
Judul Buku : Cermin dan Malam Ganjil
Pengarang : Asma Nadia, Izzatul Jannah, Gola Gong, Pipiet Senja, Sakti Wibowo, M. Joenoes Joesoef, Afifah Afra Amatullah, Yus R. Ismail, M. Arman A.Z, Anna R. Nawaning S, Griven H. Putera, Agustrijanto, Ibnu H.S, Kinan Nasanti, Muthi Masfuah, Budi P. Hatees, El-Syifa.
Penyusun : Asma Nadia
Editor : Pipiet Senja
Penerbit : Fatahillah Bina Alfikri Press
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2002
Tebal Buku : vi + 222 halaman
Kumpulan cerpen “ Cermin dan Malam Ganjil “ merupakan antologi cerpen dari tujuhbelas penulis ternama yang tergabung dalam sebuah wadah kepenulisan, Forum Lingkar Pena ( FLP ). Buku ini khusus dibuat dan didedikasikan untuk Yusakh Ananda, seorang sastrawan senior yang pernah disebut H.B Jassin sebagai salah satu barometer sastra Indonesia tahun 1950-an. Bagi sekitar 3500 anggota FLP yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara, beliau adalah sosok penting yang semangatnya senantiasa menjadi motivasi untuk terus berkarya.
Dalam buku kumpulan cerpen “ Cermin dan Malam Ganjil “ terdapat tujuhbelas cerpen yang sangat menarik. Ketujuhbelas cerpen tersebut sangat menyentuh perasaan sekaligus mampu menggugah rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama, sarat makna, serta religius.
Buku ini dibuka dengan cerpen Semesta Keluh karya Asma Nadia yang berkisah tentang sebuah kejadian imaji di Padang Mahsyar, percakapan jiwa-jiwa yang kalut, Tuhan semesta alam yang menjatuhkan palu keadilan, dialog antar pemimpin negara dari Hitler, Mussolini, Bill Clinton bahkan hewan dan tumbuhan juga angkat bicara.
“Lalu berturut – turut keluhan demi keluhan terhadap ciptaan Allah terdengar. Ada yang menyalahkan binatang, pohon, udara, becek, banjir, makanan enak yang bikin gemuk, juga nasi basi, suara jangkrik, burung hantu, udara dingin, panas, lembab, hutan, padang pasir yang gersang, lemak, badan kurus, jerawat, ketombe, hidung pesek, hidung terlalu mancung, kebotakan, dan masih banyak lagi.” (Asma Nadia – Semesta Keluh).
Cerpen selanjutnya adalah Ibu, Ibu, dan Ibu karya Anna R. Nawaning S. Cerpen ini mengisahkan tiga orang perempuan yaitu Hesyakia, Srikandi Larasati, dan Yukabid yang merindukan surga di bawah telapak kakinya. Hesyakia adalah gadis remaja yang hamil diluar nikah kemudian bekerja sebagai seorang penyanyi malam untuk menghidupi bayinya. Srikandi Larasati adalah seorang perempuan baik hati, serba kecukupan, namun tak kunjung dikaruniai anak. Yukabid adalah seorang Ibu dengan tiga anak yang menyerahkan anak bungsunya kepada majikannya guna memperoleh penghidupan yang layak bagi sang bayi.
Surga di bawah telapak kaki Ibu. Kalimat itu terus terngiang di pikiranku. Apakah aku memiliki surga itu? (Anna R.Nawaning S – Ibu, Ibu, Ibu).
Cerpen selanjutnya adalah Jas Putih dan Langit Malam karya Afifah Afra Amatullah. Kisahnya begitu filosofis. Percakapan antara seorang perempuan dan dokter di malam hari yang ingin mewujudkan harapan baru untuk bumi berupa kedamaian, namun yang diperolehnya adalah kekecewaan.
“Hanya untuk menjual obat, ternyata sangat sulit. Mereka tidak percaya dan menyebutku pembohong yang harus disingkirkan…” desah lelaki itu.( Afifah Afra Amatullah – Jas Putih dan Langit Malam )
Berikutnya yaitu cerpen Setangkai Ranting Kering karya Agustrijanto. Cerpen ini mengisahkan tentang sebuah ranting kering yang terabai. Panas matahari dan hembusan angin membuatnya tabah dalam cobaan dan ketergantungan dari induk pohon. Cerpen ini mengajarkan untuk selalu bekerja keras, pantang menyerah, dan selalu berprasangka baik dalam hidup.
