“Bu, bisa jemput Rina sekarang?” tanyaku.

“Duh, Nak. Ini dirumah ngga ada motor. Ya udah ya, tunggu di situ dulu!” jawab Ibu. Kemudian telpon langsung mati.

Aku langsung keluar gerbang sekolah untuk menunggu. Lumayan lama juga menunggu jemputan Ibu. Ketika akan menelpon ibu lagi.

“Rina!” tiba-tiba ada yang memanggilku. Ternyata, ibu menjemputku dengan sepeda.

Aku merasa terharu. Ibu bersusah payah menjemputku dengan sepeda, menempuh jarak yang lumayan jauh hanya demi menjemputku. Jauh dalam anganku akan ku ingat, semangat Ibu selalu memberiku inspirasi untuk rajin belajar.*

* Arawinda Dahayu – XI MIPA 6 / SMADA 36

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.