Mengingat Kembali Kejayaan Rokok Kretek

Judul             : Sang Raja

Penulis          : IksakaBanu

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal            : 379 halaman

Terbit            : 2017

Buku Sang Raja merupakan sebuah novel sejarah yang dibalut fiksi buatan Iksaka Banu. Pada awalnya Iksaka Banu menulis dalam berbagai tema, tetapi akhirnya lebih memilih menulis cerita berlatar sejarah kolonial. Dua buah cerita pendeknya, Mawar di Kanal Macan dan Semua untuk Hindia, berturut-turut terpilih menjadi salah satu dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana tahun 2008 dan 2009. Kumpulan cerita pendek bertema sejarah kolonialnya dibukukan dengan judul Semua untuk Hindia, dan pada tahun 2014 meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori prosa. Sedangkan karya terbarunya adalah sebuah novel yang berjudul Sang Raja yang terbit pada tahun 2017 lalu.

Kisah pada novel ini menggunakan alur sorot balik (flash back) yang diawali dengan cerita prosesi pemakaman Nitisemito melalui sudut pandang tokoh wartawan bernama Bardiman yang tertarik untuk menuliskan riwayat Nitisemito, Si Raja Kretek. Lantas ia mewawancarai kedua mantan pekerja di pabrik rokok milik Nitisemito yaitu Filipus Rechterhand, orang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda dan Wirosoeseno, orang pribumi. Kisah dalam novel ini pun diceritakan dalam dua sudut pandang yang berbeda.

Novel ini bercerita tentang masa lalu pemilik pabrik kretek yang paling terkenal di kota Kudus yaitu Nitemito dengan pabrik rokok Bal Tiga di era kolonial Belanda. Bal Tiga sendiri adalah salah satu pabrik kretek yang sempat berjaya di era 20-30 an, mempekerjakan ribuan buruh dengan manajemen modern hingga akhirnya harus tutup pasca kemerdekaan karena konflik internal penerus pabrik.

Banyak kejadian di dalam pabrik yang diceritakan di dalam novel ini diantaranya alur pembuatan kretek, promosi rokok Bal Tiga yang menghebohkan (membuat selebaran dan dibagikan dari pesawat yang disewa) serta konflik dengan pemerintah Hindia Belanda terkait cukai hingga datangnya penjajah Jepang yang membuat pabrik rokok ini mengalami krisis. Masing-masing diceritakan dengan runtut sehingga kita bisa membayangkan suasana kota Kudus saat itu.

Meskipun diceritakan dengan dua sudut pandang yang berbeda, namun kisah antara Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno selalu menemukan titik temu sehingga tidak membingungkan. Kisah hidup pribadi mereka dituturkan secara bergantian hingga akhir cerita secara tertib oleh dua tokoh pencerita. Novel ini juga memberi pengetahuan baru bahwa penjajahan yang terjadi waktu itu tidak selalu tentang perang senjata tetapi banyak dinamika yang terjadi di kehidupan sehari-hari dan membentuk apa yang kita jalani hari ini.

Sayangnya, tokoh Nitisemito sendiri memilik gambaran yang kurang mendalam dalam novel ini karena hanya dituturkan melalui cerita yang dikisahkan oleh Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno. Nitisemito seakan hanya ditampilkan sebagai latar belakang saja karena ia hanya muncul pada saat-saat tertentu saja. Penggambaran latar tempat yang terlalu mendetail juga membuat pembaca harus berimajinasi tinggi sehingga dapat memahami latar tempat yang coba digambarkan oleh penulis. Banyak kisah-kisah yang tidak terungkap seperti hubungan Nitisemito dengan Serikat Islam dan kasus korupsi uang cukai oleh Pak Karmain, membuat novel ini seakan “tidak selesai”.

Meskipun demikian, novel ini dapat menjadi rekomendasi bagi orang-orang yang ingin belajar sejarah dalam kemasan novel dengan bahasa yang mudah dipahami dan konflik yang menarik. Cocok bagi pembaca yang muak dengan kisah romantisme karena dalam novel ini kisah percintaan kedua tokoh utama tidak digambarkan secara berlebihan dan mendetail.*

* Indriani Puspitaningrum – XI IPS 1 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.