“ Berusahalah……Namun jangan pernah menyesal atas setiap upayamu. Biaya, waktu, dan tenaga adalah konsekuensimu. Kau tidak pernah kalah Ranting Kering. Tidak pernah kalah……Selama nyawamu masih menghidupi setiap perkataanmu, selama itu pula kau masih mempunyai banyak kesempatan.” (Agustrijanto – Setangkai Ranting Kering)
Cerpen selanjutnya adalah Percintaan Burung Belibis karya Budi P. Hatees, yang mengisahkan tentang Jaffar, seorang pemburu binatang yang terpesona pada keindahan dan kelembutan burung belibis. Cerpen ini mengingatkan manusia untuk menjaga kelestarian hewan.
“ Jaffar mengangguk sambil melemparkan senapan. Dia tinggalkan rawa itu bersama kedua petugas yang terus bercerita bahwa mereka tertarik menjaga kelestarian hewan itu karena selalu ingin melihat belibis – belibis saat musim kawin.“ (Budi P. Hatees – Percintaan Burung Belibis).
Cerpen Selamat Datang, Cinta karya El Syifa, mengisahkan tentang catatan harian seorang gadis yang tengah menanti cinta sejati yang ia idamkan. Cerpen ini mengajarkan kepada para remaja khususnya untuk tidak mengungkapkan cinta dengan berpacaran namun menyerahkan perasaannya hanya pada Allah SWT. Cinta sejati tidak pernah memandang fisik maupun harta, karena cinta sejati ada atas izin sang Pencipta.
“ Di dalam diri setiap manusia penuh dengan cinta kepada harta, tahta, dan manusia. Namun, cinta kepada Yang Esa di atas itu semua, kebahagiaan pasti akan tiba.” (El Syifa – Selamat Datang, Cinta).
Cerpen Malam Ganjil karya Griven H. Putera, mengisahkan tentang pasangan suami istri yang menghadapi dilema dan ingin menjual HP-nya. Mereka melewati malam dengan aneh. Saat istri terlelap, sang suami tak bisa pejap. Pikirannya rancu, menatap sarang laba-laba yang membangun jaring di sudut dinding. “Apakah hidup yang aku bangun ini seperti laba-laba yang membangun jaring-jaringnya?” Saat insomnia itulah HP-nya bergetar menandakan ada pesan masuk. Pesan singkat “Saatnya sudah tiba, Kawan!”. Malam ganjil ini akan jadi anugerah ataukah kutukan?
Cerpen selanjutnya adalah Kakek karya Gola Gong, mengisahkan Siti Fatima yang mempunyai seorang kakek galak dan sangat protektif. Setiap lelaki yang berkunjung akan kena interogasi macam kriminal pasar. Namun kisah dibuka dengan Muhammad Iqbal yang diajaknya main ke rumah dan ternyata ia lelaki yang berbeda. Pria santun dan pandai sekali memformulasikan gagasan-gagasan, dan betapa penting Islam diterapkan di lingkungan kerja. Hari kunjungan Minggu pukul sepuluh itupun terjadi. Seberbeda apa Iqbal? Ada cerita sempalan yang akan membuat kita menghargai para pahlawan Nasional.
Cerpen Sang Pengutang karya Izzatul Jannah, mengisahkan Bandi seorang tokoh yang berpendidikan tinggi, penceramah agama, suka berbuat baik, dan guru ngaji di Masjid namun memiliki banyak hutang pada tetangganya, hingga akhirnya ia meninggal dalam keadaan masih memiliki banyak tanggungan hutang.
“ Apakah laki – laki seperti Koh Cin yang notabene tukang renten itu bisa menghalangi laki – laki yang suka berbuat baik, suka ke masjid dan mengajarkan Al – Qur’an, seperti mendiang Bandi tertahan di pintu surga ? Wallahualam bissawab!” (Izzatul Jannah – Sang Pengutang).
Selanjutnya cerpen Menunggu Mati karya Ibnu H.S, mengisahkan seorang pemabuk yang dihantui oleh kejadian-kejadian aneh, seolah-olah ia akan mati. Kemudian, ia meminta maaf dan mengundang seluruh tetangganya untuk menemaninya menunggu mati. Diakhir cerita, sewaktu subuh kedapatan lelaki itu telah beku dengan tabung arak yang telah kosong dalam pelukannya.
Cerpen Ngidam karya Kinan Nasanti, mengisahkan sepasang suami istri yan tak kunjung dikaruniai anak. Namun, sang istri tetap yakin dan berharap bahwa mereka pasti dikaruniai seorang anak yang kelak akan menjadi seorang pemimpin. Hingga akhirnya sang istri benar – benar mengandung. Cerpen ini mengajarkan kepada pembaca untuk selalu yakin dan tidak berhenti berharap hingga apa yang diimpikan terwujud.
Cerpen selanjutnya adalah “ Aji Dewi “ karya Muthi Masfu’ah, Cerpen bersetting kota Tenggarong, yang berasal dari kata Tangga Arung yang berarti rumah raja. Akankah Aji Dewi kembali hidup sejahtera ?
