Perjuangan Gadis Kecil Melawan Kanker

Judul Novel        : Surat Kecil Untuk Tuhan

Pengarang           : Agnes Davonar

Penerbit              : Inandra Published

Tahun Terbit   : 2008

Tebal Novel        : vii + 232

Surat Kecil untuk Tuhan merupakan novel karya Agnes Davonar. Agnes Davonar sangat fenomenal di dunia sastra Indonesia. Ia memulai karirnya menjadi penulis amatir di sebuah blog. Kemudian dengan cepat berkembang menjadi penulis yang mau belajar hingga melahirkan 5 novel dan 42 cerita pendek yang begitu melekat bagi semua pembaca situs pribadinya. Bukunya yang berjudul Surat Kecil untuk Tuhan adalah sebuah kisah nyata yang penuh inspiratif, diangkat dari perjalanan gadis cilik bernama Gitta Sesa Wanda Cantika. Kisah ini mengajarkan tentang kehidupan di ujung pengharapan dimana Gitta divonis kanker ganas yang terus berjuang untuk hidup. Walaupun akhirnya ia harus kalah dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya, ia menuliskan surat terakhirnya pada Tuhan yang di beri judul Surat Kecil untuk Tuhan.

Novel ini mengisahkan tentang perjuangan gadis remaja dalam melawan kanker ganas Rabdomiosarkoma (kanker jaringan lunak) yang menggerogoti tubuhnya. Dia adalah Gita Sessa Wanda Cantika, yang menjadi tokoh utama dalam novel surat kecil untuk Tuhan. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga wajah cantiknya menjadi terlihat buruk seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, gadis yang akrab dipanggil Keke ini terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.

Ayah beserta keluarga Keke merahasiakan kanker itu pada Keke. Namun, akhirnya Keke tau bahwa ia terserang kanker ganas tersebut, ia pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit mematikan itu darinya. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas panjang padanya untuk lepas dari kanker itu untuk sesaat.

Sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah untuk kesembuhan putrinya. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya dapat terlepas dari penyakit itu dan vonis kematian putrinnya. Ayahnya berusaha mencari berbagai pengobatan alternatif dan berkeliling ke seluruh Indonesia, namun hasilnya nihil. Mau tidak mau, ayahnya harus kembali ke jalur pengobatan medis menurut dokter, ada cara lain untuk menyembuhkan kanker itu yaitu dengan kemoterapi.

Perjuangan melawan kanker membuahkan hasil, Keke mendapat kesempatan untuk sembuh setelah bertahan 6 bulan melalui kemoterapi. Namun kanker itu kembali menggerogoti tubuh Keke. Kanker itu datang lagi dengan lokasi berbeda, yaitu di pelipis matanya sebelah kanan. Kemudian berbagai pengobatan dilakukan lagi oleh sang Ayah. Waktupun berlalu dan kondisi Keke tak kunjung membaik hingga akhirnya ia harus rawat inap lagi di RSCM dan mengalami koma selama 3 hari.

Lalu, dokter menyerah terhadap kankernya. Di nafas terakhirnya ia menuliskan sebuah surt kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanya, dan terjadi pada siapapun. Nafasnya telah berakhir pada 25 Desember 2006 tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri terakhir  bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Novel ini dapat membuat pembaca terhanyut dalam kisah yang diceritakan. Kisah yang diangkat dari kehidupan nyata ini sangatlah menyentuh bagi siapapun yang membacanya. Novel ini juga melampirkan beberapa foto perjuangan Keke dalam melawan kanker ganas hingga foto sahabat-sahabat Keke di pemakaman saat Keke menghadap sang pencipta.

Namun, masih ada penulisan yang salah juga ada penulisan yang kurang menarik dan sulit dimengerti. Selain itu, kata-kata yang digunakan penulis kadang membuat pembaca berimajinasi lain dalam menafsirkan kata-kata kiasan tersebut.

Novel Surat Kecil Untuk Tuhan mengajarkan kita agar ikhlas dan selalu tabah dalam menerima dan menghadapi cobaan dari Tuhan serta yakin bahwa setiap cobaan pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Kita juga harus selalu bersyukur dan menjaga kesehatan yang telah diberikan Tuhan. Karena di luar sana masih banyak orang-orang yang ingin sehat seperti kita saat ini.*

* Yulinda – XI MIPA-1 / SMADA 38

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.