Tentang Pengendali Waktu

Miss You 2 by Akashay Avsare

Yang paling ku rindukan bilamana senja mulai malu kemudian terbenam
Ialah hembusan nafasmu yang karam, dengan tatapan yang tak akan padam
Diselingi hembus angin malam yang hilang mengantar impian
Juga basa-basi kita yang haus kemudian tenggelam
Diseka langit di genting kota seberang yang turut mengaminkan
Janjimu, untuk terus mengarungi derasnya aliran waktu bersamaku

Pagi menjelang ku teguk selaksa rintik hujan
Berangkat meretas ilmu, melahap rutinitas, menerjang dengan sengalnya nafas
Sesak keluk bus patas, juga riuh redam lalu lintas
Begitu membekas, mengingatkanku pada hari dimana aku merasa bosan
Hingga kau nyawai lagi, mimpi-mimpi di hati
Gelora menjadi lentera nyala api, ego tersesak ikhlas tak bertepi

Kau bilang ada kau
Diorama hidup milikku, dalam manis getir bersama
Kala petang diseka pagi, saat gersang digerus subur
Kau bilang, hidup it uterus berotasi
Jangan aku ikut berputar, tapi ku buatlah putaran, nikmati jatuhku.

Kau ingatkan mungkin kita tak sedarah mungkin kita tak selalu searah
Namun kau bilang hati kita harus selalu mengarah
Menuju sukses bersama di hari esok yang cerah

Sahabatku, ini aku
Si Gundah yang kini selaju busur panah
Refleksi dari semangatmu, tatapan penuh harap itu
Sekarang kau dimana? Rinduku seteguh sabana
Setajam sorot mata penjual gorengan kala kau bilang satu namun kau jumput tiga
Serapuh butir salju yang bergulir hampa dalam kerumun senja

Waktuku melaju menggulung siapa saja yang memaksa singgah
Atau sekedar jengah dalam detik kejap jeratan mata
Bagai pelupuk sampah di ujung pikiran yang tertimbun dan tak jenak dituai tunggu
Hanya membisu dikubur gundah dalam deret rapi lembaran ragu

Sampai bertemu dari diriku yang sedia menunggu, di batas waktu
Yang lega menghela nafas sejenak usai dihujam derasnya pusaran angin lalu
Dari diriku yang gusar tak sabar mendengar cerita tawamu esok nanti
Seusai kita lalui badai hujan di tepian senja tempo hari

Sahabatku, ini aku
Refleksi dari bongkahan semangat yang kau titipkan kala dahulu
Ia melesat bagai rinduku dalam secepat jalinan waktu
Namun jika sempat tak lagi sepakat
Bagi detik-detik waktu yang telanjur gugur berlalu
Masih adakah kamu, untuk kembali merangkainya bersamaku di lain waktu?
Aku rindu*

* Salfa Nefitka Salsabila – XII IPS / SMADA 37

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.