“ Cerita dibuka dengan sesak. Seorang pencuri dihajar masa sampai mati. Ternyata ia adalah kakak dari Aji Dewi, seseorang yang sebaya denganku. Lebih mengenaskan lagi, mayat itu dikubur sembarangan tanpa prosesi semestinya, tanpa pemberitahuan anggota keluarga. Keluarga Aji Dewi awalnya adalah keluarga kaya, namun sejak ayahnya meninggal segalanya berubah.”
Cerpen selanjutnya adalah Mau Kaya……Gampang! karya M. Joenoes Joesoef. Cerpen ini mengisahkan pertemuan dua sahabat lama selepas dari sebuah toko buku. Mereka melepas rindu, mengenang masa lalu. Ir. Johan Alamsyah Daulay, temannya itu kini kaya raya. Mengendarai BMW terbaru, mengajaknya main ke rumahnya yang luas sekali. “Johan, rumah kau ini bukan lagi sekedar rumah! Ini sudah istana.” Si Aku tentu saja takjub, membandingkan rumahnya yang bertipe BTN 36. Dan tahulah dia kenapa sahabatnya itu bisa jadi miliyuner atau mungkin biliyuner itu. Kalian pasti tahu dari mana, Yup! Uang haram.
“ Hati nurani saya meronta – ronta, merintih, menolak, dan tak sanggup menerima apa yang dilakukan sahabat saya itu.” (M. Joenoes Joesoef – Mau Kaya….Gampang!).
Cerpen Harta Karun Kang Sarpin karya M. Arman AZ, mengisahkan Kang Sarpin yang dianggap gila oleh para tetangganya. Dia menggali tanah di rumahnya untuk mencari harta karun. Dahulu keluarganya adalah keluarga kaya, dan dia percaya ada harta karun di rumahnya. Leluhurnya pasti menyembunyikan harta, dan dengan penuh keyakinan ia menggali. Dia terus menggali, tak peduli omongan orang, mengabaikan saran dari Kyai Zein, istrinya minggat tak peduli. Benarkah ada harta karun kang Sarpin?
Selanjutnya cerpen Indung karya Pipiet Senja, mengisahkan tentang kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya.
“ Begitulah Indung. Di mataku dialah ibu sejati, ibu terhebat di dunia. “(Pipiet Senja – Indung).
Cerpen selanjutnya adalah Dan Bara Kagum Menjadi Api karya Sakti Wibowo, merupakan cerita paling panjang dan rumit karena banyak istilah ‘asing’. Cerpen ini mengulas sebuah kisah awal perjuangan pangeran Diponegoro melawan Belanda.
Kumpulan cerpen ini diakhiri dengan judul Cermin karya Yus R Ismail yang mengisahkan pergulatan batin seorang anak manusia dalam mengarungi hidupnya.
Tujuh belas cerita disuguhkan dengan gaya yang berbeda. Setiap cerita tersebut mengandung pesan, nilai religius, serta memiliki banyak pelajaran yang bisa dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa cerita dari kumpulan cerpen Cermin dan Malam Ganjil ini bisa memberikan alternatif yang menyegarkan dan memuat cerita yang unik bahkan konyol, sehingga bisa menghibur pembaca. Selain itu, kumpulan cerpen ini jika dibaca berulang-ulang tidak akan membuat bosan, karena setiap karya memiliki cerita dan konflik yang berbeda.
Pembaca mungkin dapat menyelesaikan membaca dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merenungkan ceritanya. Cerita yang ditampilkan termasuk panjang dan bahasanya sedikit sulit dimengerti. Bagi orang yang tidak menyukai sastra, buku ini sedikit membosankan. Apalagi covernya terlihat kurang menarik dan belum ada ilustrasi gambar untuk mendukung setiap cerita.
Kumpulan cerpen Cermin dan Malam Ganjil sangat menyentuh perasaan. Cerpen-cerpen yang disajikan mampu menggugah rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama. Kumpulan cerpen ini memiliki nilai moral untuk saling menghargai dan memaafkan yang digambarkan dalam cerpen Semesta Keluh, kepedulian terhadap tetangga dengan cara tolong menolong yang digambarkan dalam cerpen Ibu, Ibu, Ibu, Aji Dewi. Rasa Kasih sayang serta kepedulian pada keluarga, teman, dan lingkungan yang digambarkan pada cerpen Percintaan Burung Belibis, Sang Pengutang, dan Jas Putih dan Langit Malam. Selain itu, beberapa cerpen juga mengandung nilai religius yang terdapat dalam cerpen Semesta Keluh, “ Selamat Datang, Cinta, Malam Ganjil, Kakek, dan Menunggu Mati. Kumpulan cerpen ini juga menampilkan karakter tokoh cerpen yang dapat dijadikan sebagai motivasi atau teladan dalam kehidupan.*
* Kiky Andriani – XI IPA-3 / SMADA 36